Akurat

Bagaimana Cara Manusia Purba Berburu dan Mengumpulkan Makanan di Zaman Lampau? Berikut Penjelasannya

Idham Nur Indrajaya | 21 Oktober 2025, 17:14 WIB
Bagaimana Cara Manusia Purba Berburu dan Mengumpulkan Makanan di Zaman Lampau? Berikut Penjelasannya

 

AKURAT.CO Jauh sebelum ada pertanian, toko, atau pasar modern, manusia hidup sebagai pemburu-pengumpul. Selama lebih dari 95% sejarah evolusi Homo sapiens, cara hidup ini menjadi kunci bertahan hidup di bumi.

Mereka hidup dalam kelompok kecil yang berpindah-pindah, mengandalkan kombinasi berburu hewan dan mengumpulkan sumber makanan alami seperti umbi, buah, biji, serangga, kerang, dan ikan. Aktivitas sehari-hari bukan soal kenyamanan, tapi soal bertahan hidup — mencari kalori, air, dan keamanan.

Model arkeologi dan etnografi modern menguatkan hal ini: pola hidup berburu dan mengumpul merupakan fondasi dasar dari perilaku sosial, teknologi, dan bahkan perkembangan otak manusia.


Tombak Kayu, Busur, dan Peralatan Batu: Teknologi Awal yang Mengubah Segalanya

Meski terdengar sederhana, manusia purba sebenarnya cukup inovatif dalam menciptakan alat berburu.

Tombak Kayu dari Schöningen

Temuan di Schöningen, Jerman, memperlihatkan tombak kayu tertua yang pernah ditemukan. Alat ini menunjukkan bahwa hominin sudah mampu merancang senjata untuk berburu hewan besar ratusan ribu tahun lalu. Bukti ini sekaligus menegaskan bahwa berburu mamalia besar bukan sekadar aktivitas sampingan, melainkan strategi bertahan hidup utama sejak lama.
(Sumber: Smithsonian / Schöningen literature)

Busur dan Panah

Sementara itu, bukti busur dan panah ditemukan di beberapa wilayah seperti Afrika Selatan, Sri Lanka, dan Eurasia. Meski asal pasti dan waktunya masih terus diteliti, para ilmuwan sepakat bahwa manusia modern sudah mengenal senjata proyektil sejak puluhan hingga ratusan ribu tahun lalu.
(Sumber: Smithsonian Magazine)

Peralatan Batu dan Tulang

Manusia purba juga memanfaatkan batu dan tulang untuk membuat pisau, penetak, dan microliths. Alat-alat ini digunakan untuk memotong daging, menguliti hewan, mengolah tumbuhan, hingga membuat tali dan kail pancing.
Namun karena tulang dan batu lebih mudah terawetkan daripada sisa tumbuhan, catatan arkeologi cenderung bias — seolah manusia purba lebih banyak makan daging, padahal belum tentu begitu.
(Sumber: PMC)


Cara Manusia Purba Berburu: Kolektif, Strategis, dan Penuh Risiko

Berburu pada masa itu bukan pekerjaan individu. Ini adalah kegiatan kolektif yang membutuhkan kerjasama dan strategi tinggi.

Berburu Hewan Besar

Untuk memburu hewan besar seperti kuda, rusa, atau bahkan megafauna, manusia bekerja dalam kelompok. Mereka mengatur formasi, mengepung mangsa, hingga menggiring kawanan ke jebakan alami seperti jurang.
Di beberapa tempat, manusia bahkan menggunakan anjing dan api untuk mengatur arah pergerakan hewan. Strategi ini menandakan adanya kemampuan koordinasi, komunikasi, dan pembagian peran sosial yang kompleks — fondasi awal dari perilaku sosial modern.
(Sumber: humanorigins.si.edu)

Senjata Proyektil dan Berburu Jarak Jauh

Seiring waktu, manusia mulai menggunakan tombak lempar, atlatl (pelempar tombak), serta busur dan panah. Senjata proyektil ini memungkinkan mereka berburu dari jarak aman tanpa harus berhadapan langsung dengan hewan buas.
Eksperimen arkeologis menunjukkan bahwa teknik ini sudah dikenal puluhan ribu tahun lalu di berbagai wilayah.
(Sumber: Science)

Menangkap Ikan dan Hewan Kecil

Tidak semua berburu berarti memburu mamalia besar. Di wilayah pesisir atau sungai, manusia purba membuat perangkap sederhana, tombak ikan, harpoon, dan pancing dari tulang atau kerang. Aktivitas ini sering kali memberikan sumber protein stabil dengan usaha lebih kecil dibanding berburu hewan besar.
(Sumber: PMC)


Mengumpulkan Makanan: Pengetahuan Ekologis yang Tak Kalah Penting

Selain berburu, manusia purba juga mengandalkan kemampuan mengumpulkan tumbuhan dan sumber pangan liar.

Mereka mencari umbi, akar, buah, kacang, madu, daun, hingga serangga. Tak jarang, beberapa jenis umbi harus diolah dulu untuk menghilangkan racunnya. Aktivitas ini memerlukan pengetahuan mendalam tentang musim, habitat, dan cara pengolahan.
(Sumber: PLOS)

Untuk bertahan di musim sulit, mereka juga tahu cara mengawetkan makanan seperti mengeringkan atau mengasapinya. Banyak kelompok pemburu-pengumpul modern masih mempraktikkan hal serupa — bukti bahwa pengetahuan lokal ini sangat adaptif dan bertahan lintas generasi.
(Sumber: PMC)


Daging atau Tumbuhan: Mana yang Lebih Dominan?

Bukti terbaru menunjukkan bahwa komposisi diet manusia purba sangat tergantung pada lingkungan.
Kelompok di daerah tropis atau pesisir lebih banyak mengonsumsi ikan dan buah, sementara mereka yang hidup di tundra atau padang rumput dingin bergantung pada daging mamalia besar.

Namun, studi isotop terbaru dari pegunungan Andes (Wilamaya Patjxa dan Soro Mik’aya Patjxa) menemukan fakta menarik: komunitas awal di dataran tinggi tersebut justru memiliki diet 70–95% berbasis tumbuhan. Temuan ini membantah anggapan lama bahwa manusia purba selalu bergantung pada daging.
(Sumber: PLOS ONE)


Kerja, Energi, dan Kesehatan di Dunia Forager

Studi pada masyarakat pemburu-pengumpul modern seperti Hadza di Tanzania menunjukkan bahwa pengeluaran energi total mereka mirip dengan manusia modern industri, meski aktivitas fisiknya lebih berat. Tubuh manusia ternyata mampu menyesuaikan metabolisme untuk menjaga efisiensi energi.
(Sumber: PNAS)

Menariknya, beberapa peneliti berpendapat bahwa kesehatan manusia sebelum pertanian mungkin lebih baik, karena asupan makanan lebih beragam dan bebas dari penyakit menular yang berkembang setelah manusia hidup menetap. Namun, hal ini tetap bervariasi tergantung kondisi lingkungan dan sumber daya lokal.
(Sumber: The New Yorker)


Mengapa Manusia Memilih Pola Hidup Ini?

Para ilmuwan menggunakan dua teori utama untuk menjelaskan strategi hidup berburu-mengumpul:

  1. Optimal Foraging Theory (OFT):
    Menjelaskan bahwa manusia memilih sumber makanan untuk memaksimalkan energi dengan biaya sekecil mungkin (waktu, jarak, risiko).

  2. Broad-Spectrum Revolution (BSR):
    Menyebut bahwa menjelang munculnya pertanian, manusia mulai memperluas jenis makanan yang dikonsumsi, termasuk sumber berukuran kecil atau bernilai energi rendah. Diversifikasi ini memicu munculnya pertanian dan domestikasi sekitar 12.000–15.000 tahun lalu.
    (Sumber: PMC)


Peran Gender dan Dinamika Sosial

Stereotip “laki-laki pemburu, perempuan pengumpul” tidak sepenuhnya benar. Penelitian menunjukkan bahwa perempuan juga berperan aktif dalam kegiatan berburu, mengumpulkan, dan menentukan strategi kelompok.
Dalam banyak masyarakat forager modern, perempuan menyumbang porsi terbesar makanan harian melalui pengumpulan tumbuhan dan hewan kecil — peran yang sama pentingnya dengan pemburu besar.
(Sumber: PMC)


Dari Pemburu ke Petani: Titik Balik Sejarah Manusia

Sekitar 12.000 tahun lalu, manusia mulai memasuki fase Revolusi Pertanian. Mereka menetap, menanam, dan menjinakkan hewan.
Perubahan ini meningkatkan populasi, tapi juga membawa konsekuensi besar: penyakit baru, stratifikasi sosial, dan ketergantungan pada tanaman tertentu.

Sebagian ilmuwan bahkan menilai, transisi dari pemburu ke petani bukan hanya kemajuan, tapi juga perubahan besar dalam cara manusia berinteraksi dengan alam dan sesamanya.
(Sumber: PMC)


Kesimpulan: Evolusi dari Tombak ke Traktor

Kehidupan sebagai pemburu-pengumpul bukan sekadar masa lalu yang primitif. Ia adalah fondasi dari kecerdasan sosial, teknologi, dan adaptasi manusia modern.

Dari tombak kayu di Schöningen hingga teknik memancing di pesisir, setiap inovasi menjadi bagian dari evolusi panjang yang membentuk manusia seperti sekarang — makhluk yang mampu beradaptasi, bekerja sama, dan menciptakan solusi untuk bertahan hidup.

Kalau kamu tertarik dengan sejarah evolusi manusia dan cara kita beradaptasi sejak zaman purba, pantau terus artikel pengetahuan dan arkeologi terbaru di AKURAT.CO.

Baca Juga: Perkembangan Kehidupan Manusia pada Zaman Batu: Dari Paleolitikum hingga Neolitikum

Baca Juga: Bagaimana Seharusnya Hubungan Simbiosis antara Manusia dan Alam? Inilah Penjelasan yang Akurat

FAQ

1. Apa yang dimaksud dengan kehidupan berburu dan mengumpulkan (hunter-gatherer)?

Kehidupan berburu dan mengumpulkan adalah cara hidup manusia purba sebelum munculnya pertanian. Mereka mencari makanan dengan berburu hewan liar dan mengumpulkan tumbuhan liar, seperti buah, umbi, biji, dan serangga. Pola hidup ini berlangsung selama lebih dari 95% sejarah Homo sapiens.


2. Kapan manusia mulai menggunakan alat berburu seperti tombak dan busur panah?

Bukti tertua penggunaan tombak kayu ditemukan di Schöningen, Jerman, dan diperkirakan berusia ratusan ribu tahun.
Sementara busur dan panah sudah digunakan sejak puluhan hingga ratusan ribu tahun lalu, berdasarkan temuan arkeologis di Afrika Selatan, Sri Lanka, dan Eurasia.


3. Bagaimana cara manusia purba berburu hewan besar?

Manusia purba berburu hewan besar secara kolektif dan terencana. Mereka bekerja sama untuk mengepung, menggiring, atau menjebak hewan ke jurang atau area tertentu.
Beberapa kelompok juga memanfaatkan anjing dan api untuk membantu mengatur arah gerakan hewan buruan.


4. Apakah manusia purba hanya makan daging?

Tidak. Bukti terbaru menunjukkan bahwa pola makan manusia purba sangat bervariasi tergantung lingkungan.
Studi isotop di Andes bahkan menemukan bahwa beberapa kelompok manusia awal memiliki diet 70–95% berbasis tumbuhan, bukan daging. Jadi, makanan manusia purba tidak selalu didominasi oleh protein hewani.


5. Apa perbedaan antara berburu dan mengumpulkan dalam kehidupan manusia purba?

  • Berburu: mencari dan menangkap hewan untuk sumber protein, biasanya dilakukan oleh kelompok laki-laki (meski tidak eksklusif).

  • Mengumpulkan: mencari tumbuhan, umbi, madu, atau serangga yang bisa dimakan, aktivitas ini sering dilakukan oleh perempuan dan anak-anak.
    Keduanya saling melengkapi dan sama-sama penting untuk kelangsungan hidup.


6. Bagaimana pembagian peran antara laki-laki dan perempuan pada masa berburu-mengumpulkan?

Secara umum, laki-laki lebih sering berburu hewan besar, sementara perempuan berfokus pada pengumpulan tumbuhan dan hewan kecil. Namun, pola ini tidak universal.
Beberapa bukti arkeologi menunjukkan bahwa perempuan juga ikut berburu, bahkan menjadi pemburu aktif di beberapa komunitas purba.


7. Apa itu teori Optimal Foraging dan Broad-Spectrum Revolution?

  • Optimal Foraging Theory (OFT) menjelaskan bahwa manusia memilih sumber makanan yang memberikan energi maksimal dengan usaha minimal.

  • Broad-Spectrum Revolution (BSR) menyatakan bahwa sebelum munculnya pertanian, manusia mulai memperluas variasi makanan — termasuk hewan kecil dan tumbuhan liar — sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan lingkungan.


8. Bagaimana kesehatan manusia purba dibanding manusia modern?

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sebelum pertanian, manusia purba relatif lebih sehat karena makanannya lebih beragam dan alami.
Namun, setelah menetap dan mulai bertani, muncul penyakit menular dan kekurangan gizi akibat ketergantungan pada satu jenis tanaman tertentu.


9. Mengapa manusia akhirnya meninggalkan pola hidup berburu dan mengumpulkan?

Perubahan iklim, pertumbuhan populasi, dan penemuan teknik bercocok tanam mendorong manusia untuk menetap dan mulai bertani sekitar 12.000 tahun lalu.
Transisi ini dikenal sebagai Revolusi Pertanian, yang mengubah cara manusia hidup, berinteraksi, dan membangun peradaban.


10. Apa pelajaran penting dari cara manusia purba berburu dan bertahan hidup?

Kehidupan manusia purba menunjukkan bahwa kerja sama, kreativitas, dan adaptasi adalah kunci bertahan hidup.
Dari menciptakan tombak kayu hingga strategi kolektif berburu, semua inovasi tersebut menjadi dasar evolusi yang membentuk manusia modern seperti sekarang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.