Sejarah Dinasti Qing: Masa Kejayaan hingga Keruntuhan Kekaisaran Tiongkok

AKURAT.CO Dinasti Qing merupakan dinasti terakhir yang memerintah Tiongkok selama hampir tiga abad sebelum akhirnya runtuh pada awal abad ke-20. Kekaisaran ini mengalami masa kejayaan dan perluasan wilayah, namun juga menghadapi tantangan besar yang akhirnya membuatnya tidak mampu bertahan sebagai penguasa tunggal Tiongkok.
Keruntuhan Dinasti Qing menandai berakhirnya sistem kekaisaran ribuan tahun di Tiongkok dan
membuka jalan bagi pembentukan Republik Tiongkok pada tahun 1912. Peristiwa ini menjadi titik balik besar dalam sejarah negara dengan peradaban kuno tersebut.
Latar Belakang dan Kejayaan Awal Dinasti Qing
Dinasti Qing berdiri pada tahun 1644 setelah bangsa Manchu berhasil menggulingkan Dinasti Ming. Kekuasaan baru ini awalnya menghadapi penolakan, tetapi mampu mengonsolidasikan kekuatan secara bertahap.
Pada masa awal pemerintahan, Qing menerapkan sistem birokrasi yang relatif stabil dan mempertahankan banyak tradisi Konfusianisme untuk menarik dukungan rakyat Han.
Wilayah kekaisaran meluas hingga Asia Tengah, Tibet, dan Mongolia, menjadikan Qing sebagai salah satu kekaisaran terbesar dalam sejarah Tiongkok.
Stabilitas politik dan pertumbuhan penduduk pada abad ke-17 dan ke-18 menandai periode
kejayaan sebelum berbagai krisis muncul di kemudian hari.
Baca Juga: Diklaim Berumur 135 Tahun, Orang Tertua China yang Lahir Era Dinasti Qing Tutup Usia
Tekanan Kekuatan Barat dan Perdagangan Opium
Salah satu faktor penting yang memperlemah Dinasti Qing adalah intervensi negara-negara Barat
melalui perdagangan opium.
Inggris, khususnya, memaksa masuknya opium ke pasar Tiongkok, yang kemudian menyebabkan kecanduan massal serta defisit perdagangan besar.
Pemerintah Qing, yang berusaha melarang perdagangan ini, terlibat dalam Perang Opium pertama
dan kedua melawan Inggris. Kekalahan dalam konflik ini memaksa mereka menandatangani perjanjian tidak adil, yang dikenal sebagai “Perjanjian Noks” (unequal treaties), sehingga menyerahkan hak atas wilayah dan perdagangan kepada kekuatan Barat.
Krisis Ekonomi dan Ketidakpuasan Rakyat
Tekanan luar negeri diperparah oleh kondisi ekonomi dalam negeri yang memburuk. Rakyat Tiongkok menghadapi kemiskinan, kelaparan, dan beban pajak yang berat, yang membuat ketidakpuasan terhadap pemerintah Qing semakin meningkat.
Hal ini memicu bangkitnya kelompok-kelompok pemberontak seperti Pemberontakan Taiping, yang
merupakan salah satu konflik paling berdarah di abad ke-19. Pemberontakan ini menelan jutaan nyawa dan memperlemah struktural pemerintahan Qing secara signifikan.
Menjelang akhir abad ke-19, Pemerintah Qing mencoba melakukan reformasi dalam upaya
modernisasi militer, pendidikan, dan birokrasi.
Upaya ini dikenal sebagai Reformasi Seratus Hari, yang bertujuan menutup ketertinggalan Tiongkok dari kekuatan industri Barat.
Sayangnya, perubahan ini datang terlambat dan menghadapi perlawanan dari pihak konservatif
dalam pemerintahan.
Ketidakmampuan untuk menerapkan reformasi secara efektif membuat Dinasti Qing tetap rapuh menghadapi tekanan zaman.
Kebangkitan Nasionalisme dan Gerakan Revolusioner
Awal abad ke-20 ditandai dengan mekarnya semangat nasionalisme di kalangan rakyat Tiongkok,
terutama di kalangan kaum terpelajar dan militer. Mereka mulai menyadari bahwa sistem kekaisaran tidak lagi mampu menjawab tantangan modern.
Tokoh penting seperti Sun Yat-sen muncul sebagai pemimpin gerakan revolusioner yang menyerukan penggulingan Qing dan pembentukan republik. Ide-ide baru tentang demokrasi dan nasionalisme semakin menyebar luas di masyarakat.
Lahirnya Republik Tiongkok dan Akhir Dinasti Qing
Puncaknya terjadi pada 1911, ketika pemberontakan meluas ke sejumlah wilayah, yang kemudian
dikenal sebagai Revolusi Xinhai. Kekaisaran Qing kehilangan kendali atas banyak daerah, dan rakyat semakin menuntut perubahan besar.
Pada tahun 1912, kaisar terakhir, Puyi, dipaksa turun takhta, sehingga secara resmi mengakhiri lebih dari dua ribu tahun pemerintahan kekaisaran di Tiongkok.
Republik Tiongkok kemudian diproklamasikan, menandai era baru dalam sejarah negara tersebut.
Baca Juga: Rekam Jejak Bagus, Dinasti Nusantara Tegaskan Indonesia Butuh Ganjar Pranowo untuk Bangkitkan Budaya
Dampak Jatuhnya Qing terhadap Tiongkok dan Dunia
Kehancuran Dinasti Qing tidak hanya membawa perubahan besar secara politik di Tiongkok, tetapi
juga membuka pintu bagi modernisasi dan reformasi sosial yang lebih luas.
Kekuasaan baru Republik Tiongkok kemudian berusaha membangun negara modern. Peristiwa ini turut menginspirasi gerakan nasionalisme di Asia lainnya dan menandai berakhirnya era kekaisaran di Asia Timur.
Banyak negara lain juga sedang mengalami perubahan serupa akibat tekanan kolonial dan
modernisasi.
Amalia Febriyani (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









