Program MBG Dorong Pertumbuhan Pertanian dan Serap 1,4 Juta Tenaga Kerja

AKURAT.CO Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga menciptakan efek berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian nasional.
Salah satu sektor yang paling terdampak adalah pertanian, yang pada 2025 mencatat pertumbuhan tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
Ekonom Universitas Indonesia, Dr. Fithra Faisal Hastiadi, mengungkapkan bahwa MBG turut mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi yang lebih inklusif, khususnya di sektor hulu seperti pertanian dan peternakan.
“Pada kuartal IV 2025, ekonomi Indonesia tumbuh 5,39% (yoy). Salah satu motor penggeraknya adalah Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh 6,12% (yoy). Jika dilihat lebih dalam, sektor pertanian tumbuh 5,33% (yoy), karena produknya terserap oleh SPPG,” ujar Fithra, Sabtu (21/2/2026).
Menurutnya, mitra pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta pelaku usaha mulai berinvestasi di sektor hulu untuk memastikan pasokan pangan MBG tetap stabil.
Hal ini dinilai sebagai faktor pendorong lonjakan pertumbuhan pertanian pada 2025.
Data menunjukkan, pertumbuhan sektor pertanian pada 2025 mencapai 5,33%, melonjak signifikan dibandingkan 0,68% pada 2024 dan 1,31% pada 2023.
Baca Juga: Jelang Aturan Baru BEI, Pemegang Saham CBDK Jual 25 Juta Saham
Kisah Petani di NTT
Dampak program ini juga terasa di tingkat akar rumput. Samuel Surodadi, petani asal Desa Kadiwano, Kecamatan Umalulu Timur, Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), sebelumnya kerap mengalami hasil panen yang tidak terserap pasar.
Sebagian sayur bahkan terpaksa dijadikan pakan ternak karena membusuk. Penghasilannya saat itu hanya sekitar Rp100 ribu per hari.
Kini, setelah hadirnya MBG, hasil panennya terserap langsung tanpa biaya distribusi tambahan.
“Hasil tani saya bisa dapat Rp300 ribu per hari. Itu pun tidak pakai ongkos kendaraan lagi,” kata Samuel.
Ia juga merasakan dampak sosial dari program tersebut. Anak-anak di wilayahnya kini lebih rutin makan sebelum belajar.
“Kami bersyukur hasil tani kami bisa laku, anak-anak kami bisa makan teratur. Sebelumnya kadang anak sekolah tidak makan,” ujarnya.
Serap 1,4 Juta Tenaga Kerja, Perempuan Dominan
Selain sektor pertanian, dampak jangka pendek MBG juga terasa pada peningkatan rantai nilai UMKM dan penyerapan tenaga kerja.
Hingga 20 Februari 2026, jumlah SPPG yang telah dibangun mencapai 23 ribu unit. Diperkirakan sekitar 1,4 juta tenaga kerja terserap langsung di dapur pengolahan MBG.
Data internal Badan Gizi Nasional menunjukkan sekitar 55% pekerja dapur SPPG adalah perempuan, atau sekitar 770 ribu tenaga kerja perempuan.
“Program MBG ini jauh lebih inklusif dalam pola investasinya. Partisipasi perempuan terlihat dominan, terutama di sektor kuliner, sehingga memberikan peluang ekonomi nyata,” ujar Fithra.
Partisipasi tersebut dinilai berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan rumah tangga sekaligus pemberdayaan ekonomi perempuan.
Baca Juga: Dokter Richard Lee Diperiksa 8 Jam, Polda Metro Jaya Putuskan Wajib Lapor
Efisiensi Pengeluaran Rumah Tangga
Survei Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) terhadap 1.800 orang tua menunjukkan bahwa MBG berdampak positif terhadap efisiensi anggaran keluarga.
Sebanyak 36% responden mencatat penurunan pengeluaran harian, terutama karena berkurangnya biaya bekal dan uang saku anak.
Meski 63% keluarga melaporkan penghematan di bawah 10% dari total belanja bulanan, program ini tetap dinilai efektif menjaga stabilitas pengeluaran rutin.
Dukungan terhadap keberlanjutan MBG mencapai 81% di kalangan orang tua rumah tangga rentan.
Peneliti RISED, M. Fajar Rakhmadi, menyebut manfaat program ini tidak hanya bersifat ekonomi.
“Di luar manfaat ekonomi, ada ketenangan batin yang dirasakan orang tua. Mereka merasa lebih tenang karena anak pulang sekolah dalam keadaan sudah makan dan tidak lapar,” ujarnya.
Sebanyak 72% orang tua juga menyatakan anak lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi sejak menerima MBG, sehingga beban pikiran terkait pemenuhan nutrisi harian berkurang.
Solusi Jangka Panjang Ketahanan Pangan
Investasi di sektor pertanian dan peternakan untuk mendukung MBG dinilai sebagai solusi jangka panjang agar kebutuhan pangan program tidak mengganggu stabilitas harga pasar.
Baca Juga: Virus Mematikan Tewaskan Puluhan Harimau di Taman Satwa Thailand
Pada saat yang sama, langkah ini memperkuat kapasitas produksi petani lokal dan ketahanan pangan nasional.
Dengan dampak ekonomi yang meluas—mulai dari peningkatan produksi pertanian, penyerapan tenaga kerja, hingga efisiensi rumah tangga—MBG dinilai menjadi salah satu program yang memberikan manfaat ganda, baik secara sosial maupun ekonomi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









