Akurat

Perbedaan Banjir Biasa dan Bandang, Ketahui Ciri dan Penyebabnya

Ratu Tiara | 18 Desember 2025, 17:56 WIB
Perbedaan Banjir Biasa dan Bandang, Ketahui Ciri dan Penyebabnya

AKURAT.CO Banjir merupakan salah satu bencana alam yang paling sering terjadi di Indonesia, terutama saat musim hujan tiba.

Meski sama-sama disebabkan oleh meluapnya air, banjir tidak selalu memiliki bentuk dan dampak yang sama.

Ada banjir biasa yang cenderung terjadi perlahan dan menyebabkan genangan air dalam waktu lama, serta ada banjir bandang yang datang mendadak dengan arus deras yang membawa material seperti lumpur dan batu.

Kedua jenis banjir ini sering kali menimbulkan kerusakan besar, tetapi karakteristik dan penyebabnya berbeda.

Untuk memahami lebih jauh, artikel ini akan membahas perbedaan antara banjir biasa dan banjir bandang serta langkah pencegahan yang dapat dilakukan masyarakat.

Baca Juga: Apa Hubungan Deforestasi dengan Meningkatnya Banjir Bandang? Ini Penjelasan Lengkapnya

Apa Itu Banjir Biasa

Banjir biasa terjadi ketika volume air hujan melebihi kapasitas tanah atau saluran drainase untuk menampungnya.

Air kemudian meluap dan menggenangi permukaan tanah, terutama di daerah dataran rendah dan perkotaan. Biasanya, banjir jenis ini muncul secara perlahan dan memberi waktu bagi masyarakat untuk bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.

Menurut keterangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), banjir biasa sering kali disebabkan oleh curah hujan tinggi yang berlangsung lama, saluran air tersumbat, serta berkurangnya area resapan akibat pembangunan. Dampaknya meliputi rusaknya infrastruktur, gangguan transportasi, hingga meningkatnya risiko penyakit seperti leptospirosis.

Baca Juga: Bakrie Tanggap Berhasil Jangkau Wilayah Aceh yang Terisolasi Akibat Banjir Bandang

Apa Itu Banjir Bandang

Berbeda dengan banjir biasa, banjir bandang terjadi secara tiba-tiba dan memiliki kekuatan arus yang sangat besar.

Air yang datang bukan hanya membawa volume besar, tetapi juga lumpur, batu, dan material lain dari daerah hulu. Banjir jenis ini umumnya terjadi di wilayah perbukitan atau pegunungan dengan kondisi tanah yang tidak stabil.

Banjir bandang bisa dipicu oleh curah hujan ekstrem di hulu sungai, longsor yang menutup aliran air, atau jebolnya bendungan. Karena kejadiannya mendadak, banjir bandang sering kali tidak memberi waktu bagi warga untuk menyelamatkan diri, sehingga potensi korban jiwa lebih besar dibandingkan banjir biasa.

Perbedaan Utama Banjir Biasa dan Banjir Bandang

Kecepatan Terjadinya

Banjir biasa terjadi secara perlahan. Genangan air biasanya muncul setelah hujan berlangsung lama dan membutuhkan waktu berjam-jam hingga berhari-hari untuk surut.

Warga masih memiliki kesempatan untuk mengevakuasi barang berharga atau mencari tempat aman.

Sebaliknya, banjir bandang datang dalam waktu sangat singkat. Air bisa meluap dalam hitungan menit setelah hujan lebat di daerah hulu. Arus air yang deras membuat banjir bandang jauh lebih berbahaya dan sulit diantisipasi.

Penyebab Utama

Banjir biasa disebabkan oleh sistem drainase yang tidak berfungsi baik, saluran air tersumbat, serta minimnya ruang hijau yang dapat menyerap air hujan.

Di wilayah perkotaan, masalah sampah yang menumpuk di selokan juga menjadi faktor utama penyebab genangan.

Sementara itu, banjir bandang umumnya dipicu oleh kondisi alam di daerah pegunungan.

Hujan deras yang mengguyur wilayah hulu menyebabkan penumpukan air yang kemudian turun ke bawah dengan cepat. Longsor dan kerusakan hutan turut memperparah risiko terjadinya banjir bandang.

Dampak yang Ditimbulkan

Banjir biasa mengakibatkan genangan air di permukiman dan menimbulkan kerugian ekonomi seperti rusaknya rumah dan fasilitas umum. Meskipun tidak terlalu deras, banjir ini bisa berlangsung lama sehingga menghambat aktivitas masyarakat.

Banjir bandang memiliki dampak yang jauh lebih destruktif. Selain menghancurkan bangunan dan infrastruktur, arus airnya yang kuat dapat menyeret kendaraan, pohon, hingga menyebabkan korban jiwa.

Wilayah yang Rentan

Banjir biasa lebih sering terjadi di daerah perkotaan atau dataran rendah yang memiliki sistem drainase buruk.

Wilayah padat penduduk dengan banyak permukaan tertutup semen juga lebih berisiko mengalaminya.

Sebaliknya, banjir bandang kerap terjadi di daerah perbukitan atau pegunungan yang memiliki kemiringan tanah curam. Daerah yang telah mengalami deforestasi atau pembukaan lahan secara berlebihan juga lebih rawan mengalami bencana ini.

Cara Mengantisipasi Risiko Banjir

1. Menjaga Kebersihan Saluran Air

Langkah paling dasar untuk mencegah banjir adalah memastikan saluran air tetap bersih. Sampah yang menumpuk di selokan dapat menyumbat aliran air dan menyebabkan genangan saat hujan deras.

2. Tidak Membuang Sampah ke Sungai

Kebiasaan membuang sampah sembarangan menjadi salah satu penyebab utama banjir di wilayah perkotaan. Dengan menjaga kebersihan sungai, masyarakat turut membantu mengurangi risiko luapan air saat curah hujan tinggi.

3. Menanam Pohon dan Memperbanyak Ruang Hijau

Pohon memiliki peran penting dalam menyerap air hujan dan menahan tanah agar tidak mudah longsor. Penanaman pohon di daerah perbukitan juga dapat membantu mencegah banjir bandang.

4. Memantau Informasi Cuaca

Masyarakat disarankan untuk rutin memantau prakiraan cuaca dari BMKG, terutama saat musim hujan.

Dengan mengetahui potensi hujan ekstrem, warga dapat lebih siap menghadapi kemungkinan bencana.

5. Mengenali Jalur Evakuasi

Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan banjir, penting untuk mengetahui jalur evakuasi dan lokasi tempat pengungsian terdekat. Langkah ini dapat membantu menyelamatkan diri saat bencana datang tiba-tiba.

Nadira Maia Arziki (Magang)

 
 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
R