Akurat

Destinasi Tanpa Jiwa

Afriadi Ajo | 19 Januari 2026, 15:01 WIB
Destinasi Tanpa Jiwa

 

Paradoks Fasilitas dan Loyalitas

Kegiatan berwisata saat ini, di Indonesia maupun dunia, sepertinya sudah menjadi kewajiban ritual seseorang atau sebuah keluarga. Pernyataan ini bisa divalidasi ketika di akhir pekan, terlebih lagi libur panjang atau libur kejepit, banyak keluarga atau individu yang pergi berwisata.

Ragam cara pergi wisata pun begitu variatif. Ada yang rombongan, sendirian, atau malah sendirian tadinya lalu gabung dengan peserta lain di tujuan melalui model open trip. Dari sisi biaya, memang saat ini, begitu memudahkan. Berwisata tidak melulu harus mahal. Kadang hanya menggunakan sepeda motor, pergi ke sebuah titik destinasi, lalu pulang lagi. Selesai.

Namun jika diperdalam, mengapa banyak tempat wisata berfasilitas sederhana dan berpelayanan biasa justru memiliki pengunjung setia yang terus bertambah? Sementara itu, tempat wisata lain harus terus-menerus mereproduksi wahana atau permainan baru agar tetap menjadi pilihan pasar.

Baca Juga: 7 Destinasi Wisata Danau Terindah di Sumatera Utara yang Cocok Dikunjungi Saat Libur Akhir Tahun

Untuk menjawab ini, kita perlu membedah jenis destinasi wisata terlebih dahulu.

Tipologi Destinasi Wisata

Secara garis besar, destinasi wisata terbagi menjadi dua kategori utama: Pertama, destinasi berbasis alam. Destinasi ini menyajikan keindahan alam seperti ngarai, gunung, lautan, atau sungai, atau hal lain yang bukan merupakan buatan tangan manusia. Manusia hanya melakukan intervensi kecil karena atraksi utamanya telah disediakan oleh Tuhan. Keunikan tempat ini, seperti Ngarai Sianok, Pangandaran, Geni Langit, Kuta Bali, atau yang lainnya, bersifat melekat (inheren) dan tidak dapat direplikasi atau dipindahkan ke tempat lain.

Pada model wisata alam seperti ini, wisatawan datang untuk menikmati keindahan, pesona, serta mengagumi rancangan atau desain Tuhan di bumi. Terkadang, intervensi-intervensi kecil dari manusia menbuat destinasi tersebut menjadi “hit”, atau viral, sehingga mengundang lebih banyak pengunjung lagi.

Misalnya, sebuah sungai yang airnya jernih kemudian diintervensi dengan meletakkan glamping di pinggiraannya. Wisatawan disuguhi tarian dan alunan lembut suara alam melalui air yang mengalir seharian. Sungai produk Tuhan tersebut kemudian dipasarkan dengan sedikit modifikasi di luarnya sehingga mengundang banyak wisatawan.

Kedua, destinasi buatan manusia. Destinasi ini, baik yang berbasis air seperti waterboom dan sejenisnya, teknologi seperti replikasi dinosaurus dan sejenisnya, maupun atraksi ekstrem seperti jembatan kaca, buggy jumping dan sejenisnya, sangat mudah direplikasi selama sumber daya dan modal tersedia. Ini adalah produk kolaborasi antara pikiran kreatif dan modal untuk melayani kebutuhan pelancong.

Jika kita bedah, memang model destinasi buatan manusia terasa sangat beragam memicu pengalaman unik bagi para pelakunya. Namun masih dalam konteks wisata buatan, yang tidak bisa ditolak juga adalah kehadiran jenis wisata berbasis momentum dan peristiwa seperti wisata religi. Nilai destinasi ini (seperti masjid bersejarah atau makam leluhur) lahir dari momen sejarah atau kesalehan tokoh, bukan sekadar kreativitas desain.

Urgensi "Jiwa" dalam Destinasi

Faktor pembeda yang membuat sebuah tempat wisata selalu menjadi tujuan utama adalah keberadaan "jiwa". Dalam konteks pariwisata, jiwa dimaknai sebagai semangat dan motivasi perancang untuk menyuguhkan kenyamanan, pengalaman baru, dan pelayanan berkesan bagi publik.

Bagaimana menumbuhkan jiwa tersebut? Berdasarkan pengamatan lapangan, kuncinya adalah memperkuat spiritualitas pariwisata. Konsep ini tidak lantas berarti penyematan simbol agama, melainkan sebuah komitmen pengelola untuk memberikan pelayanan terbaik meskipun fasilitas terbatas. Komitmen inilah yang membangun koneksi emosional dengan subjek penerima layanan (pengunjung).

Jiwa dalam konteks pariwisata menjadi semacam nilai yang melekat pada seluruh system produksi pariwisata, mulai dari desain kawasan, ornament yang dilekatkan, mekanisme pelayanan, serta beragam hal yang berkaitan langsung atau tidak langsung kepada destinasi.

Sebagai contoh, sebuah kawasan desa yang menjadi destinasi di sebuah pelosok memosisikan semua wisatawan adalam tamu yang betul-betul harus dilayani dengan baik. Mereka dihormati betul sebagai tamu. Tidak heran meski berjarak sekitar 4 jam perjalanan dari kota terdekat, tamu-tamu yang datang selalu menginginkan kembali lagi ke sana. Padahal jika kita lihat fasilitasnya biasa saja. Tamu tidur bukan di kamar hotel, melaikan sebuah ruangan bersama yang diberi alas empuk dan selimut tebal.

Ancaman Pragmatisme dan Matinya Destinasi

Sayangnya, semangat pragmatisme sering kali merusak, bahkan "membunuh" jiwa destinasi. Pelaku wisata yang tidak memahami pentingnya spiritualitas pariwisata sering melakukan tindakan destruktif, seperti premanisme di kawasan wisata, pedagang yang menerapkan logika "aji mumpung" (menjual harga tak wajar), serta perilaku kasar seperti membentak pengunjung, serta sejumlah tindakan negatif lainnya.

Dampak dari tindakan ini sangat fatal. Meskipun sebuah destinasi viral secara visual di media sosial, komentar negatif mengenai premanisme atau pelayanan buruk akan mematikan minat calon pengunjung. Kawasan tersebut akhirnya kehilangan daya tariknya.

Orkestrasi Ekosistem Pariwisata

Kesejahteraan masyarakat destinasi berkorelasi lurus dengan kepuasan pengunjung. Di sini berlaku rumus ekonomi: semakin lama pengunjung menikmati suasana (karena merasa nyaman), semakin banyak dana yang mereka keluarkan.

Oleh karena itu, jiwa destinasi yang kuat tercermin dari soliditas seluruh entitas—mulai dari penyedia makanan, keamanan, hingga transportasi. Semuanya harus terorkestrasi dalam satu napas pelayanan untuk memberikan kesan mendalam.

Jiwa dalam destinasi wisata tidak cukup hanya diviralkan. Ia harus diasah dan dirawat layaknya seorang bayi agar tumbuh mandiri. Pemerintah Daerah yang bervisi menyejahterakan warga melalui pariwisata harus menjadikan pengembangan "jiwa destinasi" sebagai kesadaran bersama. Tanpa jiwa yang terawat, eksistensi destinasi wisata tidak akan berkelanjutan. [ ]

 ____

*Tantan Hermansah, Pengajar Pariwisata dan Pemberdayaan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.