Cara Guru Mengidentifikasi Emosi Diri dan Menjaga Relasi Sebelum Mengajar agar CASEL Berjalan Optimal

AKURAT.CO Bapak dan ibu guru sebelum mengajar, bagaimanakah cara Anda mengidentifikasi emosi diri dan menjaga relasi dengan orang lain sehingga penerapan CASEL dapat dilaksanakan dengan baik?
Pertanyaan di atas adalah salah satu pertanyaan reflektif dalam Modul 2 Topik 1 Pendidikan Profesi Guru (PPG) 2025 yang mengindikasikan bahwa sebelum masuk kelas, guru tidak hanya dituntut siap secara materi, tetapi juga matang secara emosional dan sosial.
Pertanyaan ini bukan sekadar formalitas evaluasi, melainkan ajakan bagi guru untuk menyadari perannya sebagai figur akademik sekaligus sosial-emosional di ruang belajar. Penerapan Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning (CASEL) menuntut kesiapan batin, kesadaran diri, dan kemampuan menjalin relasi yang sehat.
Mengapa Guru Perlu Mengenali Emosi Sebelum Mengajar?
Dalam konteks Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE), kondisi emosi guru sangat memengaruhi suasana kelas. Guru yang masuk kelas dengan emosi tidak stabil berpotensi menciptakan iklim belajar yang tegang, tidak aman, dan kurang suportif. Sebaliknya, guru yang sadar akan perasaannya sendiri cenderung lebih tenang, responsif, dan empatik terhadap siswa.
Di Modul 2 Topik 1 PPG 2025, PSE diperkenalkan sebagai pendekatan yang membantu pendidik memahami emosi diri, mengelolanya secara sehat, serta membangun hubungan positif dengan lingkungan sekitar. Inilah fondasi utama agar CASEL dapat diterapkan secara nyata, bukan hanya sebagai konsep.
Cara Mengidentifikasi Emosi Diri Sebelum Masuk Kelas
Mengidentifikasi emosi diri berarti mengenali apa yang sedang dirasakan, memahami penyebabnya, lalu mengelola respons secara sadar. Banyak guru memulainya dengan refleksi sederhana namun konsisten.
Salah satu praktik yang sering dilakukan adalah pengecekan diri singkat (quick self-check). Sebelum mengajar, guru meluangkan satu hingga dua menit untuk bertanya pada diri sendiri: “Apa yang sedang saya rasakan hari ini? Apakah saya tenang, cemas, lelah, atau justru bersemangat?” Pertanyaan ini membantu guru hadir secara utuh sebelum berinteraksi dengan siswa.
Selain itu, guru juga dapat memperhatikan sinyal fisik yang muncul. Emosi sering kali ditandai dengan reaksi tubuh, seperti napas yang tidak teratur, jantung berdebar, atau otot terasa tegang. Dengan menyadari tanda-tanda ini, guru bisa segera melakukan penyesuaian sebelum emosi negatif terbawa ke kelas.
Beberapa guru memilih latihan pernapasan atau mindfulness singkat. Menarik napas dalam beberapa kali, memusatkan perhatian pada aliran napas, dan menenangkan pikiran terbukti membantu menstabilkan emosi. Ada pula yang menuliskan perasaan dalam catatan kecil atau jurnal refleksi untuk memahami pola emosi yang sering muncul.
Yang tidak kalah penting, guru diajak untuk jujur pada diri sendiri tanpa menghakimi. Mengakui rasa lelah atau tertekan bukan kelemahan, melainkan langkah awal agar emosi tersebut tidak berdampak negatif pada proses pembelajaran.
Menjaga Relasi dengan Orang Lain sebagai Bagian dari CASEL
Selain kesadaran diri, CASEL menekankan pentingnya keterampilan berelasi. Lingkungan belajar yang sehat tidak akan terwujud tanpa hubungan yang saling menghargai, baik antara guru dan siswa maupun antar rekan sejawat.
Dalam praktik sehari-hari, menjaga relasi bisa dimulai dari hal sederhana. Banyak guru membangun kedekatan dengan menyapa siswa secara hangat di awal pembelajaran. Sapaan ringan, senyum, atau pertanyaan singkat tentang kondisi siswa membantu menciptakan rasa aman dan keterhubungan emosional.
Komunikasi yang empatik juga menjadi kunci. Guru berusaha mendengarkan siswa secara aktif, tanpa terburu-buru menghakimi atau memotong pembicaraan. Dengan memahami sudut pandang siswa, guru dapat merespons dengan lebih bijak dan manusiawi.
Hubungan dengan rekan guru pun tak kalah penting. Sikap terbuka, kolaboratif, dan saling mendukung di lingkungan kerja membantu menjaga keseimbangan emosi. Diskusi ringan, berbagi ide, atau sekadar saling memberi apresiasi dapat menciptakan suasana kerja yang lebih harmonis.
Ketika terjadi perbedaan pendapat atau konflik, guru dituntut untuk mengelolanya secara dewasa. Fokus pada solusi, bukan pada kesalahan, menjadi prinsip penting dalam menjaga relasi jangka panjang.
Penerapan Lima Kompetensi CASEL dalam Keseharian Guru
CASEL memiliki lima kompetensi inti yang saling berkaitan dan dapat diterapkan secara sederhana dalam rutinitas guru.
Kesadaran diri (self-awareness) diwujudkan dengan kebiasaan mengecek kondisi emosional sebelum mengajar. Guru menyadari apa yang dirasakan dan bagaimana hal itu bisa memengaruhi interaksi di kelas.
Manajemen diri (self-management) terlihat saat guru mampu mengendalikan respons emosional, misalnya dengan mengatur napas atau menenangkan pikiran ketika menghadapi situasi menantang.
Kesadaran sosial (social awareness) tercermin dari kepedulian terhadap kondisi orang lain. Guru peka melihat siswa atau rekan yang sedang mengalami kesulitan dan berusaha menunjukkan empati.
Keterampilan berelasi (relationship skills) tampak dalam komunikasi yang menghargai, kerja sama, dan kemampuan menyelesaikan konflik secara sehat.
Sementara itu, pengambilan keputusan yang bertanggung jawab (responsible decision-making) dilakukan dengan mempertimbangkan dampak setiap tindakan, baik bagi diri sendiri, siswa, maupun lingkungan sekolah.
Contoh Jawaban Cerita Reflektif Modul 2 Topik 1 PPG 2025
Karena soal ini bersifat reflektif, tidak ada satu jawaban mutlak. Namun, berikut beberapa versi jawaban yang dapat dijadikan referensi:
Jawaban alternatif 1
Sebelum mengajar, saya melakukan pengecekan emosi diri secara singkat. Saya menarik napas dalam dan mengenali perasaan yang sedang saya alami. Jika ada emosi negatif, saya mengakuinya tanpa menghakimi diri sendiri, lalu berusaha tetap fokus pada tujuan pembelajaran. Untuk menjaga relasi, saya menyapa siswa dengan hangat dan berkomunikasi secara empatik dengan rekan guru agar suasana belajar tetap positif.
Jawaban alternatif 2
Saya menyadari bahwa kondisi emosional saya sangat memengaruhi suasana kelas. Oleh karena itu, sebelum masuk kelas, saya menenangkan diri dan mengingat kembali alasan saya menjadi guru. Dalam menjaga relasi, saya berusaha hadir sepenuhnya saat berinteraksi, baik dengan siswa maupun rekan sejawat, sehingga prinsip CASEL dapat diterapkan secara konsisten.
Jawaban alternatif 3
Sebelum mengajar, saya melakukan refleksi kecil tentang emosi yang saya rasakan. Jika merasa lelah atau tertekan, saya menenangkan diri agar tidak membawa energi negatif ke kelas. Saya juga menjaga relasi dengan mendengarkan siswa secara aktif dan membangun komunikasi yang saling mendukung dengan rekan guru.
Mengapa Refleksi Emosional Penting bagi Guru?
Refleksi ini menegaskan bahwa guru bukan hanya pengajar materi, tetapi juga teladan dalam pengelolaan emosi dan hubungan sosial. Dengan memahami diri sendiri dan orang lain, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan mendukung perkembangan akademik sekaligus sosial-emosional siswa.
Penerapan CASEL yang konsisten membantu membangun kelas yang lebih manusiawi, di mana siswa merasa dihargai dan didengar. Inilah esensi Pembelajaran Sosial dan Emosional yang ditekankan dalam PPG 2025.
Penutup
Kemampuan guru mengidentifikasi emosi diri dan menjaga relasi sebelum mengajar menjadi kunci utama keberhasilan penerapan CASEL. Langkah-langkah sederhana seperti refleksi diri, pengelolaan emosi, dan komunikasi empatik mampu membawa dampak besar bagi suasana kelas.
Jika kamu sedang mempersiapkan diri menghadapi cerita reflektif Modul 2 Topik 1 PPG 2025, pemahaman ini bisa menjadi bekal penting. Pantau terus pembahasan dan panduan PPG terbaru agar proses belajar dan refleksi berjalan lebih optimal.
FAQ
1. Apa yang dimaksud dengan CASEL dalam konteks pembelajaran?
CASEL adalah singkatan dari Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning, yaitu kerangka pembelajaran yang menekankan pengembangan kompetensi akademik, sosial, dan emosional secara seimbang. Dalam konteks pendidikan, CASEL membantu guru dan siswa membangun kesadaran diri, empati, keterampilan sosial, serta kemampuan mengambil keputusan yang bertanggung jawab.
2. Mengapa guru perlu mengidentifikasi emosi diri sebelum mengajar?
Identifikasi emosi diri penting agar guru menyadari kondisi emosionalnya sebelum berinteraksi dengan siswa. Emosi guru sangat memengaruhi suasana kelas, cara berkomunikasi, serta respons terhadap perilaku siswa. Guru yang sadar emosinya cenderung lebih tenang, adil, dan mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan suportif.
3. Bagaimana cara sederhana guru mengenali emosi diri sebelum masuk kelas?
Guru dapat melakukan refleksi singkat dengan bertanya pada diri sendiri tentang perasaan yang sedang dialami. Selain itu, memperhatikan sinyal fisik seperti ketegangan tubuh atau napas yang tidak teratur, serta melakukan latihan pernapasan atau mindfulness singkat, dapat membantu menstabilkan emosi sebelum mengajar.
4. Apa hubungan menjaga relasi dengan penerapan CASEL?
Menjaga relasi merupakan bagian penting dari kompetensi CASEL, khususnya keterampilan berelasi dan kesadaran sosial. Hubungan yang baik antara guru dengan siswa maupun rekan sejawat membantu menciptakan suasana belajar yang nyaman, meningkatkan rasa saling percaya, dan mendukung proses pembelajaran yang lebih efektif.
5. Bagaimana contoh menjaga relasi yang bisa dilakukan guru di sekolah?
Contoh sederhana menjaga relasi antara lain menyapa siswa dengan hangat, mendengarkan secara aktif saat siswa berbicara, menggunakan komunikasi yang empatik, serta membangun kerja sama dengan rekan guru melalui diskusi dan kolaborasi. Langkah kecil ini berdampak besar pada iklim sosial-emosional di sekolah.
6. Apa saja lima kompetensi utama CASEL yang perlu dipahami guru?
Lima kompetensi utama CASEL meliputi kesadaran diri, manajemen diri, kesadaran sosial, keterampilan berelasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Kelima kompetensi ini saling berkaitan dan dapat diterapkan dalam aktivitas mengajar sehari-hari.
7. Apakah jawaban cerita reflektif Modul 2 Topik 1 PPG 2025 harus sama persis?
Tidak. Cerita reflektif bersifat personal dan kontekstual. Jawaban yang baik adalah jawaban yang jujur, relevan dengan pengalaman mengajar, dan mencerminkan pemahaman terhadap konsep PSE dan CASEL. Contoh jawaban hanya berfungsi sebagai panduan, bukan untuk disalin mentah-mentah.
8. Mengapa PSE dan CASEL menjadi fokus dalam PPG 2025?
PSE dan CASEL dianggap penting karena membantu guru memahami peran emosional dan sosialnya dalam pembelajaran. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan hasil akademik siswa, tetapi juga membentuk karakter, empati, dan kemampuan sosial yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
9. Bagaimana dampak penerapan CASEL terhadap suasana kelas?
Penerapan CASEL yang konsisten dapat menciptakan kelas yang lebih aman, nyaman, dan inklusif. Siswa merasa dihargai, lebih berani mengekspresikan diri, serta memiliki hubungan yang lebih positif dengan guru dan teman sekelas.
10. Apa manfaat jangka panjang bagi guru yang menerapkan CASEL?
Bagi guru, penerapan CASEL membantu menjaga kesehatan emosional, meningkatkan kualitas relasi kerja, serta membuat proses mengajar terasa lebih bermakna. Dalam jangka panjang, guru menjadi lebih adaptif, reflektif, dan siap menghadapi tantangan pembelajaran yang terus berkembang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









