Kronologi Lengkap Ibu Hamil Meninggal Setelah Ditolak Empat RS di Papua Versi Kemenkes

AKURAT.CO Kementerian Kesehatan (Kemenkes) membeberkan hasil investigasi terkait kematian seorang ibu hamil bernama Irene Sokoy yang meninggal setelah ditolak empat rumah sakit akibat proses rujukan berlapis.
Direktur Mutu Pelayanan Kesehatan Rujukan Kemenkes, Yuli Astuti Saripawan, dalam konferensi pers di Gedung Kemenkes, Kamis (27/11/2025), menjelaskan kronologi lengkap peristiwa yang terjadi hanya dalam satu hari tersebut.
Menurut Yuli, Irene sebelumnya rutin menjalani pemeriksaan kehamilan (ANC) di Puskesmas dan sempat kontrol ke dokter spesialis obstetri-ginekologi (Obgyn) di wilayah Yowari.
Riwayat persalinan sebelumnya normal, namun kehamilan kali ini diidentifikasi berisiko karena ukuran bayi yang cukup besar (makrosomia).
Pada 16 November, Irene datang ke RSUD Yowari dengan tanda-tanda persalinan. Namun kedua dokter obgyn tidak berada di tempat karena sedang mengikuti seminar di Sulawesi dan menjalani pendidikan.
Selama sekitar lima jam, tim medis mencoba membantu persalinan normal, namun tidak berhasil akibat ukuran bayi yang besar dan risiko komplikasi meningkat. Pasien akhirnya direkomendasikan menjalani operasi caesar.
Karena tidak ada dokter obgyn yang bertugas, Irene dirujuk ke Rumah Sakit Dian Harapan. Namun rumah sakit tersebut tidak dapat melakukan tindakan karena ketiadaan dokter anestesi dan NICU yang penuh. Bahkan, pasien belum sempat diturunkan dari ambulans.
Pasien kemudian dirujuk ke RSUD Abepura. Namun rumah sakit itu juga tidak dapat melakukan operasi caesar karena seluruh empat ruang operasi (OK) sedang dalam perbaikan.
Rujukan berlanjut ke RS Bhayangkara. Rumah sakit tersebut memiliki layanan Obgyn dan dokter anestesi, tetapi ruang rawat inap kelas tiga penuh.
Irene ditawarkan masuk ke layanan rawat inap VVIP dengan biaya administrasi Rp3–4 juta. Karena kendala ekonomi, keluarga memilih melanjutkan rujukan ke Rumah Sakit Dok II.
Dalam perjalanan menuju RS Dok II, Irene mengalami kejang. Bidan yang mendampingi mengambil keputusan cepat membawa pasien kembali ke fasilitas terdekat, yaitu RS Bhayangkara Jayapura.
“Pasien langsung dilakukan resusitasi jantung paru (RJP), namun tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia,” jelas Yuli.
Kemenkes menegaskan akan menindaklanjuti temuan ini dan memperbaiki sistem rujukan agar kejadian serupa tidak terulang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Jadwal MotoGP Qatar 2026 Terbaru, Cek Jam Tayang Sprint Race dan Balapan Utama
- 2KPK Sita Rp2 Miliar dari Dirut KAI Bobby Rasyidin dalam Korupsi Digitalisasi SPBU
- 3Kapten Melbourne Victory Lompat Pagar, Labrak Suporter Usai Timnya Dipermalukan Persib
- 4Pindar UKU Salurkan Rp687,18 Miliar dengan Pinjaman Macet Hanya 2,48 Persen, Jaga Keseimbangan Pertumbuhan dan Risiko
- 5Prediksi Skor Porto vs Napoli 5 November 2026: Tuan Rumah Berpeluang Menang
- 6Prediksi Skor Dortmund vs Betis 5 November 2026: Mampukah Die Borussen Hentikan Rekor Sempurna Tim Tamu?
- 7Ditekan Anggota Kongres, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth Tegaskan Menolak Pemakzulan
- 8Masuki Usia 8 Tahun, Pindar UKU Bidik Pertumbuhan Lewat Penguatan Kolaborasi dengan Lembaga Keuangan
- 9Prabowo Terima Surat Kepercayaan 11 Duta Besar LBBP Negara Sahabat, Ini Daftarnya
- 10Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar









