Peranan Wanita dalam Pergerakan Nasional: Mengenal Rohana Kudus, Pionir Pers Perempuan

AKURAT.CO Perjalanan menuju kemerdekaan Indonesia tidak hanya diwarnai oleh perjuangan kaum pria, tetapi juga oleh kiprah wanita.
Sejak awal abad ke-20, lahirnya organisasi modern seperti Budi Utomo (1908) dan Sumpah Pemuda (1928) turut menginspirasi kaum wanita untuk membentuk perkumpulan mereka sendiri.
Awalnya, fokus gerakan perempuan berada pada isu keluarga, pendidikan, serta kedudukan sosial. Namun seiring perkembangan zaman, arah perjuangan semakin meluas ke ranah politik dan kebangsaan.
Baca Juga: Hari Ibu Bukan Romantisme, Jangan Lupakan Semangat Pergerakan Perempuan
Salah satu tonggak penting adalah Kongres Perempuan Indonesia pertama pada 22 Desember 1928 di Yogyakarta. Dari kongres ini lahirlah Perikatan Perkumpulan Perempuan Indonesia (PPPI) yang kemudian berganti menjadi PPII. Organisasi tersebut berperan sebagai wadah persatuan, membahas isu seperti perkawinan anak, hak pendidikan bagi perempuan, hingga perlindungan hukum bagi wanita.
Pada masa pemerintahan Belanda, gerakan wanita makin menguat. Lahir organisasi seperti Istri Sedar (1930) yang berhaluan politik dan mendukung perjuangan kebangsaan.
Wanita juga ikut menentang Wilde Scholen Ordonantie (UU Sekolah Liar) yang membatasi pendidikan nasional, dengan cara aktif mengajar di Taman Siswa meskipun mendapat tekanan.
Puncaknya, pada 1938 kaum wanita berhasil mendapatkan hak dipilih (passief kiesrecht) dalam Dewan Kota, dengan tokoh-tokoh seperti Emma Puradiredja dan S. Sunaryo Mangunpuspito terpilih sebagai anggota dewan .
Ketika Jepang masuk, kondisi berubah drastis. Di satu sisi, wanita direkrut dalam organisasi resmi Jepang seperti Fujinkai dan Barisan Puteri, dengan aktivitas mulai dari latihan kepalangmerahan hingga dapur umum. Namun, di sisi lain, banyak tokoh wanita yang menolak tunduk, misalnya SK Trimurti dan Johanna Masdani. Pada fase akhir pendudukan, organisasi ini justru dijadikan sarana kaderisasi untuk mempersiapkan kemerdekaan, dengan tokoh nasional seperti Hatta dan Agus Salim memberi ceramah .
Baca Juga: Perempuan Penggerak Utama Menuju Indonesia Emas 2045
Setelah proklamasi 1945, peranan perempuan semakin menonjol. Mereka membentuk organisasi baru seperti Perwari dan Wanita Negara Indonesia (WANI), mendirikan dapur umum, mengibarkan bendera Merah Putih, hingga mengorganisasi layanan kesehatan bagi pejuang. Sosok seperti Zuster Annie Senduk mendirikan pos pertolongan di Jakarta untuk korban pertempuran, sementara di Sumatera muncul laskar putri yang berjuang di garis depan.
Dari rangkaian peristiwa tersebut jelas bahwa wanita Indonesia tidak hanya berjuang di ranah domestik, tetapi juga berperan aktif dalam pendidikan, politik, sosial, dan perjuangan fisik. Kiprah mereka menunjukkan bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan hasil gotong royong seluruh bangsa, tanpa memandang gender.
Perjalanan panjang pergerakan perempuan Indonesia juga menghadirkan tokoh-tokoh yang perannya tidak selalu dikenal publik, dan salah satu yang patut dikenang adalah Rohana Kudus, jurnalis perempuan pertama Indonesia yang mendobrak batasan sosial pada zamannya.
Rohana Kudus: Jurnalis Perempuan Pertama Indonesia
Nama Rohana Kudus mungkin tidak sepopuler Kartini atau Cut Nyak Dien, namun kiprahnya sangat penting dalam sejarah emansipasi perempuan Indonesia. Lahir di Koto Gadang, Sumatera Barat pada 20 Desember 1884, Rohana dikenal sebagai perempuan yang berani menembus batas tradisi.
Pada 1911, dia mendirikan Sunting Melayu, surat kabar yang khusus membahas isu perempuan. Media ini menjadi ruang bagi wanita untuk menyuarakan gagasan, sesuatu yang jarang terjadi pada masa itu.
Tidak berhenti di situ, Rohana juga mendirikan Kerajinan Amai Setia (KAS) pada 1914. Organisasi ini memberikan pendidikan baca-tulis, keterampilan rumah tangga, hingga kemampuan wirausaha bagi perempuan. Hasil kerajinan anggotanya bahkan dipasarkan ke berbagai daerah, sehingga kaum wanita bisa mandiri secara ekonomi.
Lewat gagasan dan tindakannya, Rohana memperlihatkan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam pembangunan bangsa, bukan hanya di ranah domestik.
Meski sempat terlupakan, akhirnya pada 2019 pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya. Kisah Rohana Kudus menegaskan bahwa kemerdekaan dan kesetaraan adalah hasil perjuangan kolektif, termasuk suara perempuan yang berani menembus batas zamannya.
Dinda NS (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 2Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 3Jubir KPK: Kepala Kantor BPN Mojokerto adalah Istri dari Dirjen Kementerian ATR/BPN Lampri
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 6Prediksi Italia vs Belgia 26 September 2026: Skor, H2H, Starting XI, dan Semua Prediksi
- 7Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 8Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK








