Akurat

Ngonten dan Wisata Bencana

Ahmad Munjin | 11 Desember 2025, 10:50 WIB
Ngonten dan Wisata Bencana

BEBERAPA hari ini, ketika berita tentang banjir bandang di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh mulai menguasai linimasa, saya teringat sebuah momen kecil yang sederhana. Seseorang di daerah terdampak mengunggah video singkat dari teras rumahnya—suara deras air, anak-anak yang mengungsi ke tempat yang lebih tinggi, tampaknya. Setengah berbisik ia berkata: “Semoga cepat surut ya…”

Tentu jika kita perhatikan, video itu tidak sinematik. Tidak estetis. Tidak ada musik dramatis. Tapi entah mengapa, justru di situlah kekuatan paling jujur dari era digital ini bekerja: keotentikan, kedekatan, dan energi emosi yang menyeruak disertai harapan yang tulus agar publik memberikan perhatian.

Di zaman ketika dunia maya dibanjiri visual tanpa jeda, kita sering lupa bahwa konten paling kuat bukanlah yang paling rapi, melainkan yang paling dekat dengan denyut nadi manusia. Itulah mengapa unggahan-unggahan dadakan dari warga—yang kita sebut netizen—bisa mendadak viral. Mereka merekam apa adanya: tanpa skrip, tanpa properti, tanpa keinginan menjadi pahlawan. Hanya manusia yang ingin bercerita bahwa sesuatu sedang terjadi di halaman rumahnya.

Baca Juga: Komisi VI DPR Apresiasi Respons Cepat Presiden Prabowo dalam Pemulihan Bencana Sumatera

Namun dalam derasnya arus itu, ada juga aktor lainnya. Mereka adalah para jurnalis profesional yang berjuang mengabarkan detail, melengkapi unggahan warga terdampak langsung, dengan ragam video tambahan, terutama dari para pejabat yang ingin menunjukkan kepeduliannya terhadap musibah yang sedang berlangsung.

Selain para warga dengan jurnalis, terdapat kelompok lain yang juga “nimbrung” dalam perisitiwa ini. Mereka adalah para “content creator” yang datang ke lokasi bencana dengan gaya dan pendekatan mereka sendiri. Mereka, melalui platform yang dikelolanya, mengajak publik luas untuk empati, berpartisipasi, berdonasi, dan melakukan kerja langsung semampunya. Tidak selalu harus besar, yang penting terlibat dan menujukkan solidaritasnya.

Dan seperti biasa, publik terbelah dua.

Sebagian mendukung. Mereka merasa kehadiran para kreator ini membawa empati publik semakin meluas. “Kalau mereka tidak datang,” kata seorang warga yang saya temui di sebuah diskusi, “siapa yang akan menunjukkan kondisi kampung kami? Pemerintah datangnya cuma sebentar.” Kira-kira begitu imajinasi kita akan kedatangan para konten kreator ini.

Baca Juga: Bertemu Prabowo, Putin Sampaikan Belasungkawa Atas Bencana Sumatera

Seperti kita ketahui juga bahwa tidak jarang, aksi para konten kreator memang bisa berdampak luar biasa pada aspek partisipasi. Sebagai contoh, seorang Ferry Irwandi, bisa menghimpun dana sebesar lebih 10 milyar. Begitu juga yang lain, ada selebrity, kelompok kemanusiaan, remaja masjid, kelompok pemuda, dan sebagainya. Tentu jumlah ini sangat membantu warga terdampak bencana jika penyalurannya tepat sasaran. Dan kita berharap itu.

Sebagian lagi mengkritik. Mereka menganggap bahwa kreator “menjual bencana” demi engagement dan pemasukan. Kritik seperti ini tidak salah—ini bentuk kewaspadaan sosial kita. Tapi sering kali kritik itu melompat terlalu cepat, tanpa menelisik apakah para kreator itu benar-benar sekadar mencari cuan, atau malah mengalirkan pendapatannya untuk membantu warga terdampak.

Dalam satu acara TV, saya pernah mengatakan bahwa kehadiran kreator di lokasi bencana—jika dilakukan dengan etika dan empati—justru harus dihargai. Mengapa? Karena mereka membawa mata tambahan, perspektif tambahan, titik liputan yang tak sempat dijangkau jurnalis. Mereka masuk ke tempat terpencil, ke rumah-rumah yang tidak mendapat kunjungan pejabat, ke cerita-cerita yang sering hilang dalam protokol liputan resmi.

Baca Juga: Menteri Ara: 2.000 Rumah dari CSR Dibangun untuk Korban Bencana Sumatera

Pertanyaannya: Apakah salah jika seorang kreator mendapatkan keuntungan dari kontennya, selama keuntungan itu kembali menjadi jembatan bantuan?

Saya kira kita sering lupa bahwa empati juga punya biaya. Mengirim logistik ada biayanya. Relawan makan, transportasi, baterai kamera—semua butuh ongkos. Dan bila algoritma media sosial memungkinkan empati itu ditopang oleh pendapatan digital, maka di titik ini, etika bukan hanya soal “siapa mendapat apa”, melainkan ke mana pendapatan itu mengalir.

Saat ini, yang jauh lebih penting saat ini bukan menyoal motif personal, melainkan sejauh mana konten itu mengumpulkan simpati publik dan menggerakkan solidaritas.

Baca Juga: DPR Tegaskan Pemerintah Masih Mampu Tangani Bencana Sumatera Tanpa Bantuan Asing

Kita bisa melihat bahwa lebih baik ada konten yang menggugah lalu menggerakkan ribuan orang berdonasi, daripada kita semua sibuk menilai, tapi tidak melakukan apa-apa.

Di tengah musibah, kita tidak butuh banyak penghakiman. Sebab yang kita butuhkan adalah sebanyak mungkin tangan yang bekerja, suara yang berseru, dan mata yang melihat.

Kalau sebuah konten—betapapun kontroversialnya—berhasil mengumpulkan logistik, menggerakkan empati, dan mempercepat bantuan, maka saya percaya: di situlah teknologi menjalankan kemanusiaannya.

Sebab di sisi lain, kadang kemaslahatan itu datang dari arah yang tidak kita duga. Dan tugas kita bukan menghakimi para pembawa kisah, melainkan memastikan bahwa kisah itu mengalir pada mereka yang membutuhkan.

Dalam musibah besar yang kadang didramatisir oleh banyak pihak ini, warga terdampak justru tengah menunggu kebaikan sosial masyarakat Indonesia sebagai salah satu warga terdermawan di dunia ini. Bagi mereka yang penting, sesuatu yang biasa mereka akses: makanan, air, obat-obatan, serta yang lainnya, jauh lebih penting ketimbang perdebatan.

***

Penulis: Tantan Hermansah, Pengajar Pariwisata dan Pemberdayaan Masyarakat UIN Jakarta

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.