Akurat

Mengapa Lapisan Atmosfer Tampak Biru ketika Dilihat dari Luar Angkasa? Begini Penjelasan Lengkap Menurut Sains

Idham Nur Indrajaya | 11 November 2025, 16:45 WIB
Mengapa Lapisan Atmosfer Tampak Biru ketika Dilihat dari Luar Angkasa? Begini Penjelasan Lengkap Menurut Sains

 

AKURAT.CO Pernahkah kamu menatap langit cerah di siang hari dan bertanya-tanya, kenapa warnanya biru, bukan putih seperti sinar matahari atau hitam seperti luar angkasa? Fenomena ini ternyata bukan sekadar keajaiban alam biasa, melainkan hasil dari proses ilmiah yang rumit dan menakjubkan di atmosfer Bumi.

Padahal, jika kita lihat dari luar angkasa, langit tampak gelap dan hitam. Namun, begitu sinar Matahari masuk ke atmosfer Bumi, langit seketika berubah menjadi biru. Lalu, apa yang sebenarnya membuat atmosfer tampak berwarna biru ketika dilihat dari permukaan Bumi?

Untuk menjawabnya, kita perlu memahami bagaimana cahaya Matahari bekerja, apa peran atmosfer dalam proses ini, dan bagaimana mata manusia menangkap warna tersebut.


Peran Gelombang Cahaya dalam Warna Langit

Sumber utama cahaya di alam semesta adalah Matahari. Cahaya yang dipancarkannya sebenarnya tidak berwarna, melainkan putih. Namun, warna putih ini merupakan gabungan dari berbagai spektrum warna — sama seperti warna pelangi.

Ketika cahaya putih dari Matahari masuk ke atmosfer Bumi, ia tidak serta-merta langsung mencapai permukaan tanah. Lapisan atmosfer yang terdiri dari berbagai gas seperti nitrogen, oksigen, karbon dioksida, dan partikel kecil lainnya akan membiaskan serta memecah cahaya tersebut menjadi beberapa gelombang warna.

Bayangkan atmosfer Bumi seperti prisma kaca dalam percobaan fisika. Saat cahaya melewati prisma, ia akan terurai menjadi beberapa warna — merah, jingga, kuning, hijau, biru, hingga ungu. Warna merah memiliki panjang gelombang paling panjang, sedangkan biru dan violet (ungu) memiliki panjang gelombang paling pendek.

Nah, gelombang yang lebih pendek inilah (biru dan violet) yang cenderung lebih mudah terhambur di udara, sedangkan gelombang panjang (merah dan kuning) cenderung menembus atmosfer lebih jauh. Akibatnya, sebagian besar cahaya yang menyebar di langit adalah gelombang pendek, yaitu warna biru.


Kenapa Warna Biru yang Terlihat, Bukan Ungu?

Secara teori, cahaya violet atau ungu seharusnya lebih banyak tersebar karena memiliki panjang gelombang yang lebih pendek dibanding biru. Namun, ada dua alasan mengapa mata manusia justru melihat langit berwarna biru:

  1. Intensitas cahaya violet lebih rendah dibandingkan biru dalam spektrum cahaya Matahari.

  2. Mata manusia lebih sensitif terhadap warna biru daripada violet.

Artinya, meskipun cahaya ungu juga tersebar, penglihatan manusia tidak cukup kuat untuk menangkapnya. Oleh karena itu, langit tampak dominan biru di mata kita.


Teori Rayleigh: Kunci Ilmiah di Balik Warna Langit

Fenomena penyebaran cahaya ini dikenal dengan istilah Hamburan Rayleigh atau Rayleigh Scattering, dinamai dari ilmuwan Inggris, Lord Rayleigh.

Teori ini menjelaskan bahwa intensitas hamburan cahaya berbanding terbalik dengan pangkat empat panjang gelombangnya. Secara sederhana, semakin pendek panjang gelombang cahaya, semakin besar pula hamburan yang terjadi.

Warna biru dan violet memiliki panjang gelombang yang pendek, sehingga keduanya paling banyak terhambur ketika sinar Matahari melewati atmosfer Bumi. Namun, karena penglihatan manusia lebih peka terhadap biru, maka langit terlihat biru terang di siang hari.

Itulah sebabnya, ketika Matahari terbit atau terbenam, langit berubah menjadi oranye atau kemerahan. Pada saat itu, cahaya Matahari harus melewati lapisan atmosfer yang lebih tebal, sehingga gelombang cahaya pendek seperti biru dan ungu lebih banyak tersebar keluar jalur pandangan kita, meninggalkan warna panjang seperti merah dan jingga yang lebih dominan terlihat.


Luar Angkasa yang Gelap: Mengapa Berbeda dengan Langit Bumi?

Beralih ke luar angkasa, pemandangannya justru kontras: hitam, gelap, dan seolah tanpa warna. Padahal, di sana juga ada sinar Matahari yang sama.

Perbedaannya terletak pada ada atau tidaknya atmosfer. Di luar angkasa, hampir tidak ada partikel gas atau debu yang bisa memantulkan atau menghamburkan cahaya. Itulah sebabnya sinar Matahari di ruang hampa tidak tampak bersinar di segala arah seperti di Bumi.

Kita bisa membayangkannya seperti ini: ketika kamu menyalakan senter di ruangan penuh kabut, cahaya akan terlihat menyebar ke segala arah. Tapi jika kamu menyalakan senter di ruang kosong, cahayanya hanya terlihat di titik yang terkena langsung, sedangkan sekelilingnya tetap gelap. Itulah yang terjadi di luar angkasa.

Selain itu, menurut para ilmuwan, hanya sekitar 4,9 persen isi alam semesta yang terdiri dari materi seperti planet, gas, dan bintang. Sisanya adalah 26,8 persen materi gelap (dark matter) dan 68,3 persen energi gelap (dark energy) — dua komponen misterius yang tidak memantulkan cahaya sama sekali. Itulah yang membuat luar angkasa tampak hitam pekat meski penuh energi.


Kesimpulan: Langit Biru Adalah Cermin Interaksi Alam Semesta

Jadi, mengapa langit tampak biru padahal luar angkasa hitam? Jawabannya ada pada kombinasi tiga faktor utama:

  • Cahaya Matahari yang terdiri dari berbagai spektrum warna,

  • Atmosfer Bumi yang memecah dan menghamburkan cahaya melalui proses Rayleigh Scattering,

  • Kemampuan mata manusia yang lebih peka terhadap warna biru dibanding ungu.

Fenomena ini bukan hanya indah dipandang, tapi juga bukti betapa kompleks dan harmonisnya hubungan antara sinar Matahari, atmosfer, dan kehidupan di Bumi.

Jadi, lain kali kamu menatap langit biru, ingatlah — warna itu bukan sekadar pemandangan indah, tapi hasil dari proses ilmiah luar biasa yang menjaga Bumi tetap hidup dan penuh warna.

Baca Juga: Bintang Paling Terang di Langit Malam yang Harus Kamu Ketahui

Baca Juga: Lapisan Atmosfer yang dapat Memantulkan Gelombang Radio adalah Ionosfer, Simak Penjelasan Berikut!

FAQ


1. Mengapa langit terlihat berwarna biru, padahal cahaya matahari berwarna putih?
Cahaya Matahari sebenarnya terdiri dari berbagai warna (seperti pelangi). Ketika masuk ke atmosfer Bumi, cahaya ini dipecah oleh partikel udara. Warna biru memiliki panjang gelombang paling pendek sehingga paling banyak tersebar di langit, membuatnya tampak biru bagi mata manusia.


2. Apa itu teori Hamburan Rayleigh?
Teori Hamburan Rayleigh (Rayleigh Scattering) adalah penjelasan ilmiah tentang bagaimana cahaya tersebar oleh partikel kecil di atmosfer. Menurut teori ini, semakin pendek panjang gelombang cahaya, semakin besar tingkat hamburannya. Warna biru dan ungu memiliki gelombang pendek, sehingga paling banyak tersebar dan membuat langit tampak biru.


3. Kalau begitu, kenapa langit tidak berwarna ungu atau violet?
Walaupun cahaya ungu juga tersebar lebih kuat dari biru, mata manusia tidak terlalu sensitif terhadap warna ungu. Selain itu, intensitas cahaya violet dalam spektrum Matahari lebih kecil. Akibatnya, warna biru lebih dominan terlihat dibanding ungu.


4. Mengapa langit berubah warna menjadi oranye atau merah saat matahari terbit dan terbenam?
Saat terbit dan terbenam, sinar Matahari harus melewati lapisan atmosfer yang lebih tebal. Cahaya biru dan ungu yang memiliki gelombang pendek lebih banyak tersebar ke luar pandangan kita, menyisakan warna panjang seperti jingga, merah, dan kuning yang lebih kuat terlihat di langit.


5. Mengapa langit di luar angkasa tampak hitam pekat?
Berbeda dengan Bumi, luar angkasa tidak memiliki atmosfer yang bisa menghamburkan cahaya. Karena ruang angkasa adalah ruang hampa tanpa partikel gas atau debu, cahaya Matahari tidak menyebar di segala arah. Akibatnya, langit luar angkasa terlihat gelap dan hitam meskipun disinari Matahari.


6. Apa peran atmosfer dalam membuat langit berwarna biru?
Atmosfer yang terdiri dari nitrogen, oksigen, dan gas lainnya berfungsi seperti prisma yang memecah cahaya putih dari Matahari menjadi berbagai warna. Partikel udara di atmosfer inilah yang menyebabkan gelombang pendek (biru) lebih banyak tersebar ke seluruh arah, membuat langit tampak biru.


7. Apakah laut membuat langit tampak biru?
Tidak. Warna biru pada langit tidak berasal dari pantulan warna laut. Justru sebaliknya, laut terlihat biru karena memantulkan warna langit di permukaannya. Jadi, warna biru di langit murni berasal dari proses hamburan cahaya di atmosfer Bumi.


8. Apa yang akan terjadi jika Bumi tidak memiliki atmosfer?
Tanpa atmosfer, cahaya Matahari tidak akan tersebar. Langit akan tampak hitam seperti di luar angkasa, bahkan di siang hari. Suhu di Bumi juga akan ekstrem, dan kehidupan seperti yang kita kenal sekarang tidak akan mungkin bertahan.


9. Apakah warna langit selalu sama di seluruh dunia?
Tidak selalu. Warna langit bisa sedikit berbeda tergantung pada kondisi atmosfer, tingkat polusi, kelembapan, dan posisi Matahari. Misalnya, langit di daerah berpolusi tinggi bisa tampak keabu-abuan karena partikel debu menghalangi cahaya biru yang tersebar.


10. Mengapa fenomena ini penting dipelajari?
Memahami mengapa langit berwarna biru membantu kita mengenali bagaimana atmosfer bekerja melindungi kehidupan di Bumi. Fenomena ini juga menjadi dasar dalam studi optika, astronomi, dan klimatologi — bidang yang penting untuk memahami perubahan cuaca dan iklim di planet kita.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.