AKURAT.CO Kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II menjadi salah satu peristiwa terbesar dalam sejarah dunia.
Meskipun sempat unggul di awal peperangan, Jepang akhirnya harus menyerah di hadapan Sekutu, terutama Amerika Serikat.
Kekalahan ini dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari keterbatasan ekonomi, strategi militer yang tidak efektif, hingga serangan besar yang mematikan di akhir perang.
Baca Juga: Konser Artis Jepang di Shanghai Mendadak Dibatalkan, Diduga Terakit Ketegangan China-Jepang
Serangan Amerika Serikat dan Bom Atom
Penyebab utama yang mempercepat kekalahan Jepang adalah serangan mendadak dari Amerika Serikat yang sama sekali tidak diprediksi sebelumnya.
Pada 6 dan 9 Agustus 1945, AS menjatuhkan bom atom di dua kota padat penduduk, Hiroshima dan Nagasaki.
Dampaknya sangat menghancurkan, dengan sekitar 2,5 juta jiwa meninggal dunia, sementara jutaan lainnya harus hidup dalam penderitaan jangka panjang akibat radiasi.
Akhirnya, Jepang mengakui kekalahannya secara resmi pada 2 September 1945 di atas kapal USS Missouri, Teluk Tokyo.
Penyerahan itu dilakukan oleh Mamoru Shigemitsu dan Jenderal Umezu melalui Deklarasi Potsdam. Momentum ini menandai berakhirnya dominasi Jepang dalam perang sekaligus menjadi titik balik sejarah dunia.
Baca Juga: Selamat dari Tragedi Bom Atom, 2 Gedung Bersejarah di Hiroshima Bakal Dirobohkan
Faktor-Faktor yang Menyebabkan Kekalahan Jepang
1. Keterbatasan Ekonomi dan Industri
Secara industri, Jepang tidak sekuat Jerman atau Amerika Serikat.
Perekonomiannya lebih menyerupai Italia, dengan tentara yang kurang dilengkapi peralatan modern, minim mekanisasi, dan persenjataan terbatas.
Hal ini mungkin cukup efektif saat melawan pasukan kolonial di Asia Tenggara, tetapi tidak mampu menghadapi kekuatan militer besar seperti AS dan Inggris.
2. Kekurangan Sumber Daya Alam
Minimnya sumber daya, terutama minyak, menjadi kendala serius bagi Jepang.
Mereka bergantung pada impor dari wilayah koloninya, namun hasilnya jauh dari cukup.
Serangan kapal selam Sekutu juga menenggelamkan banyak kapal tanker.
Akibatnya, Jepang tidak mampu mengoperasikan angkatan laut, udara, maupun daratnya secara maksimal.
3. Strategi Militer yang Lemah
Jepang menerapkan strategi perang yang menekankan serangan cepat, mendadak, dan jumlah pasukan besar.
Awalnya berhasil mengejutkan musuh, tetapi strategi ini tidak efektif menghadapi lawan dengan pertahanan kuat dan persenjataan modern.
Contoh kekalahan besar Jepang:
-
Bougainville (Torokina): 9.000 prajurit Jepang gugur, sementara AS hanya kehilangan 263 orang.
-
Guadalcanal: Jepang kalah dalam pertempuran besar, dengan ribuan korban jiwa berbanding ratusan di pihak AS.
-
Nugini dan Burma: Pasukan Jepang hancur menghadapi tentara India-Inggris yang lebih siap dan terlatih.
4. Kelemahan di Udara
Di awal perang, Jepang unggul dengan pesawat tempur handal dan pilot berpengalaman. Namun, mereka tidak memiliki sistem rotasi, sehingga pilot terbaik terus dikirim hingga gugur.
Jepang juga kekurangan bahan bakar untuk melatih pilot baru.
Walaupun berhasil membuat pesawat berkualitas, keterbatasan industri membuat produksi massal sulit dilakukan.
5. Angkatan Laut yang Terdesak
Angkatan Laut Jepang sempat mendominasi di awal perang, tetapi kerugian besar tidak dapat dipulihkan.
Sementara itu, Amerika Serikat terus memperkuat armada perangnya.
Pada 1942, Angkatan Laut AS bahkan melampaui kekuatan gabungan angkatan laut dunia, membuat Jepang semakin terdesak di medan laut.