Keanekaragaman Hayati Tingkat Ekosistem: Pengertian dan Contoh Lengkap

AKURAT.CO Kalau selama ini kamu sering mendengar istilah biodiversity atau keanekaragaman hayati, ternyata konsep ini punya tingkatan yang berbeda. Ada yang berbicara soal genetik, ada yang fokus pada spesies, dan ada pula yang lebih luas, yaitu ekosistem.
Keanekaragaman hayati tingkat ekosistem sangat penting karena menyangkut kelangsungan seluruh makhluk hidup. Perbedaan letak geografis membuat iklim di tiap daerah berbeda—ada yang dingin, kering, lembap, atau panas. Perbedaan ini akhirnya memengaruhi jenis flora dan fauna yang tumbuh dan berkembang. Dengan kata lain, setiap daerah punya ekosistem khas yang unik.
Pengertian Keanekaragaman Hayati Tingkat Ekosistem
Secara sederhana, keanekaragaman hayati bisa diartikan sebagai seluruh kekayaan makhluk hidup di bumi, termasuk materi genetik dan ekosistem yang terbentuk karenanya.
Ekosistem sendiri adalah komunitas yang terbentuk di suatu wilayah—bisa daratan, perairan, atau gabungan keduanya. Di dalamnya ada komponen biotik (makhluk hidup seperti tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme) serta komponen abiotik (tanah, air, udara, cahaya, suhu, dan faktor fisik lain). Keduanya saling berdampingan dan berinteraksi tanpa mengganggu keseimbangan.
Menurut Gunawan Susilowarno dkk. dalam buku Biologi SMA/MA Kelas X (2007), keanekaragaman ekosistem muncul karena perpaduan antara faktor biotik yang bervariasi dengan faktor abiotik yang beraneka ragam, seperti perbedaan suhu, pH, kelembapan, salinitas, kecepatan angin, hingga bentuk topografi.
Artinya, ekosistem di pegunungan tentu berbeda dengan ekosistem di pesisir pantai, begitu juga dengan ekosistem gurun atau sawah.
Contoh Keanekaragaman Hayati Tingkat Ekosistem
Dalam buku Pendalaman Materi IPA SMP/MTS oleh Dewi Nur Halimah (2020), disebutkan bahwa keanekaragaman ekosistem muncul karena adanya perbedaan letak geografis. Inilah yang membuat jenis flora dan fauna di setiap daerah sangat bervariasi.
Beberapa contoh yang paling sering dibahas adalah sebagai berikut:
1. Ekosistem Lumut
Ekosistem ini biasanya berada di puncak gunung atau daerah kutub yang suhunya sangat dingin. Vegetasi didominasi tumbuhan lumut, sementara hewan yang bisa bertahan di sini umumnya memiliki bulu tebal, contohnya beruang kutub.
2. Ekosistem Hutan Konifer
Hutan konifer identik dengan pohon berdaun jarum seperti pinus atau cemara. Suasananya sejuk, dan hewan yang menghuni kawasan ini antara lain rusa dan beruang.
3. Ekosistem Hutan Hujan Tropis
Indonesia termasuk negara dengan hutan hujan tropis terluas. Ekosistem ini kaya akan pohon besar, liana, epifit, dan menjadi rumah bagi beragam satwa, seperti kera, burung, hingga serangga unik.
4. Ekosistem Padang Rumput
Padang rumput umumnya berada di wilayah kering dengan ketinggian sekitar 4.000 mdpl. Vegetasi utamanya rumput-rumputan, sedangkan penghuninya antara lain mamalia besar, hewan herbivora, dan predator seperti singa atau serigala.
5. Ekosistem Gurun
Ekosistem ini punya karakter ekstrem dengan suhu siang dan malam yang sangat berbeda, curah hujan minim, dan angin kencang. Tumbuhan yang bertahan biasanya xerofit seperti kaktus, sementara hewannya antara lain reptil dan mamalia kecil.
6. Ekosistem Sawah
Sawah termasuk ekosistem buatan manusia, tetapi tetap memiliki peran penting. Selain menjadi sumber pangan utama (padi/beras), sawah juga memiliki keragaman biotik seperti padi, rumput, burung, hingga hama. Komponen abiotiknya mencakup tanah, air, dan udara.
7. Ekosistem Pantai
Ekosistem pantai adalah perpaduan antara daratan dan lautan. Flora dan fauna yang khas di sini antara lain mangrove, anemon laut, ikan, udang, dan ganggang. Faktor abiotiknya meliputi pasir, batu, suhu udara, serta cahaya matahari.
Kesimpulan: Menjaga Keanekaragaman Ekosistem Sama dengan Menjaga Kehidupan
Dari lumut di puncak gunung, pohon pinus di hutan konifer, hingga kaktus di gurun, semua menunjukkan betapa kayanya keragaman hayati tingkat ekosistem di bumi. Setiap ekosistem punya peran penting dalam menjaga keseimbangan alam.
Kalau salah satu rusak, maka rantai kehidupan yang lain juga akan terganggu. Itulah sebabnya menjaga keanekaragaman hayati bukan hanya tugas pemerintah atau ilmuwan, tapi juga kita semua.
Baca Juga: Tidak Hanya Indonesia, 5 Negara Ini Menyimpan Kekayaan Ragam Etnis Luar Biasa
Baca Juga: Bakal Terjadi 23 Agustus, Apa Itu Fenomena Black Moon dan Bagaimana Cara Melihatnya?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









