Elemen Pembelajaran Berdiferensiasi, Simak Penjelasan serta Penerapan di Kelas Berikut!

AKURAT.CO Kali ini, fokus kita adalah bagaimana menyelaraskan kebutuhan murid dengan tujuan pembelajaran.
Pertama-tama, mari kita ambil contoh dari Pak Usro, seorang guru SD kelas 4 yang sedang menghadapi tantangan dalam melakukan assessment diagnostik untuk mata pelajaran IPA.
Dari hasil asesmen, ia menyadari bahwa ada variasi pemahaman murid terkait konsep perubahan wujud zat.
Sebagai solusi, Pak Usro membagi murid ke dalam tiga kelompok (A, B, dan C) dan menyesuaikan tujuan pembelajarannya sesuai dengan kebutuhan masing-masing kelompok.
Model Diferensiasi: Modifikasi Proses, Produk, dan Konten
Menurut Mercy Norland, kita dapat menerapkan pembelajaran berdiferensiasi melalui tiga alternatif modifikasi, yaitu modifikasi proses, produk akhir, dan konten.
Ini memberikan fleksibilitas kepada guru untuk menyesuaikan tujuan pembelajaran, konten, aktivitas, bahkan produk akhir murid sesuai dengan kebutuhan, minat, dan kemampuan mereka.
Penerapan Diferensiasi
Cara penerapannya dapat dilihat kembali dari kasus Pak Usro. Setelah membagi murid ke dalam kelompok-kelompok, ia membuat tujuan pembelajaran yang berbeda-beda untuk masing-masing kelompok.
Ini merupakan contoh dari diferensiasi konten, di mana setiap kelompok memiliki tujuan yang disesuaikan dengan tingkat pemahaman mereka.
Kedepannya, pengelompokan ini juga akan membantu dalam melakukan diferensiasi produk akhir, di mana murid dapat mengekspresikan pemahaman mereka melalui berbagai cara sesuai dengan kelompoknya.
Menghadirkan Fleksibilitas dalam Kelas
Pada saat diskusi kelas, guru dapat memberikan panduan dan alat peraga yang berbeda-beda di setiap kelompok.
Hal ini membantu murid dalam mencapai tujuan pembelajaran sesuai dengan cara yang paling efektif bagi mereka.
Baca Juga: Bagaimana Perubahan Peran Guru dalam Sebuah Kelas yang Menerapkan Pembelajaran Berdiferensiasi
Mengajak Murid Terlibat Aktif
Dalam pengajaran yang berdiferensiasi, guru juga dapat mengajak murid untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran.
Misalnya, memberikan kesempatan kepada murid untuk menentukan proyek akhir mereka sendiri.
Ini tidak hanya memotivasi, tetapi juga memberikan kebebasan kepada murid untuk mengekspresikan pemahaman mereka.
Menyelaraskan Kebutuhan dengan Tujuan
Dengan mengenali kebutuhan dan kemampuan murid, serta menyelaraskannya dengan tujuan pembelajaran, guru dapat menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan bermakna.
Guru bukan hanya menjadi sumber utama belajar, tetapi juga fasilitator yang mendukung perkembangan unik setiap murid.
Pesan Akhir
Selalu ingat bahwa setiap murid memiliki potensi yang berbeda.
Dengan menerapkan diferensiasi, kita dapat menciptakan ruang belajar yang menyenangkan dan mendukung setiap murid dalam mencapai potensi maksimalnya.
Semangat untuk terus belajar, para guru hebat! Sampai jumpa di materi berikutnya. Salam dan bahagia!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.







