Antisipasi Virus Nipah, Menkes: Jangan Makan Buah Terbuka

AKURAT.CO Peredaran Virus Nipah mencatatkan dua kasus terkofirmasi dan tiga kasus suspek di Benggala Barat, India, per 23 Januari 2026.
Menanggapi hal itu, Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, mengimbau masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan diri terhadap potensi penyebaran Virus Nipah di Indonesia.
Kendati belum ditemukan kasus tersebut di Indonesia, penting bagi masyarakat melakukan langkah pencegahan dini, mengingat tingginya tingkat fatalitas.
Menkes menjelaskan, pola penularan Virus Nipah bermula dari kelelawar yang kemudian berpindah ke buah-buahan atau hewan ternak seperti babi.
"Penyakit ini penularannya lewat buah yang sudah dimakan oleh kelelawar, digigit. Karena ludahnya kan masuk ke sana," kata Menkes, dalam keterangannya, Jumat (30/1/2026).
Menurutnya, saat ini Virus Nipah baru teridentifikasi di India. Untuk itu, ia menyarankan agar masyarakat yang bepergian ke daerah endemik untuk lebih selektif. Terlebih saat mengonsumsi buah-buahan yang terbuka.
Baca Juga: Wabah Virus Nipah Guncang India, 100 Orang Dikarantina: Kenali Gejala dan Penularannya
ā"Kalau bisa makan jeruk, ya jeruknya tertutup (kulitnya), dikupas sendiri. Atau lebih baik lagi tidak usah makan buah. Makannya nasi sama daging yang dimasak atau buahnya dimasak. Itu pencegahan nomor satu," jelas Menkes.
Sebagai langkah antisipasi, Kemenkes telah menyiapkan deteksi dini yang serupa dengan penanganan Covid-19.
Selain juga telah menyiapkan stok reagen khusus Virus Nipah yang saat ini telah tersedia dan siap didistribusikan ke laboratorium milik Kemenkes di seluruh Indonesia apabila ditemukan kasus dicurigai.
"Kita sekarang reagen-nya ditaruh di Kemenkes, kita distribusikan ke beberapa laboratorium milik Kemenkes di seluruh Indonesia. Jadi kalau ada yang dicurigai, kita bisa langsung distribusikan ke lab-lab di daerah," jelas Menkes.
Laboratorium Kemenkes juga melakukan pemilahan apakah batuk yang dialami pasien disebabkan oleh influenza, Covid-19 atau Virus Nipah.
"Jadi surveillance-nya kita perkuat," ujar Menkes.
Sebagai langkah awal, Kemenkes telah mengeluarkan surat edaran terkait kewaspadaan Virus Nipah yang dapat diakses masyarakat melalui kanal media sosial atau situs resmi.
Baca Juga: Apa Itu Virus Nipah? Kenali Gejala, Cara Penularan, dan Upaya Pencegahannya
Terkait mobilitas antarnegara, Kemenkes belum berencana melakukan penutupan wilayah perbatasan. Dalam hal ini, Kemenkes mengikuti rekomendasi WHO, mengingat jumlah kasus global yang masih relatif sedikit.
"Kita belum melihat dan itu sesuai juga rekomendasi WHO untuk nutup border. Karena yang kita lihat masih sangat sedikit. Tapi memang catatan fatality rate-nya tinggi. Kalau orang kena, ini kemungkinan meninggalnya tinggi," jelas Menkes.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









