Akurat

IDI Burmeso Bagi Informasi Pengobatan Terkait Rematik

Annisa Fadhilah | 7 Desember 2024, 14:00 WIB
IDI Burmeso Bagi Informasi Pengobatan Terkait Rematik

AKURAT.CO Berbicara tentang penyakit, salah satu penyakit yang sering diderita orang dewasa adalah penyakit rematik.

Rematik, atau lebih dikenal dalam dunia medis sebagai rheumatoid arthritis (RA), adalah penyakit autoimun yang ditandai dengan peradangan pada sendi sehingga menghasi dilkan rasa nyeri tak tertahankan. 

Ikatan Dokter Indonesia Cabang Burmeso dengan alamat website idiburmeso.org menjelaskan bahwa rematik sebenarnya adalah penyakit autoimun yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh menyerang sendi dan jaringan di sekitarnya.

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Burmeso adalah dr. Muhammad Adib Khumaidi, Sp.OT. Di bawah kepemimpinannya, IDI Burmeso berfokus pada peningkatan kualitas layanan kesehatan dan pengembangan profesionalisme di kalangan dokter di wilayah tersebut.

IDI Cabang Burmeso juga menjelaskan  penyakit rematik dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Diagnosis dan pengobatan dini dapat memperlambat perkembangan penyakit rematik.

IDI selanjutnya melakukan penelitian terkait penyakit rematik kemudian rekomendasi obat yang dapat diberikan bagi penderitanya.

Baca Juga: Gawat! Orang Bisa Meninggal Mendadak Karena Jantung Rematik

Apa saja penyebab terjadinya penyakit rematik?

IDI Burmeso menjelaskan penyakit rematik, atau lebih spesifiknya rheumatoid arthritis (RA), adalah kondisi autoimun yang ditandai dengan peradangan pada sendi. Meskipun penyebab pasti dari rematik belum sepenuhnya dipahami, ada beberapa faktor yang dianggap berkontribusi terhadap perkembangan penyakit ini meliputi:

1. Faktor keturunan atau riwayat keluarga

Salah satu faktor terjadinya rematik adalah riwayat keluarga atau genetik. Riwayat keluarga dengan penyakit rematik dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kondisi ini. Faktor genetik berperan dalam predisposisi terhadap jenis rematik tertentu.

2. Adanya cedera pada sendi

Selain faktor riwayat keluarga, cedera pada sendi yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan perubahan struktural dan meningkatkan risiko peradangan serta perkembangan rematik.

3. Obesitas atau kelebihan berat badan

Bagi sebagian masyarakat Indonesia, obesitas tentu dapat menimbulkan berbagai penyakit. Kelebihan berat badan dapat meningkatkan tekanan pada sendi, memperburuk gejala dan meningkatkan risiko peradangan.

4. Faktor hormonal dan gaya hidup tidak sehat

Faktor terakhir adalah perubahan hormon. Perubahan hormonal, terutama pada perempuan, dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dan berkontribusi terhadap pengembangan rematik.

Selain itu, kebiasaan seperti merokok dan kurang olahraga dapat meningkatkan risiko rematik. Merokok, khususnya, telah dikaitkan dengan peningkatan risiko rheumatoid arthritis.

Baca Juga: Ini Cara Terbaik Cegah Rematik

Apa saja obat yang direkomendasikan untuk mengatasi penyakit rematik?

Pengobatan untuk penyakit rematik, khususnya rheumatoid arthritis, bertujuan untuk mengurangi peradangan, meredakan nyeri, dan memperlambat kerusakan sendi. Berikut adalah beberapa obat yang direkomendasikan untuk mengatasi penyakit rematik meliputi:

1. Diclofenac

Obat pertama yang bisa dikonsumsi oleh penderita rematik adalah Diclofenac. Obat ini tersedia dalam berbagai bentuk, seperti tablet (Cataflam, Voltadex) dan gel (Voltaren Gel). Obat ini efektif untuk mengurangi nyeri dan peradangan.

2. Ibuprofen

Ibuprofen bisa menjadi pilihan untuk mengatasi gejala dan penyakit rematik.

Ibuprofen dapat meredakan nyeri dan menurunkan demam. Ibuprofen juga dapat meredakan nyeri dan peradangan. Dosis umum adalah 200-400 mg setiap 6-8 jam.

3. Meloxicam

Meloxicam adalah obat untuk mengurangi rasa nyeri, bengkak, dan kaku pada sendi. Meloxicam sering digunakan untuk mengatasi nyeri akibat rheumatoid arthritis dan asam urat.

Pengobatan rematik harus dilakukan di bawah pengawasan dokter, dengan penyesuaian dosis berdasarkan respons pasien terhadap pengobatan serta efek samping yang mungkin timbul.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.