Perempuan Penggerak Utama Menuju Indonesia Emas 2045

AKURAT.CO Pemberdayaan perempuan di sektor ekonomi kreatif adalah strategi utama untuk menyalakan mesin pertumbuhan perekonomian yang lebih inklusif dan merata.
Salah satu wadah pemberdayaan perempuan tersebut ialah forum Women on The Move 2025 yang diselenggarakan di Bali beberapa waktu lalu.
Dengan mencontohkan program literasi digital Emak-Emak Matic yang membawa pelaku usaha perempuan naik kelas. Menghadirkan pemimpin perempuan dari berbagai sektor, mulai dari pemerintahan, keuangan, industri kreatif hingga komunitas.
Baca Juga: Koperasi Desa Merah Putih Buka Peluang untuk Pemberdayaan Perempuan
Menurut Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar, tema Women Have The Power to Change The World adalah pengingat bahwa perempuan bukan hanya penerima manfaat tetapi juga motor perubahan.
"Di Ekraf, makna itu kami wujudkan melalui program nyata seperti Emak-Emak Matic (Emak-Emak Melek Teknologi) yang membekali perempuan dengan literasi digital, keterampilan pemasaran daring dan akses pembiayaan mikro. Dengan begitu, perempuan bisa naik kelas dari skala rumah tangga menuju pelaku usaha mandiri," jelas Irene, dalam keterangannya, Senin (29/9/2025).
Menurutnya, forum ini menjadi wadah bagi para pemimpin perempuan lintas sektor untuk mendorong lahirnya gagasan, jejaring dan aksi nyata dalam memperkuat peran perempuan sebagai motor perubahan bangsa. Menuju masa depan inklusif dan berdaya saing global.
Baca Juga: Polytron Resmi Luncurkan FOX-200, Motor Listrik Pertama untuk Perempuan di IMOS 2025
Irene menegaskan pentingnya memberdayakan perempuan sebagai penggerak utama transformasi bangsa. Karena itu, ekonomi kreatif telah terbukti menjadi the new engine of growth bagi Indonesia dengan kontribusi yang terus tumbuh dan semakin inklusif.
"Memberdayakan perempuan di ekraf berarti menyalakan mesin pertumbuhan baru yang lebih merata. Perempuan tidak hanya berkarya untuk dirinya sendiri, tetapi juga membawa multiplier effect bagi keluarga, komunitas, dan ekonomi nasional," ujarnya.
Irene juga menyoroti gaya kepemimpinan perempuan yang dinilai memiliki kekuatan tersendiri. Kepemimpinan perempuan berangkat dari empati, kolaborasi dan keberanian mengambil keputusan jangka panjang.
Baca Juga: Perlu Kolaborasi Tangani Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak, Tak Bisa Hanya Andalkan Aparat Hukum
"Pendekatan ini membuat kebijakan di ekraf lebih peka terhadap distribusi manfaat, sehingga dampaknya lebih merata dan berkelanjutan," ujarnya.
Irene menekankan pentingnya kolaborasi hexa helix yang mempertemukan pemerintah, industri, komunitas, akademisi dan media massa.
Diharapkan, model kolaborasi ini menciptakan ruang konkret untuk pertukaran ide, penguatan kapasitas, sekaligus memperluas jejaring bagi pelaku kreatif perempuan.
Baca Juga: Fitriesya Maulani: Perempuan Papua yang Sukses Pimpin Bisnis Material dan Energi
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 34 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 4Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 5Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 6Asuransi Astra Serahkan Toyota Veloz Hybrid kepada Dommy Eriko, Pemenang Undian GASPOL 2026
- 7Korlantas Polri Jemput Bola Pelayanan Pengurusan SIM hingga Desa, Sekolah, Kampus, dan Pesantren
- 8Inggris, Jerman, dan Swedia Peringatkan Warga Bersiap Hadapi Perang, Ada Apa?
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai






