Di Antara Usia yang Terus Berjalan, Negara Datang Mengulurkan Kesehatan

AKURAT.CO Pagi itu, Senin 10 Februari 2025, udara di kawasan Tebet terasa berbeda, lebih segar, lebih penuh harapan.
Di halaman Puskesmas Tebet, antrean warga tampak mengular sejak matahari baru terbit. Ada yang membawa anak, ada yang memapah orang tua, dan ada pula yang datang sendiri dengan senyum canggung di wajah.
Hari itu menjadi salah satu hari bersejarah bagi layanan kesehatan Indonesia. Pemerintah resmi meluncurkan Cek Kesehatan Gratis (CKG), program prioritas Presiden Prabowo yang dirancang agar seluruh masyarakat, dari bayi hingga lansia, dapat mengetahui kondisi kesehatannya tanpa dipungut biaya.
Program yang semula dimulai sebagai “hadiah ulang tahun” kini menjelma menjadi gerakan nasional.
Tanpa menunggu hari lahir, siapa pun dapat datang ke fasilitas kesehatan tingkat pertama dan menerima pemeriksaan kesehatan lengkap yang nilainya, bila dibayar mandiri, bisa mencapai jutaan rupiah.
“Kalau dihitung satu per satu, nilai pemeriksaan ini bisa lebih dari satu juta rupiah. Tapi di sini, masyarakat bisa mendapatkannya secara gratis,” ujar Deputi I Kantor Komunikasi Kepresidenan, Muhammad Isra Ramli, saat menyaksikan antusiasme warga di Tebet.
Hadiah Tak Terduga
Di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3, suasana hangat menyelimuti ruangan pemeriksaan. Nenek Kamti, salah satu penghuni panti, menatap jarum alat cek gula darah dengan rasa ingin tahu.
“Senang... jadi tahu kalau gula darah normal,” katanya sambil tersenyum.
Baca Juga: Menkes Sebut Cek Kesehatan Gratis Penting untuk Cegah Obesitas dan Jaga Kesehatan Mental
Tak jauh dari sana, seorang petugas kesehatan tengah menguji kemampuan kognitif nenek Suteni. Dengan selembar kertas dan pena, pemeriksaan menjadi seperti permainan kecil.
“Ayo, coba gambar jam pukul sepuluh,” kata petugas.
Nenek Suteni mengernyit. “Lupa,” jawabnya pelan.
Pemeriksaan sederhana itu hanyalah satu bagian dari rangkaian skrining kesehatan lansia, pemeriksaan yang selama ini jarang dilakukan karena alasan biaya, waktu, atau sekadar lupa. Kini semuanya tersedia di tempat mereka tinggal, tanpa perlu perjalanan jauh.
Di Puskesmas Makassar, Jakarta Timur, cerita lain mengalir. Rere (34), seorang ibu rumah tangga, datang hanya untuk mengimunisasi bayinya yang baru empat bulan. Namun, pertanyaan kecil dari petugas administrasi mengubah rencananya.
“Anaknya ada yang ulang tahun?” tanya si admin.
Rere mengangguk. Kakak sang bayi, baru saja berulang tahun di bulan Oktober.
“Ya sudah, sekalian saja CKG,” kata petugas itu.
Tanpa biaya tambahan dan tanpa proses rumit, Rere hanya perlu menunjukkan kartu BPJS.
Pemeriksaan langsung dilakukan: lingkar kepala, tinggi badan, kebersihan mulut, amandel, kuku, serta riwayat penyakit. Di akhir pemeriksaan, dokter memberi satu saran, periksa gigi lebih lanjut.
“Ada gigi yang berlubang, Bu. Coba ke poli gigi ya,” ujar dokter itu.
Rere mengangguk. Baginya, ini adalah kemudahan yang tak ternilai. “Sebagai ibu rumah tangga, ini sangat membantu. Saya bisa tahu perkembangan anak tanpa keluar biaya,” katanya.
Ia hanya berharap satu hal: agar poli-poli lanjutan, seperti gigi, bisa diintegrasikan agar anak-anak tidak perlu menunggu lama dan berpotensi tantrum. Harapan yang sederhana, tetapi mewakili banyak orang tua di berbagai daerah.
Tak hanya di puskesmas atau panti sosial, program CKG juga menyasar kantor-kantor kementerian. Di Kemenko PMK, para pegawai duduk berjejer menunggu giliran, sesuatu yang mungkin tidak akan mereka lakukan bila harus ke puskesmas sendiri.
“Banyak pegawai kami yang tidak punya waktu untuk cek kesehatan. Jadi kami hadirkan layanannya ke kantor,” ujar Pratikno.
Cara ini disebut sebagai strategi jemput bola, sebuah langkah yang bukan sekadar teknis, tetapi simbol bahwa negara mendatangi rakyatnya, bukan sebaliknya.
Kemenkes sendiri tengah menyiapkan perluasan layanan ini hingga ke klinik-klinik perusahaan, komunitas, hingga pusat keramaian.
“Mall, kantor, komunitas, semua bisa mengaktifkan layanan nanti,” kata Staf Ahli Menteri, Setiaji.
Baca Juga: Pemerintah Jemput Bola Layani Cek Kesehatan Gratis, Sasar Lansia di Panti Sosial
Lebih dari Cek Kesehatan
Hingga awal November 2025, lebih dari 50 juta orang telah memanfaatkan CKG dari total 53,6 juta pendaftar. Angka ini bukan sekadar statistik.
Di baliknya ada bayi yang deteksi dini penyakit bawaan, remaja yang mengetahui risiko anemia, dewasa yang memahami potensi stroke, hingga lansia yang akhirnya tahu kondisi mereka tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun.
Menkes Budi Gunadi Sadikin mengingatkan, kesehatan tidak berhenti setelah pemeriksaan. Ia menekankan empat pilar hidup sehat: makan teratur, tidur cukup, pikiran positif, dan selalu aktif bergerak.
Pemeriksaan, menurutnya, hanyalah pintu masuk. Yang terpenting adalah apa yang dilakukan setelah mengetuk pintu itu.
CKG sendiri mencakup pemeriksaan yang sangat luas, mulai dari telinga, mata, gigi, tekanan darah, diabetes, hepatitis, TB, hingga kanker serviks, kanker payudara, kanker paru, dan kanker usus besar.
Untuk bayi baru lahir, CKG bahkan mencakup skrining hipotiroid kongenital, G6PD, hingga jantung bawaan, layanan yang biasanya hanya ada di rumah sakit besar.
Dari bayi berusia dua hari hingga lansia berusia 90 tahun, CKG hadir untuk memetakan kesehatan seluruh penduduk Indonesia.
Tidak peduli apakah seseorang berada di panti sosial, sekolah, kantor, atau pedesaan, program ini dirancang agar setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengetahui kondisi tubuh mereka.
Di tengah hiruk pikuk hidup yang semakin cepat, CKG menjadi jeda: kesempatan bagi setiap warga untuk berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri, apakah saya benar-benar sehat?
Dan untuk jutaan orang, jawaban itu kini bisa ditemukan tanpa rasa takut akan biaya.
Sebuah Kebiasaan Baru
Dulu, cek kesehatan dianggap mewah. Mahal. Menakutkan. Tidak mendesak.
Kini, berkat CKG, cek kesehatan mulai menjadi kebiasaan. Di puskesmas, anak-anak mengikuti pemeriksaan sambil bercanda.
Di panti sosial, para lansia menunggu giliran dengan sabar. Di kantor-kantor pemerintah, pegawai yang biasanya tenggelam dalam kesibukan kini meluangkan waktu untuk kesehatannya.
Dan di seluruh Indonesia, jutaan orang belajar bahwa mencegah selalu lebih murah, dan lebih manusiawi, daripada mengobati.
CKG bukan hanya program kesehatan. Ia adalah cerita tentang negara yang hadir, tentang masyarakat yang semakin peduli, dan tentang generasi yang tumbuh dengan kesadaran kesehatan yang lebih baik.
Di udara pagi yang sejuk pada 10 Februari 2025 itu, Indonesia memulai perjalanan barunya. Perjalanan menuju masa depan di mana sehat bukan lagi hak istimewa, melainkan hak semua orang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










