Apa Itu Baby Blues Syndrome? Inilah Pengertian, Ciri-Ciri, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

AKURAT.CO Melahirkan sering digambarkan sebagai momen paling membahagiakan dalam hidup seorang perempuan. Namun, di balik kebahagiaan menyambut bayi, banyak ibu justru mengalami perubahan emosi yang tidak terduga. Perasaan sedih, mudah menangis, cemas, hingga kewalahan bisa muncul hanya beberapa hari setelah persalinan. Kondisi inilah yang dikenal sebagai baby blues syndrome.
Baby blues bukan tanda kegagalan menjadi ibu, bukan pula sesuatu yang memalukan. Kondisi ini sangat umum terjadi dan dialami oleh sebagian besar ibu setelah melahirkan. Lalu, apa itu baby blues, mengapa bisa terjadi, dan bagaimana cara mengatasinya agar tidak berkembang menjadi depresi yang lebih serius? Berikut penjelasan lengkapnya.
Apa Itu Baby Blues Syndrome?
Baby blues syndrome adalah kondisi emosional berupa perasaan sedih, cemas, mudah menangis, atau perubahan suasana hati yang dialami ibu pada masa awal setelah melahirkan. Kondisi ini biasanya mulai muncul pada hari ke-2 hingga ke-5 setelah persalinan.
Baby blues bersifat sementara. Pada umumnya, gejala akan mereda dengan sendirinya dalam beberapa hari dan paling lama berlangsung hingga dua minggu. Data menunjukkan sekitar 4 dari 5 ibu baru atau sekitar 80 persen pernah mengalami baby blues, terlepas dari usia, latar belakang pendidikan, budaya, atau apakah ia baru pertama kali melahirkan maupun sudah beberapa kali.
Meski sering dianggap ringan, baby blues tetap perlu dikenali sejak dini. Jika dibiarkan tanpa dukungan yang cukup, kondisi ini berisiko berkembang menjadi depresi pascamelahirkan (postpartum depression) yang jauh lebih serius.
Mengapa Baby Blues Bisa Terjadi Setelah Melahirkan?
Tidak ada satu penyebab tunggal yang menjelaskan mengapa baby blues muncul. Namun, para ahli sepakat bahwa kondisi ini dipicu oleh kombinasi perubahan fisik, hormonal, dan psikologis yang terjadi secara bersamaan setelah persalinan.
Perubahan hormon yang drastis
Setelah melahirkan, kadar hormon estrogen dan progesteron dalam tubuh ibu turun secara signifikan. Penurunan hormon ini dapat memengaruhi kerja zat kimia di otak yang mengatur suasana hati, sehingga ibu menjadi lebih sensitif, mudah sedih, atau emosional tanpa alasan yang jelas.
Kelelahan dan kurang tidur
Bayi baru lahir memiliki pola tidur yang belum teratur dan sering terbangun di malam hari. Kurang tidur yang terjadi terus-menerus membuat tubuh dan pikiran ibu kelelahan. Kondisi ini terbukti berkaitan erat dengan meningkatnya risiko baby blues, terutama jika ibu sudah mengalami gangguan tidur sejak trimester akhir kehamilan.
Stres menghadapi peran baru sebagai ibu
Menjadi ibu adalah perubahan besar dalam hidup. Tanggung jawab merawat bayi, rasa takut melakukan kesalahan, serta kekhawatiran apakah dirinya mampu menjadi orang tua yang baik dapat menimbulkan stres emosional yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Kurangnya dukungan emosional
Ibu yang merasa harus menghadapi semuanya sendiri tanpa bantuan pasangan, keluarga, atau lingkungan sekitar cenderung lebih rentan mengalami baby blues. Dukungan sederhana seperti ditemani, didengarkan, atau dibantu pekerjaan rumah bisa sangat berarti pada masa ini.
Ciri-Ciri Baby Blues Syndrome yang Perlu Dikenali
Ciri utama baby blues adalah perubahan suasana hati yang cepat. Ibu bisa merasa sangat bahagia dan bangga pada satu waktu, lalu tiba-tiba merasa sedih, menangis, atau putus asa di waktu berikutnya.
Selain itu, baby blues juga sering ditandai dengan beberapa kondisi berikut:
-
Mudah menangis tanpa sebab yang jelas
-
Merasa cemas, gelisah, atau khawatir berlebihan
-
Mudah tersinggung dan sensitif
-
Kelelahan hingga sulit mengurus diri sendiri
-
Sulit tidur meskipun tubuh sangat lelah
-
Nafsu makan menurun
-
Sulit berkonsentrasi atau mengambil keputusan sederhana
-
Merasa kewalahan menghadapi tugas merawat bayi
Pada kebanyakan kasus, gejala ini mulai membaik sekitar hari ke-10 setelah melahirkan. Jika perasaan sedih justru semakin intens, tidak membaik setelah dua minggu, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut perlu diwaspadai.
Perbedaan Baby Blues dan Depresi Pascamelahirkan
Baby blues sering kali disamakan dengan depresi pascamelahirkan karena memiliki gejala awal yang mirip. Namun, keduanya adalah kondisi yang berbeda.
Baby blues bersifat ringan dan sementara. Sementara itu, depresi pascamelahirkan berlangsung lebih lama dan gejalanya jauh lebih berat. Pada depresi pascamelahirkan, ibu bisa merasa putus asa, tidak berharga, kehilangan ikatan emosional dengan bayinya, hingga muncul pikiran untuk melukai diri sendiri atau bayinya.
Sekitar 10 persen wanita mengalami depresi pascamelahirkan. Karena itu, penting bagi ibu dan orang terdekat untuk tidak mengabaikan perubahan emosi yang terjadi setelah persalinan.
Faktor Risiko yang Meningkatkan Baby Blues
Meski bisa dialami siapa saja, ada beberapa kondisi yang dapat meningkatkan kemungkinan seorang ibu mengalami baby blues. Di antaranya adalah kehamilan yang tidak direncanakan, melahirkan bayi pertama, pengalaman persalinan yang sulit atau berisiko, riwayat depresi atau kecemasan sebelumnya, hingga kurangnya dukungan sosial.
Masalah tidur, stres berlebih, rasa tidak percaya diri, serta kondisi kesehatan tertentu juga berperan dalam memperberat reaksi emosional setelah melahirkan.
Cara Mengatasi Baby Blues Agar Tidak Berkembang Lebih Serius
Kabar baiknya, baby blues bisa diatasi dengan langkah-langkah sederhana yang berfokus pada pemulihan fisik dan emosional ibu.
Istirahat yang cukup menjadi kunci utama. Ibu disarankan tidur saat bayi tidur dan tidak memaksakan diri menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Asupan makanan bergizi juga penting untuk membantu menstabilkan energi dan suasana hati.
Melakukan aktivitas ringan seperti berjalan santai di luar rumah, berjemur di bawah sinar matahari pagi, atau olahraga ringan sesuai anjuran dokter dapat membantu memperbaiki mood. Jika memungkinkan dan ibu merasa nyaman, menyusui secara langsung juga dapat meningkatkan hormon oksitosin yang berperan dalam menciptakan rasa tenang dan bahagia.
Selain itu, jangan ragu untuk berbagi cerita dengan pasangan, keluarga, atau teman dekat. Dukungan emosional dan bantuan praktis dari orang terdekat sangat membantu ibu melewati masa transisi ini.
Baca Juga: Rekomendasi Deterjen Terbaik Khusus untuk Pakaian Bayi: Aman untuk Kulit Sensitif
Baca Juga: Rekomendasi Lotion Bayi untuk Kulit Kering: Aman, Lembut, dan Melembapkan
Kapan Harus Mencari Bantuan Profesional?
Baby blues memang wajar, tetapi tidak boleh dianggap sepele. Jika perasaan sedih tidak membaik setelah dua minggu, semakin berat, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri maupun bayi, segera cari bantuan tenaga kesehatan seperti dokter, psikolog, atau psikiater.
Mencari bantuan bukan tanda kelemahan, melainkan langkah penting untuk menjaga kesehatan ibu dan bayi.
Kesimpulan
Baby blues syndrome adalah kondisi emosional yang umum terjadi setelah melahirkan akibat perubahan hormon, kelelahan, stres, dan proses adaptasi menjadi ibu. Meski biasanya bersifat sementara, baby blues tetap perlu dikenali dan ditangani dengan baik agar tidak berkembang menjadi depresi pascamelahirkan.
Menjadi ibu baru adalah perjalanan besar yang penuh tantangan. Memberi waktu untuk diri sendiri, menerima bantuan, dan memahami bahwa perasaan sedih bukanlah kesalahan adalah langkah awal untuk melewati fase ini dengan lebih sehat.
Kalau kamu tertarik membaca topik kesehatan mental dan parenting lainnya, pantau terus update artikel terbaru di AKURAT.CO agar tidak ketinggalan informasi penting berikutnya.
Baca Juga: Pentingya Menerapkan Rutinitas Harian untuk Anak yang Dianjurkan Pakar Parenting
Baca Juga: Cara Membantu Anak Autis Bersosialisasi dengan Teman, Bisa Dilatih Sehari-hari
FAQ Seputar Baby Blues Syndrome
1. Apa itu baby blues syndrome?
Baby blues syndrome adalah kondisi emosional yang umum dialami ibu setelah melahirkan, ditandai dengan perasaan sedih, mudah menangis, cemas, dan perubahan suasana hati. Kondisi ini biasanya muncul pada hari ke-2 hingga ke-5 setelah persalinan dan bersifat sementara.
2. Apakah baby blues itu normal setelah melahirkan?
Ya, baby blues merupakan kondisi yang sangat umum dan normal. Sekitar 80 persen ibu baru mengalami baby blues, baik pada kehamilan pertama maupun berikutnya, tanpa memandang usia atau latar belakang tertentu.
3. Berapa lama baby blues biasanya berlangsung?
Baby blues umumnya berlangsung selama beberapa hari dan paling lama hingga 2 minggu setelah melahirkan. Pada kebanyakan kasus, gejalanya akan membaik dengan sendirinya tanpa pengobatan khusus.
4. Apa perbedaan baby blues dan depresi pascamelahirkan?
Perbedaan utama terletak pada durasi dan tingkat keparahan gejala. Baby blues bersifat ringan dan sementara, sedangkan depresi pascamelahirkan berlangsung lebih lama dan disertai gejala berat seperti perasaan putus asa, merasa tidak berharga, hingga muncul pikiran menyakiti diri sendiri atau bayi.
5. Apa saja ciri-ciri baby blues syndrome?
Ciri baby blues meliputi perubahan suasana hati yang cepat, mudah menangis, cemas, mudah tersinggung, sulit tidur, kelelahan, menurunnya nafsu makan, dan merasa kewalahan mengurus bayi.
6. Apa penyebab baby blues setelah melahirkan?
Baby blues dipicu oleh kombinasi beberapa faktor, seperti penurunan hormon setelah persalinan, kurang tidur, kelelahan fisik, stres menghadapi peran baru sebagai ibu, serta kurangnya dukungan dari lingkungan sekitar.
7. Apakah ayah juga bisa mengalami baby blues?
Ya, meskipun lebih jarang, ayah juga dapat mengalami baby blues. Perubahan peran, tekanan ekonomi, kurang tidur, dan tanggung jawab baru sebagai orang tua bisa memengaruhi kondisi emosional ayah.
8. Apakah baby blues bisa sembuh tanpa pengobatan?
Sebagian besar kasus baby blues dapat sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan medis. Istirahat cukup, dukungan emosional, pola makan sehat, dan waktu untuk menyesuaikan diri sangat membantu proses pemulihan.
9. Bagaimana cara mengatasi baby blues di rumah?
Beberapa cara mengatasi baby blues antara lain dengan tidur cukup, beristirahat saat bayi tidur, makan makanan bergizi, melakukan aktivitas ringan, berbagi cerita dengan orang terdekat, serta tidak ragu meminta bantuan saat dibutuhkan.
10. Kapan baby blues perlu diperiksakan ke dokter?
Baby blues perlu diperiksakan ke dokter jika gejalanya tidak membaik setelah 2 minggu, semakin berat, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri maupun bayi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.








