Akurat

Kemacetan Destinasi Wisata dan Subkultur Liburan

Afriadi Ajo | 16 Mei 2025, 14:38 WIB
Kemacetan Destinasi Wisata dan Subkultur Liburan

SETIAP kali terjadi libur panjang atau long weekend, destinasi utama atau prime destination di wilayah Jabotabek dan kota-kota besar lainnya dilaporkan mengalami lonjakan wisatawan yang luar biasa. Fenomena ini tidak lagi bersifat insidental, melainkan telah menjadi semacam kebiasaan kolektif.

Beberapa hari lalu, misalnya, saat akhir pekan, kawasan Puncak dilaporkan mengalami kemacetan yang luar biasa, bahkan melebihi kemacetan yang biasa terjadi di akhir pekan reguler.

Di antara lautan kendaraan yang memenuhi ruas-ruas jalan itu, salah satu yang paling mencolok adalah dominasi kendaraan roda dua. Dalam beberapa foto yang beredar di media dan media sosial, terlihat satu bentangan jalan dipenuhi ribuan sepeda motor. Tidak sedikit yang berhenti total karena saking padatnya lalu lintas.

Baca Juga: Wisata Hiburan di Puncak: Tabungan Bencana yang Nyata

Kemacetan ini bukan sekadar konsekuensi teknis dari buruknya manajemen lalu lintas, tetapi juga manifestasi dari realitas sosial yang lebih kompleks.

Jika kita membaca fenomena ini dari perspektif teori budaya, maka kemacetan saat long weekend dapat dikatakan sebagai sebuah subkultur dari kemacetan yang sudah menjadi keseharian bangsa ini. Ia adalah anak kandung dari kehidupan urban yang penuh tekanan, dari sistem transportasi yang tak kunjung tertata, hingga kultur mobilitas masyarakat yang terus berkembang.

Lalu mengapa, di tengah situasi ekonomi yang lesu, di tengah gelombang PHK, penurunan daya beli, dan kekhawatiran masa depan, masyarakat tetap memenuhi kawasan wisata saat akhir pekan dan long weekend? Tentu saja ini bukan pertanyaan yang mudah dijawab. Namun, izinkan penulis mencoba mengurai realitas ini dari tiga lapis pembacaan sosiologis.

Pertama, dari sisi profil pelancong, mereka bisa dikategorikan menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama adalah mereka yang relatif aman dari sisi pekerjaan dan pendapatan. Bagi mereka, bepergian saat akhir pekan adalah rutinitas, bahkan semacam kebutuhan gaya hidup yang melekat. Mereka tak terpengaruh badai ekonomi karena jaring pengaman ekonomi mereka cukup kuat.

Kelompok kedua adalah mereka yang sejak lama menyusun niat untuk berwisata ke destinasi utama. Mungkin hanya sekali seumur hidup. Apalagi kini aksesibilitas menuju lokasi wisata jauh lebih mudah, dan informasi tentang suatu tempat begitu melimpah, terutama dari media sosial. Ini membuat mereka bisa menyesuaikan pilihan destinasi dengan anggaran dan pengalaman yang ingin dikejar.

Kelompok ketiga adalah mereka yang justru baru saja terdampak PHK atau sedang merintis usaha pasca kehilangan pekerjaan tetap. Setelah menerima pesangon, mereka merasa perlu rehat sejenak. Destinasi wisata menjadi ruang katarsis, ruang relaksasi dari tekanan hidup yang belum reda. Pergi ke tempat wisata bukan semata-mata untuk rekreasi, tapi juga untuk merayakan kebebasan baru yang belum tentu stabil.

Kedua, kita masuk ke pembacaan yang lebih mendalam: yaitu kultur bahagia. Beberapa waktu terakhir, sebuah penelitian dari salah satu universitas ternama di luar negeri yang sempat beredar di media menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia adalah salah satu masyarakat yang paling bahagia.

Di balik pernyataan ini, terselip dinamika sosial yang menarik. Di mana telah tumbuh satu entitas sosial baru masyarakat yang meyakini bahwa hidup harus dinikmati sekarang juga. Mereka tidak lagi memikirkan investasi duniawi yang rumit, tidak ingin terjebak pada narasi menabung untuk masa depan yang tidak pasti.

Apa yang mereka dapat hari ini, mereka habiskan hari ini—termasuk untuk bersenang-senang, untuk menyiram tubuh dan batin dengan pengalaman yang menyenangkan. Ini bukan sekadar gaya hidup hedonistik, tetapi bentuk baru dari harapan sosial: bahwa mungkin hari ini tak baik, tapi anak-anak mereka akan memiliki masa depan yang lebih cerah.

Dalam ruang mikrososiologis, kita juga menemukan kasus orang-orang yang begitu mendapatkan sedikit rezeki dari freelance atau pesangon, mereka memilih untuk segera mengunjungi destinasi wisata. Ini juga bisa dibaca sebagai fenomena FOMO (fear of missing out), namun lebih dari itu: ini adalah hasil konstruksi dari struktur informasi yang dangkal dan pendek.

Kita tahu bahwa struktur informasi kita hari ini tak lagi mengajarkan kedalaman. Tontonan yang kita konsumsi mayoritas bersifat sangat pendek. Cerita-cerita yang dulunya dibangun lewat narasi panjang dan penuh makna, hari ini dipadatkan menjadi video pendek, status singkat, dan tayangan cepat.

Bahkan karya seni seperti tarian atau pertunjukan visual bisa hadir dalam durasi 15 detik, dengan sistem produksi yang cukup dibantu dengan aplikasi. Akhirnya, cara berpikir masyarakat pun ikut terformat dalam waktu pendek. Orang tidak lagi menunggu atau bersabar menikmati proses. Yang penting segera mengalami, segera membagikan, dan segera memperoleh respons dari publik, walau hanya berupa emoji atau likes.

Di sinilah benang merah antara tontonan singkat dan fenomena kemacetan wisata dapat ditarik. Ketika struktur pikir dibentuk oleh visualisasi cepat, maka keinginan untuk mengalami sesuatu pun menjadi instan. Maka, ketika long weekend tiba, ribuan bahkan jutaan orang serentak ingin merasakan apa yang dilihat di media sosial: kabut Puncak, sunrise di Anyer, atau sekadar minum kopi di tempat-tempat “aesthetic”.

Apakah ini berarti seluruh masyarakat bergerak dengan cara berpikir yang sama? Tentu tidak. Tetapi dalam skala besar, ini bisa menjelaskan mengapa titik-titik destinasi selalu padat dan sesak, mengapa kemacetan menjadi ritual musiman.

Dari perspektif sosiologi perkotaan, ini bukan sekadar kemacetan. Ia adalah hasil dari relasi antara tekanan ekonomi, gaya hidup kontemporer, serta produksi informasi yang membentuk realitas sosial baru—yaitu realitas yang mengejar momen tanpa terlalu banyak pertimbangan jangka panjang.

Jadi ketika Anda terjebak macet menuju kawasan wisata di long weekend mendatang, mungkin sudah saatnya kita bertanya ulang: apa yang sebenarnya kita cari? Kebahagiaan, pelarian, atau sekadar ingin merasa hidup di tengah kebisingan dunia seperti yang lain agar punya cerita yang sama? [ ]

 _____
* Dr. Tantan Hermansah, M.Si, Pengajar Pariwisata dan Pemberdayaan Masyarakat UIN Jakarta

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.