Akurat

Kasus Perceraian Masih Tinggi, Ini 8 Dampak Psikologis bagi Anak yang Sering Terjadi

Kosim Rahman | 6 Agustus 2025, 15:00 WIB
Kasus Perceraian Masih Tinggi, Ini 8 Dampak Psikologis bagi Anak yang Sering Terjadi

AKURAT.CO Dampak perceraian orang tua pada anak menjadi perhatian serius di tengah maraknya isu perceraian yang kembali ramai di masyarakat.

Meski perceraian kerap dianggap sebagai solusi terakhir bagi pasangan yang mengalami konflik berat, sayangnya tidak sedikit yang lupa bahwa anak-anak adalah pihak paling terdampak.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, tercatat sebanyak 399.921 kasus perceraian terjadi di Indonesia sepanjang tahun tersebut.

Angka ini menunjukkan bahwa perceraian masih menjadi fenomena sosial yang tinggi dan belum menunjukkan tren penurunan yang signifikan.

Perceraian bukan hanya memisahkan dua individu, tapi juga mengguncang stabilitas emosional anak yang terlibat.

Baca Juga: Perceraian Seleb TikTok Ruce Nuenda dan Aryo, Minta Maaf pada Anak

Anak-anak kerap kali merasa bingung, cemas, bahkan menyalahkan diri sendiri atas perpisahan orang tuanya.

Perceraian membawa dampak psikologis yang besar bagi anak-anak. Berikut ini delapan dampak psikologis perceraian yang perlu diketahui setiap orang tua:

Dampak Psikologis Perceraian Bagi Anak

1. Rasa Cemas dan Ketidakpastian

Anak sering kali kehilangan rasa aman saat mengetahui orang tuanya akan berpisah.

Mereka mulai mempertanyakan dengan siapa mereka akan tinggal, bagaimana hidup mereka ke depan, dan apakah kasih sayang orang tua akan berubah.

2. Gangguan Emosional

Anak-anak bisa mengalami kesedihan mendalam, perubahan suasana hati, dan stres berkepanjangan.

Beberapa bahkan menunjukkan gejala depresi atau kecemasan berlebih akibat situasi yang tidak mereka pahami sepenuhnya.

3. Penurunan Prestasi Akademik

Perubahan suasana di rumah bisa memengaruhi konsentrasi anak di sekolah.

Banyak anak yang mengalami penurunan nilai atau menjadi kurang aktif dalam kegiatan belajar.

4. Perubahan Perilaku

Sebagian anak menunjukkan perilaku agresif, menarik diri dari pergaulan, atau bahkan mulai membangkang sebagai bentuk reaksi terhadap perasaan tidak nyaman yang mereka alami.

5. Pandangan Negatif terhadap Hubungan

Anak yang tumbuh dalam situasi perceraian bisa memiliki pandangan pesimis terhadap pernikahan atau hubungan jangka panjang. Mereka bisa menjadi lebih sulit percaya pada komitmen.

6. Rasa Bersalah

Baca Juga: Respons Tingginya Angka Perceraian, Menag Usul Bab Pelestarian Perkawinan Masuk Revisi UU

Anak sering kali menganggap dirinya sebagai penyebab perceraian orang tua.

Perasaan ini bisa sangat membebani secara emosional jika tidak segera diluruskan dan ditangani secara bijak.

7. Kehilangan Figur Orang Tua

Setelah perceraian, biasanya anak tinggal dengan salah satu orang tua.

Minimnya interaksi dengan ayah atau ibu bisa mengganggu pembentukan karakter dan keseimbangan emosional anak.

8. Kesulitan Beradaptasi dengan Kehidupan Baru

Perceraian sering kali diikuti dengan pindah rumah, sekolah baru, hingga lingkungan sosial yang berbeda.

Semua perubahan ini menuntut anak untuk cepat beradaptasi, yang tidak selalu mudah dilakukan.

Isu perceraian memang kompleks, namun orang tua tetap memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga stabilitas emosi dan kesejahteraan anak.

Memahami dampak perceraian pada anak adalah langkah awal untuk mencegah luka yang lebih dalam.

Baca Juga: Mendagri: Regulasi Baru Poligami untuk Lindungi Keluarga dan Cegah Perceraian

Dukungan emosional, komunikasi terbuka, dan pendekatan yang penuh kasih sayang akan membantu anak melalui masa sulit ini dengan lebih kuat.

Itulah delapan dampak perceraian pada anak yang penting dipahami di tengah tingginya angka perceraian di Indonesia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.