Bagaimana Bentuk Sistem Kepercayaan pada Masa Bercocok Tanam? Ini Penjelasan Lengkapnya!

AKURAT.CO Sejak manusia mulai hidup menetap dan mengenal cara bercocok tanam, mereka tidak hanya mengalami perubahan besar dalam pola hidup, tetapi juga dalam cara berpikir dan berkeyakinan. Pada masa inilah lahir sistem kepercayaan yang menjadi dasar pandangan hidup masyarakat prasejarah terhadap alam, makhluk hidup, dan hal-hal gaib di sekitar mereka.
Menariknya, sistem kepercayaan yang berkembang pada masa bercocok tanam ini belum berbentuk agama seperti yang kita kenal sekarang. Namun, ia memiliki nilai spiritual dan sosial yang kuat. Ada tiga bentuk utama sistem kepercayaan yang diyakini pada masa itu, yaitu animisme, dinamisme, dan totemisme.
Artikel ini akan membahas secara lengkap bagaimana ketiga sistem kepercayaan itu muncul, berkembang, serta bagaimana pengaruhnya terhadap kehidupan manusia purba.
Awal Mula Sistem Kepercayaan pada Masa Bercocok Tanam
Mengutip dari buku Sejarah untuk SMA/MA Kelas X karya J. Sumardianta dkk. (Grasindo), masa bercocok tanam adalah periode ketika manusia mulai meninggalkan cara hidup nomaden (berpindah-pindah) dan mulai menetap di suatu tempat.
Mereka membangun ladang, mengolah tanah untuk pertanian, serta memelihara hewan ternak. Kehidupan yang lebih stabil ini memungkinkan manusia purba berpikir lebih kompleks dan memperhatikan fenomena alam di sekitar mereka—seperti hujan, petir, gunung, dan sungai—yang dianggap memiliki kekuatan luar biasa.
Dari sinilah muncul kepercayaan terhadap roh, kekuatan gaib, dan benda-benda yang dianggap sakral. Secara bertahap, sistem kepercayaan itu berkembang menjadi animisme, dinamisme, dan totemisme.
Animisme: Kepercayaan terhadap Roh dan Jiwa
Kata animisme berasal dari bahasa Latin anima, yang berarti “jiwa” atau “roh”. Kepercayaan ini beranggapan bahwa segala sesuatu yang bergerak memiliki roh dan dianggap hidup. Roh tersebut bisa bersifat baik atau jahat, tergantung pada bagaimana manusia memperlakukannya.
Masyarakat penganut animisme percaya bahwa roh orang yang sudah meninggal tidak benar-benar hilang, melainkan masih ada dan bisa mempengaruhi kehidupan mereka yang masih hidup. Karena itu, roh leluhur harus dihormati melalui ritual atau sesaji agar tidak mendatangkan bencana.
Contoh nyata dari kepercayaan animisme bisa dilihat pada suku Dayak di Kalimantan. Mereka meyakini bahwa roh leluhur mereka mendiami rumah panjang (betang). Untuk menghormati roh tersebut, masyarakat memberikan sesaji seperti beras kuning atau telur ayam.
Animisme menjadi pondasi penting dalam sistem spiritual masyarakat prasejarah, karena mencerminkan rasa hormat mereka terhadap leluhur dan alam semesta.
Dinamisme: Kepercayaan terhadap Kekuatan Gaib dalam Benda
Berbeda dari animisme, dinamisme berfokus pada kepercayaan bahwa kekuatan gaib atau supranatural dapat bersemayam dalam benda-benda tertentu. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani dunamos, yang berarti “kekuatan” atau “daya”.
Benda-benda seperti batu, pohon besar, gunung, sungai, atau bahkan binatang dipercaya memiliki kekuatan khusus yang bisa membawa keberuntungan atau malapetaka bagi manusia. Karena itu, benda-benda tersebut dianggap sakral dan harus dijaga dengan penuh hormat.
Sebagai contoh, suku Baduy di Banten percaya bahwa Gunung Kendeng adalah tempat suci yang dihuni kekuatan gaib. Mereka memperlakukan wilayah itu dengan penuh penghormatan dan tidak sembarangan melakukan aktivitas di sekitarnya.
Kepercayaan dinamisme ini juga terlihat dari tradisi kepemilikan benda pusaka, seperti keris, batu akik, atau tombak yang diyakini memiliki kekuatan pelindung bagi pemiliknya.
Dinamisme menumbuhkan rasa hormat manusia terhadap alam sekaligus menjadi dasar dari budaya menjaga keseimbangan antara manusia dan lingkungannya.
Totemisme: Hubungan Spiritual antara Manusia dan Makhluk Lain
Selain animisme dan dinamisme, sistem kepercayaan lain yang berkembang pada masa bercocok tanam adalah totemisme.
Totemisme adalah keyakinan bahwa ada daya atau kekuatan ilahi yang terkandung dalam makhluk hidup atau benda tertentu selain manusia. Benda atau makhluk hidup yang dianggap suci ini disebut totem. Totem bisa berupa hewan, tumbuhan, atau bahkan benda alam seperti batu dan gunung.
Istilah totem berasal dari kata dotem, yang digunakan oleh suku Algonquin di Amerika Utara untuk menyebut simbol atau hewan pelindung klan mereka. Dalam praktiknya, masyarakat penganut totemisme menjadikan hewan atau tumbuhan tertentu sebagai lambang kesucian dan pelindung.
Mereka merawat makhluk tersebut dengan penuh kasih dan pantang menyakitinya. Bahkan, selama hidup, hewan atau tumbuhan yang dijadikan totem tidak boleh dibunuh karena dianggap memiliki hubungan spiritual dengan manusia yang menyembahnya.
Totemisme memperlihatkan betapa kuatnya ikatan antara manusia dengan alam, serta keyakinan bahwa setiap makhluk memiliki peran penting dalam keseimbangan kehidupan.
Perkembangan Spiritual di Masa Neolitikum
Masa bercocok tanam yang dimulai sekitar 10.000 tahun lalu, bertepatan dengan zaman Neolitikum, menjadi periode penting dalam perkembangan spiritual manusia.
Pada masa ini, manusia mulai memproduksi makanan sendiri (food producing), tidak lagi bergantung pada hasil berburu dan meramu (food gathering). Perubahan besar ini membuat manusia memiliki waktu lebih banyak untuk merenung, berpikir, dan mengembangkan nilai-nilai spiritual.
Sistem kepercayaan seperti animisme, dinamisme, dan totemisme menunjukkan bahwa manusia prasejarah tidak hanya fokus pada kebutuhan fisik, tetapi juga memiliki kesadaran spiritual yang tinggi. Mereka berusaha menjelaskan hal-hal yang belum bisa dipahami melalui logika dengan cara menghormati kekuatan alam dan roh di sekitarnya.
Kesimpulan: Warisan Spiritual dari Masa Bercocok Tanam
Sistem kepercayaan pada masa bercocok tanam bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan cerminan awal dari kesadaran manusia terhadap alam dan kehidupan spiritual.
Melalui animisme, manusia belajar menghormati roh leluhur. Lewat dinamisme, mereka memahami bahwa alam memiliki kekuatan yang harus dijaga. Dan melalui totemisme, mereka menumbuhkan rasa keterhubungan dengan makhluk lain di bumi.
Meski kini manusia telah mengenal agama dan ilmu pengetahuan modern, nilai-nilai penghormatan terhadap alam dan keseimbangan hidup yang diwariskan dari masa itu tetap relevan hingga sekarang.
Kalau kamu tertarik mempelajari sejarah kepercayaan dan budaya manusia lebih dalam, pantau terus artikel seputar sejarah dan kebudayaan di AKURAT.CO.
Baca Juga: Bagaimana Sistem Kepercayaan pada Masa Perundagian?
Baca Juga: Mengapa Makhluk Hidup Membutuhkan Energi? Kunci Jawaban IPAS Kelas 5 Halaman 61
FAQ
1. Apa yang dimaksud dengan sistem kepercayaan pada masa bercocok tanam?
Sistem kepercayaan pada masa bercocok tanam adalah keyakinan masyarakat prasejarah terhadap adanya roh, kekuatan gaib, dan hubungan spiritual dengan alam. Pada masa ini, manusia mulai menetap dan menumbuhkan kesadaran terhadap kekuatan di luar dirinya yang memengaruhi kehidupan sehari-hari.
2. Apa saja bentuk sistem kepercayaan pada masa bercocok tanam?
Ada tiga bentuk utama sistem kepercayaan pada masa bercocok tanam, yaitu animisme, dinamisme, dan totemisme. Ketiganya mencerminkan cara manusia purba memahami alam dan kekuatan spiritual di sekitarnya.
3. Apa itu animisme?
Animisme berasal dari kata Latin anima yang berarti jiwa atau roh. Kepercayaan ini menganggap bahwa semua benda dan makhluk hidup memiliki roh yang dapat memengaruhi kehidupan manusia. Contohnya, masyarakat suku Dayak percaya bahwa roh leluhur mereka tinggal di rumah panjang (betang).
4. Apa itu dinamisme?
Dinamisme adalah kepercayaan terhadap kekuatan gaib yang bersemayam di dalam benda-benda tertentu, seperti batu, pohon, air, atau gunung. Masyarakat penganut dinamisme meyakini bahwa benda-benda tersebut memiliki daya magis yang dapat membawa kebaikan atau bencana. Misalnya, suku Baduy di Banten menghormati Gunung Kendeng sebagai tempat suci yang memiliki kekuatan spiritual.
5. Apa yang dimaksud dengan totemisme?
Totemisme adalah kepercayaan terhadap makhluk hidup atau benda tertentu yang dianggap memiliki sifat ilahi dan menjadi lambang perlindungan suatu kelompok. Makhluk yang dijadikan totem—seperti hewan, tumbuhan, atau benda alam—dipelihara dan tidak boleh disakiti.
6. Apa perbedaan antara animisme, dinamisme, dan totemisme?
Perbedaannya terletak pada fokus keyakinannya:
-
Animisme menekankan pada kepercayaan terhadap roh atau arwah leluhur.
-
Dinamisme menekankan pada kekuatan gaib yang terdapat dalam benda.
-
Totemisme menekankan pada hubungan spiritual antara manusia dan makhluk hidup tertentu.
7. Mengapa sistem kepercayaan pada masa bercocok tanam penting dalam sejarah manusia?
Karena sistem kepercayaan ini menjadi dasar awal perkembangan spiritual manusia sebelum mengenal agama formal. Kepercayaan tersebut juga menunjukkan bagaimana manusia purba menghormati alam, menjaga keseimbangan hidup, dan memahami dunia dengan cara spiritual.
8. Kapan masa bercocok tanam dimulai?
Masa bercocok tanam dimulai sekitar 10.000 tahun yang lalu, bertepatan dengan zaman Neolitikum. Pada masa ini manusia mulai memproduksi makanan sendiri dan hidup menetap di suatu tempat.
9. Bagaimana pengaruh sistem kepercayaan pada masa bercocok tanam terhadap kehidupan masyarakat modern?
Meskipun manusia modern telah mengenal agama dan sains, nilai-nilai dari sistem kepercayaan masa lalu seperti menghormati alam, menjaga keseimbangan hidup, dan menghargai leluhur masih tercermin dalam budaya dan tradisi masyarakat hingga kini.
10. Apa contoh peninggalan budaya dari sistem kepercayaan masa bercocok tanam?
Contoh peninggalannya antara lain ritual penghormatan leluhur, upacara adat, benda pusaka yang dianggap sakral, serta tradisi larangan merusak alam di tempat-tempat yang dianggap suci.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









