Akurat

Kunci Jawaban Cerita Reflektif Modul 2 PPG 2025 Lengkap: Untuk Mempertajam Pemahaman Anda Mengenai Experiential Learning, Anda Memerlukan Orang Lain

Titania Isnaenin | 17 Juni 2025, 10:43 WIB
Kunci Jawaban Cerita Reflektif Modul 2 PPG 2025 Lengkap: Untuk Mempertajam Pemahaman Anda Mengenai Experiential Learning, Anda Memerlukan Orang Lain

AKURAT.CO Simak penjelasan dan jawaban lengkap mengenai "Untuk mempertajam pemahaman Anda mengenai Experiential Learning, Anda memerlukan orang lain".

Kunci jawaban cerita reflektif Modul 2 Topik 3 PPG 2025 merupakan materi tentang Kompetensi Guru dalam Penerapan Experiential Learning dalam pembelajaran.

Experiential Learning adalah metode belajar di mana pengetahuan dibentuk melalui perubahan bentuk pengalaman.

Menurut David Kolb, Experiential Learning berfokus pada pengalaman langsung sebagai sumber utama pengetahuan.

Proses belajar ini merujuk pada pengalaman langsung yang telah dilakukan sebelumnya. Penerapan Experiential Learning membutuhkan rencana dan pelaksanaan yang matang serta relevan agar sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Baca Juga: Proyek Gasifikasi LNG Nias Dimulai, PLN EPI Targetkan Rampung Dua Tahun

Menjawab Soal Cerita Reflektif Experiential Learning

Untuk menjawab soal latihan cerita reflektif tentang Experiential Learning, jawabannya dapat didasarkan pada pengalaman pribadi guru dan pemahaman setelah membaca serta mempelajari Modul 2 Topik 3. Guru dapat merefleksikan pengalaman mengajar yang disesuaikan dengan materi dalam modul.

Beberapa topik cerita reflektif yang muncul dalam Modul 2 Topik 3 

Strategi Guru dalam Mengidentifikasi Gaya Belajar Peserta Didik.

Pertanyaan ini muncul setelah guru menyelesaikan Latihan Pemahaman Modul 2 Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) Topik 3.

1. Setiap peserta didik adalah individu yang unik dengan gaya belajar berbeda. Sebagai guru, penting untuk mengakomodasi keunikan ini dengan menerapkan pendekatan pembelajaran yang beragam dan fleksibel.

Hal ini dapat dilakukan dengan mengidentifikasi gaya belajar melalui asesmen diagnostik atau observasi.

2. Guru dapat menyusun aktivitas pembelajaran yang bervariasi, seperti penggunaan media visual, diskusi kelompok, praktik langsung, dan refleksi tertulis.

Memberikan pilihan cara belajar atau tugas memungkinkan peserta didik mengekspresikan pemahaman mereka sesuai preferensi.

3. Menciptakan ruang belajar yang inklusif dan suportif, di mana setiap murid merasa dihargai, didengar, dan diberi ruang untuk berkembang, juga penting.

Berkomunikasi secara terbuka dengan peserta didik untuk mengetahui kenyamanan mereka dalam belajar juga diperlukan.

4. Guru dapat memvariasikan metode pengajaran, misalnya menggunakan grafik dan video untuk siswa visual, diskusi dan podcast untuk siswa auditori, serta eksperimen dan simulasi untuk siswa kinestetik.

Memanfaatkan teknologi seperti aplikasi interaktif dan simulasi virtual dapat mengakomodasi berbagai gaya belajar.

5. Menciptakan lingkungan belajar yang fleksibel dengan menyediakan sudut baca, ruang kerja kelompok, atau area untuk bergerak juga membantu.

Mendorong siswa untuk mengenal gaya belajar mereka sendiri dan bereksperimen dengan berbagai strategi belajar akan memberdayakan mereka sebagai pembelajar mandiri.

Membangun Motivasi Belajar Peserta Didik dan Lingkungan Sekolah yang Positif.

Guru memiliki peran penting dalam menciptakan program yang menumbuhkan motivasi belajar dan lingkungan sekolah yang positif.

1. Program dapat berpusat pada siswa, melibatkan mereka secara aktif, dan menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan nyata.

Contohnya adalah membuat "Pojok Inspirasi" di kelas yang menampilkan karya siswa, kutipan motivasi, dan cerita tokoh inspiratif untuk mendorong semangat belajar.

2. Guru juga dapat mengadakan "Proyek Mini" berbasis minat, seperti menulis cerita pendek atau eksperimen sains sederhana, di mana siswa bebas berekspresi.

"Jumat Apresiasi" dapat diinisiasi setiap pekan untuk memberikan apresiasi antar siswa, melatih empati, dan mempererat hubungan.

3. Kolaborasi dengan guru lain, orang tua, dan pihak sekolah penting untuk menciptakan suasana aman dan nyaman. Program seperti kelas ramah anak, zona bebas bullying, atau mentoring antar siswa mendukung tumbuh kembang peserta didik secara utuh.

4. Program juga dapat fokus pada Pemberdayaan Diri, seperti "Jurnal Refleksi & Tujuan Mingguan" untuk siswa menuliskan tujuan belajar dan merefleksikan kemajuan, serta "Bintang Apresiasi" untuk mengakui usaha positif.

5. Selain itu, program "Lingkungan Positif: Kita Tumbuh Bersama!" dapat menciptakan komunitas kelas dan sekolah yang suportif.

Contohnya adalah "Dinding Aspirasi Sekolah" untuk menuliskan impian, "Agen Perubahan Cilik" untuk mengampanyekan nilai positif, dan "Pohon Persahabatan" untuk memperkuat ikatan emosional.

Dalam memahami dan menerapkan experiential learning secara lebih mendalam, guru menyadari bahwa mereka tidak bisa berjalan sendiri, melainkan memerlukan inspirasi dan kolaborasi dengan orang lain.

Kerjasama dengan guru lain dan pihak sekolah sangat penting untuk menciptakan lingkungan yang ramah, inklusif, dan mendukung komunikasi positif antar siswa, guru, dan staf sekolah.

 

 

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.