Akurat

Mengintegrasikan Pariwisata dalam Ekosistem Pendidikan

Afriadi Ajo | 11 Januari 2026, 07:50 WIB
Mengintegrasikan Pariwisata dalam Ekosistem Pendidikan

Dalam beberapa tahun terakhir, kata "wisata" sering terdengar problematis di ruang pendidikan dasar dan menengah. Ia sering diposisikan sebagai aktivitas “tidak esensial”, bahkan cenderung diharamkan.

Berbagai polemik studi tur—mulai dari biaya tinggi, kecelakaan dalam perjalanan, hingga praktik komersialisasi sekolah—terekam luas di media massa dan media sosial. Kontroversi ini menghangat seiring dengan banyaknya data dan fakta yang positif maupun negatif yang membuncah persepsi masyarakat tentang kegiatan ini.

Tak lama kemudian, kegaduhan ini kemudian direspon oleh beberapa pemerintah daerah (Pemda) yang akhirnya mengeluarkan larangan tegas atas kegiatan tersebut.

Namun di sisi lain, fakta sosial menunjukkan paradoks yang tak terbantahkan. Di mana kebutuhan akan kegiatan wisata dalam pendidikan justru terus hidup. Ia hadir dalam berbagai nomenklatur yang terdengar lebih akademis— study tour, field trip, studi tiru, atau kunjungan edukatif dan istilah lain yang praktiknya hampir sama saja.

Tentu saja, nama boleh berganti, tetapi esensinya tetap sama. Peserta didik diajak keluar dari ruang kelas untuk mengalami dunia secara langsung.

Pertanyaannya kemudian bukan lagi “perlu atau tidak perlu wisata”, melainkan "di mana sebenarnya posisi pariwisata dalam meningkatkan karakter peserta didik?"

Pariwisata sebagai Pengalaman Pendidikan

Hakikat pariwisata sejatinya adalah pengalaman. Ia mempertemukan manusia dengan realitas baru—alam, budaya, nilai, dan praktik sosial—yang tak selalu bisa dihadirkan melalui buku teks atau papan tulis. Pariwisata memberi ruang bagi jeda, refleksi, dan pemulihan psikologis. Seseorang kembali dari perjalanan dengan kesegaran baru, perspektif baru, dan sering kali kesadaran baru.

Jika ditelisik lebih dalam, pariwisata hampir selalu mengandung dimensi edukatif. Oleh karena itu, label “wisata edukasi” sungguh berlebihan. Wisata pada dirinya sendiri sudah bersifat mendidik, meski melalui cara yang lebih cair, santai, dan menyenangkan.

Di Bekasi, misalnya, sekelompok anak muda menginisiasi pengelolaan kawasan mangrove yang sebelumnya liar dan terabaikan. Kawasan itu kini menjadi destinasi yang hidup, sekaligus ruang belajar ekologis. Pengunjung tidak hanya berjalan-jalan, tetapi juga memahami fungsi mangrove sebagai perlindungan pantai, belajar menanam, mengelola sampah, dan membaca hubungan manusia dengan alam.

Di Banten, sebuah kafe biasa di pesisir pantai menghadirkan pembelajaran yang tak kalah kuat. Tidak ada botol plastik sekali pakai. Makanan dibungkus daun atau kertas ramah lingkungan. Pengunjung dianjurkan membawa wadah sendiri dan bertanggung jawab atas sampahnya. Tanpa ceramah, tanpa modul, nilai-nilai ekologis ditanamkan secara langsung.

Dari contoh-contoh ini kita belajar, bahwa nilai edukatif dalam pariwisata dapat melekat secara organik, tanpa perlu label formal.

Konvergensi Pariwisata dan Pendidikan

Lalu bagaimana jika pariwisata tidak lagi ditempatkan sebagai kegiatan tambahan, melainkan dikonvergensikan secara sadar ke dalam sistem pendidikan?

Integrasi ini justru berpotensi memperkuat ekosistem pendidikan. Pertama, sekolah tidak perlu terus-menerus mencari istilah pembenaran atas kegiatan luar kelas. Wisata diakui keberadaannya sebagai bagian dari proses belajar.

Kedua, sekolah dan guru dapat secara eksplisit merumuskan nilai karakter apa yang ingin ditanamkan melalui kegiatan pariwisata, seperti: kepedulian lingkungan, tanggung jawab sosial, kesadaran budaya, kemandirian, hingga empati. Dengan demikian, wisata tidak berjalan bohong, tetapi terikat pada tujuan pedagogis yang jelas.

Ketiga, guru tidak lagi terbebani mendesain kegiatan luar kelas secara artifisial. Ruang belajar telah tersedia di alam, di komunitas, di destinasi wisata kehidupan. Pendidikan kembali bersentuhan dengan kenyataan.

Lebih jauh lagi, sinergi pendidikan dan pariwisata juga membawa dampak ekonomi yang signifikan. Ekosistem wisata lokal tumbuh, komunitas diberdayakan, dan sekolah menjadi bagian dari pembangunan sosial yang berkelanjutan.

PR Desain Karakter

Tantangan kita hari ini adalah menyusun kerangka besar kepariwisataan yang dapat dimasukkan secara sistemik ke dalam pendidikan karakter. Tanpa desain yang matang, wisata akan terus dipersepsikan sebagai ajang rekreasi semata—atau lebih buruk, sebagai beban finansial dan risiko keselamatan.

Padahal, jika dirancang dengan visi pendidikan, pariwisata dapat mengemban misi yang jauh lebih luhur: membentuk manusia Indonesia yang berkesadaran ekologis, sosial, dan kultural.

Pada titik inilah, pariwisata tidak lagi sekadar ruang untuk melepas penat, tetapi menjadi media pembelajaran kehidupan. Sebuah perjalanan yang bukan hanya membawa pulang foto dan kenangan, melainkan juga nilai dan karakter.

Dan barangkali, pendidikan memang kadang-kadang harus berjalan—secara harfiah—keluar dari kelas. [ ]

_____

*Tantan Hermansah, Pengajar Pariwisata dan Pemberdayaan Masyarakat UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.