Akurat

Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Tingkat Lanjut Kelas 11 Halaman 42: Evaluasi Cerpen Saat Ayah Meninggal Dunia

Idham Nur Indrajaya | 16 September 2025, 18:35 WIB
Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Tingkat Lanjut Kelas 11 Halaman 42: Evaluasi Cerpen Saat Ayah Meninggal Dunia

 

AKURAT.CO Siswa SMA/MA Kelas 11 kini sedang memasuki Bab 2 dalam buku Bahasa Indonesia Tingkat Lanjut Kurikulum Merdeka yang berjudul Mengapresiasi Prosa. Buku ini ditulis oleh Rahmah Purwahida dan tim, serta diterbitkan oleh Kemdikbudristek pada tahun 2024.

Bab ini berfokus pada keterampilan membaca apresiatif, terutama dalam mengevaluasi tokoh dan penokohan dalam sebuah cerpen. Melalui latihan ini, siswa dilatih untuk memahami bagaimana pengarang membangun karakter, menyampaikan emosi, dan menggambarkan perasaan melalui tokoh-tokoh yang ditampilkan.

Dengan latihan ini, diharapkan siswa tidak hanya mampu membaca teks secara informatif, tetapi juga bisa menangkap sisi emosional sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis, runtut, dan penuh empati.


Latihan di Halaman 42

Pada halaman 42, siswa menemukan latihan berbasis teks cerpen berjudul “Saat Ayah Meninggal Dunia” karya Djenar Maesa Ayu.

Instruksi latihannya adalah sebagai berikut:

  1. Bacalah teks cerpen “Saat Ayah Meninggal Dunia” karya Djenar Maesa Ayu.

  2. Lalu, tulislah hasil evaluasi tokoh dan penokohan teks cerpen tersebut.

Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Tingkat Lanjut Kelas 11 Halaman 42

Tokoh utama dalam cerpen ini adalah Aku, seorang anak yang baru saja kehilangan ayahnya, seorang pelukis ternama. Dari awal, pengarang menekankan sisi manusiawi tokoh Aku yang berusaha tampil kuat namun tetap dihantui kesedihan mendalam. Ia digambarkan tidak hanya berduka karena ayahnya meninggal, tetapi juga merasa hampa karena sejak lama kehilangan figur ibu akibat perceraian. Ketidakjelasan keberadaan sang ibu membuat luka emosional tokoh Aku semakin kompleks.

Hal menarik dari penokohan ini adalah munculnya halusinasi tentang ibu, yang secara psikologis bisa dimaknai sebagai refleksi kerinduan. Halusinasi itu hadir dalam wujud sederhana: ibu yang membangunkan, membereskan rumah, atau sekadar berjalan di belakangnya. Kehadiran ilusi ini justru memperlihatkan betapa tokoh Aku sangat membutuhkan sosok pendamping dalam situasi duka.

Dengan gaya bahasa simbolis, Djenar Maesa Ayu tidak hanya menampilkan rasa kehilangan, tetapi juga memperlihatkan mekanisme pertahanan diri manusia saat menghadapi kesedihan. Tokoh Aku menjadi gambaran nyata bahwa dalam menghadapi duka, pikiran sering kali menciptakan ilusi untuk menutupi kekosongan batin.


Alternatif 2

Cerpen ini memusatkan perhatian pada tokoh Aku yang baru saja kehilangan ayahnya. Dari luar, ia mencoba menghadapi peristiwa tersebut dengan tenang, tetapi narasi pengarang menunjukkan pergulatan batin yang rumit. Kehilangan ayah adalah pukulan besar, terlebih karena tokoh Aku juga sudah lebih dulu kehilangan sosok ibu akibat perceraian. Rasa ditinggalkan ini semakin kuat karena ibunya tidak pernah bisa ditemui, bahkan tidak diketahui keberadaannya.

Halusinasi tentang ibu menjadi titik penting dalam penokohan. Ibu digambarkan hadir kembali dalam bentuk bayangan yang melakukan aktivitas rumah tangga sehari-hari. Detail seperti “menutup pintu tanpa menggunakan tangannya” memberi kesan bahwa sosok tersebut bukan nyata, melainkan bagian dari dunia imajinasi tokoh Aku.

Dari sisi emosional, penggambaran ini memperlihatkan bagaimana manusia bisa menciptakan realitas alternatif untuk menenangkan dirinya. Kehilangan dua figur penting—ayah dan ibu—meninggalkan ruang kosong yang terlalu besar untuk diabaikan. Penokohan Aku yang rapuh namun tetap mencoba bertahan menjadikan cerpen ini relevan bagi banyak pembaca, karena hampir setiap orang pernah merasakan kehilangan orang yang dicintai.


Alternatif 3

Tokoh Aku dalam cerpen ini merepresentasikan manusia yang berada di persimpangan antara kenyataan dan ilusi. Ia kehilangan ayahnya, seorang figur penting dalam hidupnya, sekaligus merasakan kehilangan ibu yang sudah lama pergi. Perasaan ditinggalkan menjadi tema besar yang membentuk karakter tokoh Aku.

Penokohan diperkuat dengan hadirnya imajinasi tentang ibu. Sosok ibu seakan hidup kembali dalam bentuk bayangan yang berjalan tanpa kaki dan menutup pintu tanpa tangan. Simbol ini menegaskan bahwa kehadiran sang ibu hanyalah hasil imajinasi, bukan realitas. Hal ini menekankan sisi psikologis tokoh Aku yang masih bergulat dengan trauma lama sekaligus duka baru.

Cerpen ini memperlihatkan bahwa kehilangan bukan hanya soal kematian, tetapi juga tentang kekosongan emosional yang ditinggalkan oleh orang-orang terdekat. Tokoh Aku berusaha menutupi rasa sepi dengan menghadirkan bayangan ibu. Strategi penggambaran ini membuat penokohan menjadi lebih dalam, karena pembaca tidak hanya melihat kesedihan yang dangkal, melainkan juga lapisan emosi yang kompleks: kerinduan, kesepian, dan keterikatan yang tidak terselesaikan.


Alternatif 4

Tokoh utama, yaitu Aku, adalah pusat cerita sekaligus medium untuk menggambarkan pengalaman kehilangan yang mendalam. Kehilangan ayah tidak hanya menjadi peristiwa emosional, tetapi juga membuka luka lama akibat perceraian orang tua. Sosok ibu yang telah lama pergi menambah nuansa getir dalam hidup tokoh Aku, sehingga ia merasakan kehilangan ganda: ayah secara fisik dan ibu secara emosional.

Penokohan Aku menjadi menarik karena pengarang tidak menggambarkan kesedihannya dengan tangisan atau ekspresi berlebihan, melainkan melalui detail halus: halusinasi. Ibu digambarkan hadir sebagai bayangan samar yang melakukan aktivitas sehari-hari. Kehadiran bayangan ini bukan sekadar gambaran supranatural, tetapi simbol dari kerinduan yang tidak tersampaikan.

Melalui hal ini, Djenar Maesa Ayu berhasil menciptakan tokoh dengan dimensi psikologis yang kaya. Tokoh Aku digambarkan sebagai manusia yang tidak sepenuhnya bisa menerima kenyataan, sehingga mencari penghiburan melalui imajinasi. Hal ini menunjukkan sisi rapuh manusia ketika harus berhadapan dengan duka berlapis. Penokohan seperti ini membuat cerpen terasa lebih hidup, menyentuh, dan meninggalkan kesan mendalam bagi pembaca.

Pesan Penting dari Cerpen

Cerpen “Saat Ayah Meninggal Dunia” bukan hanya bercerita tentang kehilangan figur ayah, tetapi juga tentang kerinduan, trauma, dan cara manusia menghadapi luka emosional.

Melalui tokoh Aku, pembaca bisa belajar bahwa kesedihan adalah bagian alami dari kehidupan. Namun, cara kita menghadapinya akan menentukan apakah kita bisa berdamai dengan kenyataan atau terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu.


Penutup

Latihan evaluasi tokoh dan penokohan di halaman 42 ini membantu siswa untuk lebih peka terhadap kekuatan bahasa, nuansa emosional, dan simbolisme dalam karya sastra.

Kalau kamu ingin terus mengikuti pembahasan kunci jawaban dan materi pelajaran Bahasa Indonesia lainnya, pantau terus update terbaru di sini agar tidak ketinggalan informasi penting.


Baca Juga: Ciri dan Syarat Poster Ditulis dalam Paragraf, Ini Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 11 Halaman 23

Baca Juga: Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 11 Halaman 17 Kurikulum Merdeka: Konjungsi

FAQ

1. Apa isi latihan Bahasa Indonesia Tingkat Lanjut Kelas 11 halaman 42?
Latihan di halaman 42 meminta siswa membaca cerpen “Saat Ayah Meninggal Dunia” karya Djenar Maesa Ayu, lalu mengevaluasi tokoh dan penokohan yang terdapat di dalamnya. Fokusnya adalah melatih keterampilan apresiasi sastra dengan menelaah karakter utama serta emosi yang tergambar dalam cerita.


2. Siapa tokoh utama dalam cerpen “Saat Ayah Meninggal Dunia”?
Tokoh sentral adalah Aku, anak dari seorang pelukis ternama yang baru saja meninggal dunia. Tokoh Aku digambarkan sebagai sosok yang berusaha tegar menghadapi kehilangan, tetapi tetap rapuh secara emosional karena juga merindukan ibunya yang telah lama berpisah.


3. Apa pesan penting dari cerpen karya Djenar Maesa Ayu ini?
Pesan utama dari cerpen ini adalah tentang kehilangan, kerinduan, dan trauma emosional. Melalui tokoh Aku, pembaca diajak memahami bahwa kesedihan tidak bisa dihindari, tetapi manusia memiliki cara berbeda-beda untuk menghadapinya, termasuk menciptakan bayangan atau halusinasi sebagai bentuk mekanisme bertahan.


4. Bagaimana penggambaran tokoh Aku dalam penokohan cerpen ini?
Tokoh Aku digambarkan kompleks: rapuh, penuh kerinduan, namun berusaha tegar. Ia tidak hanya menghadapi kematian ayah, tetapi juga ketidakhadiran ibu yang meninggalkannya sejak lama. Halusinasi tentang ibu menjadi cara pengarang menunjukkan betapa dalamnya luka batin tokoh Aku.


5. Apakah ada alternatif jawaban evaluasi tokoh selain yang ada di kunci jawaban?
Ya, ada beberapa alternatif analisis tokoh, misalnya:

  • Tokoh Aku dilihat sebagai simbol anak yang berusaha berdamai dengan duka melalui imajinasi.

  • Penokohan menyoroti kerinduan mendalam pada figur ibu, yang muncul lewat halusinasi.

  • Cerpen ini menekankan bahwa kehilangan tidak hanya tentang kematian, tetapi juga tentang ditinggalkan secara emosional.

  • Tokoh Aku digambarkan sebagai manusia yang mencoba bertahan di antara kenyataan dan ilusi.


6. Mengapa penting mengevaluasi tokoh dan penokohan dalam cerpen?
Evaluasi tokoh dan penokohan membantu siswa memahami cara pengarang membangun cerita, menggambarkan perasaan, serta menyampaikan pesan moral. Dengan latihan ini, siswa juga belajar mengasah empati, berpikir kritis, dan mampu mengapresiasi karya sastra lebih dalam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.