Akurat

Teori Pembentukan Bumi yang Paling Diterima Oleh Ilmuwan hingga Saat Ini

Eko Krisyanto | 25 Desember 2025, 17:26 WIB
Teori Pembentukan Bumi yang Paling Diterima Oleh Ilmuwan hingga Saat Ini

AKURAT.CO Bumi merupakan satu-satunya planet yang diketahui mampu menopang kehidupan hingga saat ini.

Keberadaannya yang kompleks, mulai dari lapisan atmosfer, kerak bumi, hingga ekosistem beragam, menimbulkan pertanyaan besar: bagaimana sebenarnya bumi terbentuk? Pertanyaan ini telah lama menjadi perhatian para ilmuwan dari berbagai bidang, khususnya astronomi dan geologi.

Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, berbagai teori mengenai pembentukan bumi pun bermunculan.

Namun, tidak semua teori tersebut memiliki dasar ilmiah yang kuat. Dari sekian banyak gagasan yang dikemukakan, hanya beberapa teori yang masih dianggap relevan dan didukung oleh bukti ilmiah modern.

Salah satu di antaranya bahkan menjadi teori yang paling diterima oleh para ilmuwan hingga saat ini.

Sebelum mengetahui teori yang paling diterima, penting untuk memahami bahwa pembentukan bumi tidak dapat dilepaskan dari proses terbentuknya tata surya.

Beberapa teori utama yang pernah dikemukakan antara lain:

1. Teori Nebula

Teori pembentukan bumi yang paling diterima oleh para ilmuwan saat ini adalah teori nebula. Teori ini menyatakan bahwa tata surya, termasuk bumi, terbentuk dari awan besar gas dan debu kosmik yang disebut nebula.

Awan tersebut mengalami keruntuhan akibat gaya gravitasi, kemudian berputar dan memadat.

Dalam proses ini, sebagian besar materi nebula terkonsentrasi di pusat dan membentuk matahari. Sementara itu, sisa materi yang berada di sekelilingnya membentuk cakram piringan.

Dari cakram inilah partikel-partikel kecil mulai saling bertumbukan dan menyatu melalui proses akresi, membentuk gumpalan yang semakin besar hingga akhirnya menjadi planet, termasuk bumi.

Teori ini dianggap paling kuat karena mampu menjelaskan keteraturan orbit karena mampu menjelaskan keteraturan orbit planet dan didukung oleh pengamatan terhadap sistem bintang muda.

2. Teori Planetesimal

Teori planetesimal menjelaskan bahwa planet terbentuk dari benda-benda kecil padat yang disebut planetesimal.

Benda-benda ini berasal dari materi matahari yang tertarik keluar akibat pengaruh bintang lain yang melintas dekat. Planetesimal kemudian saling bertabrakan dan bergabung membentuk planet, salah satunya bumi.

Meskipun teori ini membantu menjelaskan proses pembentukan planet dalam skala kecil, teori planetesimal dianggap kurang lengkap karena tergantung pada peristiwa langka, seperti kedekatan matahari dengan bintang lain, yang jarang terjadi di alam semesta.


3. Teori Pasang Surut (Tidal Theory)

Teori pasang surut menyatakan bahwa pembentukan planet terjadi akibat gaya tarik gravitasi bintang besar yang melintas dekat matahari.

Gaya tarik tersebut menyebabkan sebagian materi matahari tertarik keluar dan mendingin, lalu membentuk planet-planet, termasuk bumi.

Teori ini kurang diterima karena materi panas dari matahari dianggap sulit untuk mendingin dan membentuk planet padat seperti bumi.

Selain itu, teori ini tidak mampu menjelaskan keteraturan orbit planet secara menyeluruh.

4. Teori Awan Debu

Teori awan debu menyebutkan bahwa tata surya berasal dari kumpulan debu dan gas yang sangat halus.

Debu-debu tersebut saling bertumbukan dan bergabung membentuk gumpalan besar akibat gaya gravitasi. Gumpalan ini kemudian berkembang menjadi matahari dan planet-planet seperti bumi.

Teori ini memiliki kemiripan dengan teori nebula, tetapi tidak menjelaskan secara rinci proses dinamika pembentukan planet dan struktur tata surya.

Oleh karena itu, teori awan debu lebih dianggap sebagai pelengkap daripada teori utama.

5. Teori Big Bang

Teori big bang sering disalahartikan sebagai teori pembentukan bumi. Padahal, teori ini menjelaskan asal mula alam semesta secara keseluruhan, bukan pembentukan planet secara langsung.

Namun, big bang berperan penting karena menjadi awal terbentuknya materi yang kemudian membentuk galaksi, bintang, dan akhirnya tata surya.

Dengan kata lain, big bang menjadi fondasi awal sebelum proses pembentukan bumi terjadi melalui teori nebula dan akresi.

Proses Akresi dalam Pembentukan Bumi

Pembentukan bumi tidak terjadi secara instan. Proses utamanya dikenal dengan istilah akresi, yaitu penggabungan partikel-partikel kecil menjadi benda yang lebih besar melalui tumbukan DNA gravitasi.

Debu kosmik berubah menjadi planetesimal, kemudian berkembang menjadi protoplanet.

Bumi yang masih muda pada masa itu mengalami banyak tumbukan dengan benda langit lain. Tumbukan tersebut menghasilkan panas yang sangat tinggi, menyebabkan sebagian bumi berada dalam kondisi cair.

Seiring waktu, suhu mulai menurun dan terbentuklah lapisan-lapisan bumi seperti inti, mantel, dan kerak.

Mengapa Teori Nebula Dianggap Paling Logis dan Diterima Oleh Ilmuwan?

Teori nebula dianggap paling logis karena mampu menjelaskan banyak fenomena yang diamati hingga saat ini.

Misalnya, orbit planet yang berada pada satu bidang dan arah yang relatif sama, serta keberadaan cakram debu di sekitar bintang-bintang muda yang sedang diamati oleh teleskop modern.

Selain itu, usia batuan tertua di bumi dan meteorit yang ditemukan juga selaras dengan perkiraan usia tata surya, yaitu sekitar 4,5 miliar tahun.

Keselarasan antara teori, observasi, dan data geologis inilah yang membuat teori nebula menjadi landasan utama dalam menjelaskan pembentukan bumi.

Pembentukan bumi merupakan proses panjang yang melibatkan berbagai tahapan kompleks. Dari banyak teori yang pernah dikemukakan, teori nebula menjadi teori yang paling diterima oleh ilmuwan karena didukung oleh bukti observasi, data geologi, dan prinsip fisika modern.

Melalui teori ini, dapat dipahami bahwa bumi terbentuk dari awan gas dan debu kosmik yang mengalami pemadatan dan akresi selama miliaran tahun.

Pemahaman mengenai teori pembentukan bumi tidak hanya menambah wawasan tentang asal-usul planet kita tetapi juga membantu manusia memahami proses besar yang terjadi di alam semesta.

Laporan: Vania Tri Yuniar/magang

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
W
Editor
Wahyu SK