Rencana Pemusnahan Senjata Nuklir Dunia Meleset, Sekjen PBB Salahkan Perang Rusia-Ukraina

AKURAT.CO, Rencana pemusnahan senjata nuklir dunia telah meleset akibat ancaman nuklir yang berasal dari perang di Ukraina serta di Asia dan Timur Tengah. Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada pembukaan rapat peninjauan Perjanjian Non-Proliferasi (NPT) pada Senin (1/8).
Dilansir dari Al Jazeera, peninjauan NPT digelar per 5 tahun untuk mencegah penyebaran senjata nuklir dan akhirnya mencapai kesepakatan dunia bebas nuklir. Pertemuan ini seharusnya diadakan pada 2020, tetapi tertunda karena pandemi Covid-19.
Dalam pidatonya, Guterres mengatakan bahwa konferensi peninjauan yang berakhir pada 26 Agustus itu diadakan pada saat bahaya nuklir kembali mengintai sejak puncak Perang Dingin.
"Pertemuan ini adalah kesempatan untuk menuntaskan langkah-langkah yang akan membantu menghindari bencana tertentu dan untuk menempatkan umat manusia di jalur baru menuju dunia yang bebas dari senjata nuklir," tuturnya.
Namun, ia memperingatkan senjata geopolitik ini telah mencapai level tertinggi. Hampir 13 ribu senjata nuklir berada di gudang senjata di seluruh dunia dan sejumlah negara mencari 'keamanan palsu' dengan menghabiskan ratusan miliar dolar demi 'senjata kiamat'.
"Kita sangat beruntung sejauh ini. Tapi keberuntungan bukanlah strategi, juga bukan tameng dari ketegangan geopolitik yang memuncak menjadi konflik nuklir," tambahnya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Antony Blinken menyoroti Korea Utara yang sedang bersiap untuk melakukan uji coba nuklir ke-7, Iran yang enggan untuk menerima kesepakatan guna kembali ke perjanjian nuklir 2015 untuk mengekang program nuklirnya, dan Rusia yang terlibat serangan senjata nuklir yang sembrono dan berbahaya di Ukraina.
Ia mengutip peringatan Presiden Rusia Vladimir Putin setelah menginvasi Ukraina pada 24 Februari. Pada saat itu, Putin mengancam konsekuensi 'yang belum pernah dilihat' untuk setiap upaya ikut campur. Menurut Blinken, ini menegaskan Rusia sebagai salah satu kekuatan nuklir paling kuat.
"Ini bertentangan dengan jaminan yang diberikan kepada Ukraina tentang kedaulatan dan kemerdekaannya ketika menyerahkan senjata nuklir era Soviet pada 1994. Ini juga mengirim 'pesan terburuk' ke negara lainnya yang berpikir mereka butuh senjata nuklir untuk mempertahankan diri dan mencegah agresi," ujar Blinken.
Sementara itu, menurut Putin, tak akan ada pemenang dalam perang nuklir dan tak boleh ada yang memulainya.
"Kami berpegang pada fakta bahwa tak ada pemenang dalam perang nuklir dan itu tak boleh dilepaskan. Kami mendukung kesetaraan keamanan dan tak terpisahkan untuk semua anggota komunitas dunia," ucapnya.
Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida, yang negaranya mengalami 2 ledakan bom atom oleh AS selama Perang Dunia II, juga ikut angkat bicara. Menurutnya, perpecahan di dunia sejak konferensi peninjauan terakhir pada 2015 menjadi lebih besar. Ia menekankan bahwa ancaman Rusia untuk menggunakan senjata nuklir dalam perang Ukraina telah membuat dunia khawatir akan bencana lain atas potensi nyata penggunaan senjata nuklir.
Pernyataan serupa disampaikan Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi.
"Konflik Ukraina begitu parah, sehingga momok potensi konfrontasi nuklir atau kecelakaan kembali mengkhawatirkan," tuturnya.
Ia memperingatkan bahwa situasi di pembangkit nuklir Zaporizhzhia menjadi semakin berbahaya dari hari ke hari. Semua negara pun didesaknya untuk membantu memungkinkan kunjungannya ke fasilitas itu bersama tim pakar keselamatan dan keamanan IAEA.
Berlaku sejak 1970, Perjanjian Non-Proliferasi (NPT) dipatuhi sekitar 191 negara yang menjadi anggota atas kontrol senjata. Berdasarkan kesepakatan itu, 5 kekuatan nuklir, yaitu AS, China, Rusia, Inggris, dan Prancis setuju untuk bernegosiasi guna melenyapkan senjata nuklir mereka suatu hari nanti. Sementara itu, negara-negara tanpa senjata nuklir berjanji tak akan memperolehnya dengan imbalan jaminan untuk dapat mengembangkan energi nuklir untuk tujuan damai.
India dan Pakistan yang tak ikut NPT terus mengembangkan senjata nuklir, begitu juga Korea Utara yang meratifikasi pakta tersebut, tetapi kemudian mengumumkan akan menarik diri. Israel yang tak menandatanganinya diyakini punya persenjataan nuklir, tetapi tak mengiyakannya maupun menyangkalnya. []
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.





