Akurat

7 Pertempuran Heroik Penjaga Kemerdekaan Indonesia

Eko Krisyanto | 9 Agustus 2025, 23:25 WIB
7 Pertempuran Heroik Penjaga Kemerdekaan Indonesia

AKURAT.CO Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 bukanlah garis akhir perjuangan bangsa, melainkan babak awal menghadapi ancaman baru.

Ancaman datang dari berbagai penjuru: pasukan Sekutu, tentara kolonial Belanda (NICA), hingga kekuatan asing yang ingin kembali menguasai Nusantara.

Rakyat Indonesia pun bangkit, mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diproklamasikan.

Sejarah mencatat, darah dan air mata mengiringi langkah para pejuang.

Inilah tujuh pertempuran paling krusial yang menjadi bukti bahwa kemerdekaan Indonesia dibayar mahal, bukan hadiah dari siapa pun.

1. Pertempuran Surabaya – 10 November 1945

Pertempuran ini menjadi ikon heroisme bangsa. Kematian Brigadir Jenderal Mallaby pada 30 Oktober 1945 memicu kemarahan besar pasukan Inggris.

Ultimatum agar rakyat Surabaya menyerah ditolak mentah-mentah.
Pada 10 November 1945, perang besar pecah.

Pemuda, pejuang, dan rakyat Surabaya bertempur habis-habisan melawan pasukan Inggris dan India.

Baca Juga: Hari Masyarakat Adat Sedunia, Sudahkah Inklusinya Terwujud?

Pertempuran ini dikenang sebagai Hari Pahlawan, simbol keberanian tanpa kompromi.

2. Palagan Ambarawa – 12–15 Desember 1945

Dipimpin Kolonel Sudirman, Tentara Keamanan Rakyat (TKR) berhasil mengusir pasukan Sekutu yang dibantu NICA dari Ambarawa.

Strategi “supit urang” yang brilian menjadi kunci kemenangan.

Keberhasilan ini mengantar Sudirman menjadi Panglima Besar Tentara Republik Indonesia.

3. Bandung Lautan Api – 23 Maret 1946

Ultimatum Sekutu agar rakyat mengosongkan Bandung Selatan disambut dengan keputusan heroik: bumi hangus.

Rakyat dan pejuang membakar rumah, gedung, dan fasilitas agar tidak jatuh ke tangan musuh.

Malam itu, Bandung benar-benar menjelma menjadi lautan api, simbol pengorbanan total demi kemerdekaan.

4. Pertempuran Medan Area – Oktober 1945–1946

Di Sumatera Utara, rakyat dan pejuang mempertahankan kemerdekaan dari pasukan Sekutu dan NICA.

Pertempuran ini berlangsung lebih dari setahun, menunjukkan kegigihan luar biasa rakyat Medan melawan upaya pendudukan kembali.

5. Pertempuran Lima Hari di Semarang – 15–19 Oktober 1945

Konflik dengan tentara Jepang pecah setelah muncul isu peracunan sumber air oleh pasukan mereka.

Gugurnya dr. Kariadi saat memeriksa sumber air menjadi pemicu kemarahan.

Baca Juga: Di Depan Jakmania, Fabio Calonego Tegaskan Siap Jaga Wibawa Persija seperti Jaga Keluarga Sendiri

Selama lima hari, pemuda Semarang bertempur melawan tentara Jepang bersenjata lengkap.

6. Agresi Militer Belanda I – 21 Juli–5 Agustus 1947

Belanda melancarkan serangan besar untuk merebut kembali wilayah Republik.

Dunia internasional mengecam, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa turun tangan membentuk Komisi Tiga Negara (KTN) untuk memediasi.

Agresi ini memperlihatkan betapa rapuhnya perjanjian dengan kolonial dan pentingnya dukungan internasional.

7. Agresi Militer Belanda II – 19 Desember 1948–5 Januari 1949

Yogyakarta, ibu kota Republik, diserang. Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta ditangkap, tetapi pemerintahan tidak lumpuh.

Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di bawah Sjafruddin Prawiranegara terus bergerak dari Bukittinggi.

Agresi ini justru memperkuat perlawanan gerilya dan simpati internasional, memaksa Belanda kembali ke meja perundingan.

Pertempuran-pertempuran ini adalah bukti bahwa kemerdekaan Indonesia ditempa di medan laga, bukan sekadar diplomasi.

Mereka mengajarkan bahwa persatuan, pengorbanan, dan keberanian adalah fondasi kedaulatan bangsa.

Di tengah tantangan zaman modern, semangat para pahlawan harus tetap hidup, menjadi inspirasi untuk menjaga persatuan dan membangun masa depan Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.

Baca Juga: Kembali ke JIS sebagai 'Mantan', Carlos Pena Ingin Bawa Persita Taklukkan Persija Jakarta

 

Laporan: Dwi Arya Rahmansyah Ramadhan/magang

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.