Hari Masyarakat Adat Sedunia, Sudahkah Inklusinya Terwujud?

AKURAT.CO Setiap 9 Agustus, dunia merayakan International Day of the World's Indigenous Peoples atau Hari Masyarakat Adat Sedunia. PBB menetapkannya pada tahun 1994 untuk mengenang pertemuan Working Group on Indigenous Populations tahun 1982.
Tema peringatan tahun 2025 adalah 'Indigenous Peoples and AI: Defending Rights, Shaping Futures'. Tema ini menyoroti hubungan antara masyarakat adat dan perkembangan kecerdasan buatan (AI), baik dari segi peluang maupun risiko.
Dikutip dari United Nations, Sabtu (9/8/2025), Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menegaskan bahwa AI harus dikembangkan secara inklusif dan adil. Ia menekankan perlunya melindungi kedaulatan data, hak kekayaan intelektual dan warisan budaya masyarakat adat.
Menurut Guterres, masyarakat adat adalah penjaga pengetahuan tradisional sekaligus pelestari keanekaragaman hayati dunia. Peran ini menjadi sangat penting dalam menghadapi perubahan iklim dan krisis lingkungan global.
Peringatan tahun ini diisi pertemuan virtual UN DESA pada 8 Agustus 2025 karena 9 Agustus jatuh pada Sabtu. Acara ini menjadi forum global membahas masa depan masyarakat adat di era teknologi.
Data PBB menyebutkan ada sekitar 476 juta masyarakat adat di lebih dari 90 negara. Mereka memperkaya dunia dengan ribuan bahasa, tradisi dan sistem pengetahuan yang unik, sebagaimana dikutip dari Global Voices.
Laporan The Indigenous World 2025 yang diterbitkan IWGIA memaparkan berbagai tantangan yang dihadapi komunitas adat. Laporan itu juga menyoroti peran generasi muda dalam mempertahankan identitas budaya di tengah tekanan modernisasi.
Meski kesadaran global terus tumbuh, inklusi sejati bagi masyarakat adat masih belum merata. Banyak komunitas masih menghadapi marginalisasi, perampasan tanah dan minimnya keterlibatan dalam kebijakan publik.
Di India, misalnya, masyarakat adat Tripura merayakan hari ini dengan pawai budaya dan ajakan mengenakan pakaian tradisional. Aksi tersebut sekaligus menjadi bentuk tuntutan pengakuan politik dan hak atas tanah.
Sementara di Ranchi, perayaan Adivasi Mela tahun ini dilakukan secara simbolis. Hal itu untuk menghormati wafatnya tokoh adat senior Shibu Soren, meski tema AI tetap diangkat dalam diskusi publik.
Banyak pihak melihat teknologi sebagai peluang untuk melestarikan budaya adat. Namun tanpa perlindungan hukum dan keterlibatan penuh, teknologi juga bisa menjadi ancaman terhadap kedaulatan komunitas adat.
Peringatan 9 Agustus tahun ini menjadi pengingat bahwa inklusi bukan sekadar jargon. Pengakuan hukum, akses sumber daya dan partisipasi sejajar adalah langkah nyata menuju keadilan bagi masyarakat adat di seluruh dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 2Contoh Teks Pidato Hari Santri 2026 Singkat dan Lucu, Mudah Dihafal!
- 3Prediksi Skor Lille vs Galatasaray: Duel Sengit Demi Poin Perdana Liga Champions
- 4Prediksi Skor Aston Villa vs Viking 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan Menang
- 5Prediksi Skor Sporting CP vs LASK Linz 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 6Prediksi Skor Bali United vs Garudayaksa 21 Oktober 2026: Serdadu Tridatu Diunggulkan?
- 7Siapa Aktivis Greenpeace yang Viral di Bundaran HI? Ini Profil dan Pesan Aksinya
- 8Prediksi Skor Bayern vs Arsenal 22 Oktober 2026: Duel Produktivitas dan Pertahanan
- 9Enam Perusahaan Kena Sanksi Karhutla, Total Sudah 32
- 10Prabowo Usut Tuntas Karhutla: Kali Ini Tidak Bisa Ditindak Biasa-biasa Saja







