Mau Nikah? Baiknya Bagi Peran Mendidik Anak antara Calon Ayah dan Ibu

AKURAT.CO Biasanya hal ini jarang sekali didiskusikan bagi pasangan yang hendak menikah. Pasangan yang akan melangsungkan pernikahan biasanya sudah terlampau membayangkan betapa indahnya membangun rumah tangga bersama orang yang dicintai, pesta pernikahan yang seperti apa, dan bagaimana anak-anak mereka kelak lucu-lucu dan pintar-pintar tanpa pernah memerhatikan secara detail bagaimana peran mereka masing-masing sebagai orang tua terlepas apakah mereka memutuskan untuk memiliki anak atau tidak.
Baca Juga: Menakjubkan, Begini Al-Qur’an Menyebutkan Peran Ayah untuk Pertumbuhan Anaknya
Ini bukan disebut sebagai pembagian tugas, karena jika kita menyebutnya sebagai pembagian tugas, maka tidak akan ada yang namanya KETERSALINGAN dengan pasangan dalam hal parenting karena adanya pemisahan antara yang mana “Tugas Ayah” dan yang mana “Tugas Ibu.” Padahal, dalam kenyataannya dalam berumah tangga apalagi mendidik anak, tidak ada yang namanya “Tugas Ayah” atau “Tugas Ibu” semata, kedua pasangan harus saling bahu membahu memberikan cinta dan kasih sayang pada anak mereka.
Walaupun mungkin memang tidak ada yang harus dipisahkan antara mana “Tugas Ayah” dan mana “Tugas Ibu,” kita tetap memerlukan penekanan peran ayah dan ibu pada garis besar yang sama namun dipisahkan pada detail yang berbeda, seperti misalnya; tugas ayah dan ibu adalah sama-sama memberikan nasihat namun seorang ibu biasanya akan memberikan nasihat yang berputar pada apa yang bisa diaplikasikan anak sehari-hari seperti adab, akhlak, budi pekerti, perilaku baik dan sopan santun. Petuah-petuah yang bisa digunakan anak-anak untuk menjalankan kehidupannya sehari-hari. Dan frekuensi dari nasihat ibu biasanya “sering” atau setiap saat yang diperlukan untuk perkembangan dan pertumbuhan anak bukan hanya dari segi kemampuan, tapi juga dari segi akhlak.
Baca Juga: KPAI: Peran Ayah Jadi Kunci Tumbuh Kembang Anak
Di sisi lain, ayah juga memberikan nasihat, namun Ayah akan lebih bagus jika memberikan nasihat denga frekuensi yang tidak terlampau sering contohnya sebulan sekali. Walaupun frekuensi nasihat ayah lebih jarang ketimbang ibu, namun ayah akan memberikan nasihat dengan konteks yang lebih dalam berupa makna hidup, tujuan hidup, kepemimpinan, jiwa kesatria, prinsip hidup, dan lain sebagainya. Namun bukan berarti jika ayah memberikan nasihat pada anak dengan frekuensi sebulan sekali, tidak serta merta artinya hari-hari lain ayah tidak bonding dengan anak ya…
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









