Akurat

Bagaimana Seharusnya Hubungan Simbiosis antara Manusia dan Alam? Inilah Penjelasan yang Akurat

Idham Nur Indrajaya | 5 Oktober 2025, 22:45 WIB
Bagaimana Seharusnya Hubungan Simbiosis antara Manusia dan Alam? Inilah Penjelasan yang Akurat

AKURAT.CO Setiap manusia bergantung pada alam. Dari udara yang kita hirup, air yang kita minum, hingga makanan yang kita konsumsi, semua berasal dari ekosistem yang sehat. Tapi, bagaimana sebenarnya hubungan manusia dengan alam seharusnya berjalan agar tetap seimbang dan menguntungkan kedua belah pihak? Jawaban ini ada pada konsep simbiosis manusia–alam.

Simbiosis adalah hubungan timbal balik antara dua makhluk hidup yang saling menguntungkan. Dalam ekosistem, simbiosis tidak hanya berlaku antara hewan dan tumbuhan, tetapi juga antara manusia dan lingkungan. Dalam hubungan ini, manusia mendapatkan manfaat berupa barang dan jasa alam seperti makanan, air bersih, perlindungan dari iklim ekstrem, bahan baku, hingga kesehatan mental. Sementara, kegiatan manusia yang bijak bisa memperkuat, memulihkan, dan menjaga kapasitas ekosistem agar layanan alam ini tetap berkelanjutan.


Mengapa Simbiosis Manusia dan Alam Penting?

Ketergantungan manusia terhadap alam sangat besar. Tanpa tanah subur, hutan, sungai, atau laut yang sehat, manusia tidak bisa memenuhi kebutuhan dasar mereka. Namun, saat ini banyak ekosistem mengalami tekanan serius akibat aktivitas manusia yang tidak terkendali.

Beberapa fakta penting mengenai kondisi alam saat ini antara lain:

  • Krisis keanekaragaman hayati: Laporan IPBES 2019 memperingatkan sekitar satu juta spesies berada dalam risiko kepunahan jika tekanan terhadap alam tidak dikurangi.

  • Deforestasi: Data Global Forest Watch menunjukkan hilangnya puluhan juta hektar hutan dalam dekade terakhir, termasuk 26,8 juta hektar pada tahun 2024, serta 83 juta hektar hutan primer hilang antara 2002–2024.

  • Perubahan iklim dan CO₂: Konsentrasi CO₂ atmosfer terus meningkat ke rekor baru, memperburuk stres pada ekosistem akibat suhu ekstrem, kebakaran hutan, dan pengasaman laut.

  • Batas planet (planetary boundaries): Penilaian terbaru menunjukkan manusia telah melampaui enam dari sembilan batas penting, termasuk integritas biosfer dan aliran nutrien, sehingga ruang aman bagi pembangunan manusia semakin menyempit.

Di sisi lain, berbagai upaya internasional telah dilakukan, misalnya kerangka Biodiversity Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework (GBF) yang menargetkan 30% kawasan terlindungi dan 30% kawasan direstorasi hingga 2030. Namun, pelaksanaan dan pendanaan masih belum optimal.


Prinsip Hubungan Simbiosis Manusia dan Alam yang Ideal

Untuk menciptakan hubungan manusia–alam yang sehat dan berkelanjutan, beberapa prinsip ilmiah dan praktis berikut harus diterapkan:

  1. Hormati batas biogeofisik (planetary limits): Setiap pembangunan harus mempertimbangkan kapasitas alami bumi agar layanan ekosistem tidak menurun drastis.

  2. Lindungi dan pulihkan ekosistem: Prioritaskan perlindungan habitat alami berkualitas tinggi dan restorasi ekosistem yang rusak, sesuai target UN Decade on Ecosystem Restoration.

  3. Integrasikan ekonomi dan akuntabilitas: Hitung nilai modal alam (natural capital) untuk memastikan keputusan publik dan swasta mempertimbangkan biaya degradasi ekosistem.

  4. Gunakan Nature-based Solutions (NbS): Solusi berbasis alam, seperti restorasi mangrove atau lahan basah, efektif bila dirancang sesuai standar internasional dan tidak digunakan sebagai alasan melanjutkan aktivitas merusak.

  5. Keadilan dan hak masyarakat lokal/indigenous first: Keterlibatan masyarakat adat dalam pengelolaan sering lebih efektif untuk konservasi jangka panjang dan keadilan sosial.

  6. Integrasi kesehatan (One Health / Planetary Health): Pencegahan pandemi, keamanan pangan, dan kualitas lingkungan saling terkait; kebijakan kesehatan harus memasukkan aspek ekosistem.

  7. Pengelolaan lanskap/laut terpadu: Menyeimbangkan kawasan lindung, produksi, dan pemanfaatan berkelanjutan dengan pendekatan land-sparing atau land-sharing sesuai konteks lokal.

  8. Reformasi subsidi dan insentif: Menghapus subsidi yang merusak, misalnya bahan bakar fosil, dan mengalihkan ke insentif positif seperti pembayaran jasa ekosistem (PES).

  9. Pemantauan dan data transparan: Gunakan indikator keanekaragaman, remote sensing, dan sistem akun ekosistem (SEEA) untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis data.

  10. Transisi budaya dan edukasi: Reorientasi nilai kolektif dari konsumsi semata ke kelestarian dan kesejahteraan jangka panjang melalui kurikulum, media, dan ekonomi lokal.


Contoh Interaksi Manusia dan Alam dalam Kehidupan Sehari-hari

Hubungan simbiosis manusia dan alam bisa terlihat dalam aktivitas sederhana, seperti:

  • Petani menanam padi di sawah yang menjaga kesuburan tanah.

  • Nelayan menangkap ikan di laut yang dikelola secara berkelanjutan.

  • Membersihkan sungai dari sampah untuk menjaga kualitas air.

  • Pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana, misalnya memanen kayu dengan prinsip reboisasi.

Praktik-praktik ini bisa dikembangkan lebih luas dengan kebijakan yang mendukung, seperti:

  • PES di Costa Rica: Program ini menurunkan deforestasi sekaligus memberikan pendapatan bagi masyarakat lokal.

  • Reservasi laut dan co-management: Kawasan seperti Tubbataha di ASEAN menunjukkan stok ikan meningkat dan ekowisata berkembang.

  • Green infrastructure di perkotaan: 'Sponge city' dan taman banjir membantu pengendalian banjir, pendinginan kota, dan kesehatan publik.

  • Akun Natural Capital / SEEA: Beberapa negara mulai memasukkan nilai ekosistem ke dalam kebijakan fiskal untuk mendorong pembangunan berkelanjutan.


Kesimpulan

Simbiosis antara manusia dan alam bukan sekadar teori, tetapi praktik nyata yang harus dijalankan. Dengan menghargai batas planet, melindungi dan merestorasi ekosistem, serta mengintegrasikan alam dalam kebijakan ekonomi dan kesehatan, manusia bisa menikmati manfaat alam sekaligus menjaga kelestariannya.

Baca Juga: PTPN IV PalmCo Dukung Rehabilitasi Orangutan, Wujudkan Sawit Bersahabat dengan Alam

Baca Juga: Jenis-jenis Hewan Amfibi yang Hidup di Dua Alam

FAQ

1. Apa itu simbiosis antara manusia dan alam?
Simbiosis manusia–alam adalah hubungan timbal balik yang saling menguntungkan. Manusia mendapat barang dan jasa dari alam, seperti makanan, air bersih, perlindungan iklim, dan kesehatan mental, sementara manusia menjaga atau memulihkan kapasitas ekosistem agar tetap berkelanjutan.

2. Mengapa simbiosis manusia dan alam penting?
Simbiosis penting karena manusia sangat bergantung pada ekosistem untuk bertahan hidup. Tanpa menjaga hubungan ini, layanan alam seperti pangan, air bersih, dan iklim yang stabil bisa terganggu, mengancam keberlanjutan hidup manusia.

3. Apa saja prinsip utama hubungan simbiosis yang ideal?
Beberapa prinsip penting meliputi: menghormati batas planet (planetary limits), melindungi dan merestorasi ekosistem, menghitung nilai natural capital, menggunakan Nature-based Solutions (NbS), menghargai hak masyarakat lokal, integrasi One Health, pengelolaan lanskap terpadu, reformasi subsidi, pemantauan berbasis data, dan transisi budaya serta edukasi.

4. Contoh nyata interaksi manusia dengan alam?
Beberapa contohnya antara lain: petani menanam padi, nelayan menangkap ikan secara berkelanjutan, membersihkan sungai dari sampah, dan memanen kayu dengan prinsip reboisasi. Praktik ini mendukung ekosistem sekaligus memberi manfaat bagi manusia.

5. Apa saja tantangan saat ini dalam menjaga hubungan manusia dan alam?
Tantangan utama termasuk krisis keanekaragaman hayati, deforestasi besar-besaran, peningkatan konsentrasi CO₂, dan pelampauan batas planet. Meskipun ada target internasional seperti GBF 2030, implementasi dan pendanaan masih menjadi kendala.

6. Bagaimana kebijakan bisa mendukung simbiosis manusia dan alam?
Kebijakan dapat mendorong pembayaran jasa ekosistem (PES), pengelolaan laut terpadu, restorasi hutan, infrastruktur hijau di perkotaan, serta pengintegrasian nilai modal alam dalam keputusan ekonomi dan fiskal.

7. Apa manfaat jangka panjang menjaga hubungan simbiosis ini?
Dengan hubungan yang seimbang, manusia tetap bisa menikmati layanan alam, ekosistem tetap sehat, risiko bencana alam berkurang, keanekaragaman hayati terjaga, dan kesehatan masyarakat meningkat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.