Akurat

Mencari Titik Temu Antara Industri Wisata dan Industri Ekstraktif di Raja Ampat

Afriadi Ajo | 11 Juni 2025, 10:00 WIB
Mencari Titik Temu Antara Industri Wisata dan Industri Ekstraktif di Raja Ampat

 

BEBERAPA waktu terakhir, publik dikejutkan oleh berbagai pemberitaan mengenai rusaknya bentang alam Raja Ampat akibat aktivitas industri ekstraktif.

Kontroversi ini kembali membangkitkan perdebatan lama yang belum kunjung selesai: bagaimana menempatkan kepentingan ekonomi dan pelestarian alam dalam satu tarikan napas? Terutama di wilayah yang sedemikian kaya akan pesona namun rentan oleh eksploitasi, seperti Raja Ampat.

Terletak di Papua Barat Daya, Raja Ampat bukan sekadar gugusan pulau tropis yang memikat. Ia adalah mahakarya ekologis dunia yang menyimpan lebih dari 75% spesies karang dunia, serta menjadi rumah bagi ribuan spesies laut yang tak ditemukan di tempat lain. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai “Amazon of the Seas”.

Namun ironisnya, di balik keelokan itu, warga setempat belum sepenuhnya merasakan kesejahteraan yang setara dengan potensi alam yang mereka miliki. Raja Ampat masih menghadapi tantangan struktural—dari keterbatasan infrastruktur dasar hingga kurangnya kapasitas pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan.

Di tengah situasi ini, muncul tawaran-tawaran investasi berbasis industri tambang, yang menjanjikan “kemajuan cepat”—namun berisiko menggadaikan masa depan lingkungan yang tak tergantikan.

Raja Ampat = Tantangan Kesejahteraan

Seperti banyak orang ketahui, secara faktual, Raja Ampat adalah destinasi wisata premium. Tidak semua orang bisa mengaksesnya.  Hal ini bukan hanya karena biaya yang tinggi, tetapi juga karena aksesibilitas geografis yang terbatas.

Raja Ampat ada di Pulau Papua, di Timur, tepatnya Provinsi Papua Barat Daya. Destinasi yang jika menggunakan pesawat sudah setara pergi ke Timur Tengah.

Namun justru karena tantangan inilah, eksklusivitas Raja Ampat semakin menjulang. Istilah “mimpi sekali seumur hidup” menjadi lekat dalam benak para pelancong yang bermimpi menginjakkan kaki di sana. Raja Ampat adalah impian.

Namun keindahan alam semata tidak otomatis menjadi pemantik kesejahteraan. Tanpa tata kelola yang terencana dan kolaboratif, potensi ini hanya akan menjadi tontonan sementara yang tidak memberikan transformasi kehidupan bagi masyarakat lokal. Inilah tantangan utama Raja Ampat. Indah di mata, tidak berbanding lurus dengan kesejahteraan.

Sebagaimana diungkap oleh salah satu pejabat di negeri ini, “Pariwisata yang berkelanjutan bukan hanya soal mendatangkan wisatawan, tapi memastikan masyarakat di destinasi itu benar-benar menjadi pelaku utama dan penerima manfaat terbesar.”

Pernyataan ini menegaskan bahwa pembangunan wisata harus berbasis partisipasi lokal, bukan sekadar etalase untuk kepentingan luar.

Dilema Ganda = Eksploitasi vs Konservasi

Kenyataan bahwa pemerintah daerah sempat menyambut eksplorasi tambang dengan alasan untuk “memajukan ekonomi” menandakan bahwa visi jangka panjang belum sepenuhnya dipahami. Padahal, kawasan seperti Raja Ampat adalah aset ekologis dunia yang tak bisa digantikan. Sekali rusak, pemulihannya bisa memakan waktu ratusan tahun—atau bahkan mustahil.

Sebagai contoh, izin usaha pertambangan (IUP) di sejumlah wilayah Raja Ampat sempat diberikan kepada perusahaan besar. Meski belakangan dicabut, kerusakan yang sempat terjadi menjadi bukti betapa rapuhnya komitmen kita menjaga keutuhan kawasan ini. Alih-alih memberi manfaat jangka panjang, aktivitas ekstraktif seringkali hanya meninggalkan jejak luka ekologis dan sosial.

Lalu, apa yang harus dilakukan? Belajar dari Bali bisa menjadi langkah awal. Keberhasilan Bali bukan dibangun dalam semalam. Sejak awal 1980-an, pulau dewata telah menata strategi pembangunan wisata berbasis kultural, ekologis, dan ekonomi kerakyatan. Ada investasi besar dalam infrastruktur, pendidikan masyarakat, dan promosi global yang sistematis.

Raja Ampat memiliki semua elemen itu—keindahan alami, budaya lokal yang otentik, serta nilai-nilai spiritual yang hidup. Yang dibutuhkan sekarang adalah komitmen pemerintah dan masyarakat untuk menempatkan pariwisata berbasis konservasi sebagai arsitektur pembangunan utama. Bukan sekadar menerima turis, tapi membangun ekosistem wisata inklusif, dari homestay lokal hingga koperasi wisata, dari pelatihan pemandu hingga pendidikan konservasi bagi generasi muda.

Bahkan jika perlu, pemerintah menerbitkan Undang-undang khusus yang memastikan keberlanjutan Kawasan Raja Ampat sebagai surga dunia yang dirancang sebagai kawasa wisata saja.

Masa Depan yang Layak Diperjuangkan

Jika langkah-langkah itu diambil, bukan tidak mungkin Raja Ampat akan menjadi model global tentang bagaimana pariwisata bisa menjadi pilar kesejahteraan sekaligus penjaga warisan bumi. Tidak harus mengorbankan alam demi tambang, karena justru kekayaan sejati Papua ada pada alamnya sendiri.

 Kita tahu, bahwa pembangunan yang bijak adalah pembangunan yang menghormati alam sebagai mitra, bukan sebagai objek yang terus dieksploitasi. Negara bisa memastikan visi ini terjaga dan terpelihara sekarang dan nanti.

Raja Ampat, dengan segala karunia dan potensinya, layak diperjuangkan bukan hanya oleh warga Papua, tapi oleh seluruh rakyat Indonesia. Menjaga Raja Ampat adalah menjaga wajah terbaik kita di hadapan dunia. Jika kita mampu menahan godaan jangka pendek demi masa depan anak cucu kita, maka kita bukan hanya sedang membangun pariwisata—kita sedang merawat harapan dan wewariskan sejarah menjaga bumi dan alam semesta. [ ]

-----

Tantan Hermansah, Pengampu Mata Kuliah Pariwisata dan Pemberdayaan Masyarakat, UIN Jakarta

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.