BGN Libatkan Guru Sekolah untuk Perkuat Edukasi Gizi Siswa

AKURAT.CO Badan Gizi Nasional (BGN) akan melibatkan para guru di sekolah-sekolah penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk memberikan pendidikan dan pembelajaran ilmu gizi kepada siswa.
Wakil Ketua BGN, Nanik Sudaryati Deyang, mengatakan pelibatan guru bertujuan meningkatkan pemahaman siswa mengenai nilai gizi serta pentingnya pemenuhan gizi seimbang.
“Dengan memahami nilai gizi hidangan MBG, konsumsi makanan para siswa akan semakin optimal,” ujar Nanik dalam keterangannya, Minggu (11/1/2026).
Ia menjelaskan, selama ini pendidikan gizi di sekolah penerima MBG dilakukan secara berkala oleh Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Ke depan, peran tersebut akan diperkuat dengan melibatkan guru sebagai pemberi utama edukasi gizi di sekolah.
“Jika sebelumnya pendidikan gizi dilaksanakan oleh Kepala SPPG, ke depan para guru akan dilibatkan dan bahkan mendapat peran utama dalam pemberian edukasi gizi di sekolah masing-masing,” jelasnya.
Nanik mengungkapkan, BGN telah berkomunikasi dengan Direktorat Jenderal PAUD dan Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) untuk menambah jam pelajaran terkait ilmu gizi.
“Saya sudah bertemu dengan Dirjen PAUD dan Dikdasmen. Saya meminta agar di sekolah-sekolah nanti tersedia jam pelajaran khusus tentang gizi,” katanya.
Baca Juga: Lewat Buku Spirit Kemanusiaan, PDIP Angkat Gagasan Mitigasi Bencana ala Megawati
Selain itu, BGN juga berencana menjalin kerja sama dengan sejumlah kementerian terkait serta perguruan tinggi dalam pengembangan riset di bidang pangan, gizi, dan kesehatan masyarakat.
BGN juga akan melibatkan mahasiswa melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai penyuluh gizi.
“Saya telah bertemu dengan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, untuk menjajaki kerja sama riset terkait pelaksanaan MBG bersama para pakar pangan, gizi, dan kesehatan masyarakat dari perguruan tinggi,” tutur Nanik.
“BGN juga akan melibatkan mahasiswa KKN sebagai penyuluh gizi di desa-desa tempat mereka bertugas,” tambahnya.
Ia berharap, penambahan jam pelajaran ilmu gizi dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa akan pentingnya pemenuhan gizi yang baik.
“Dengan kesadaran itu, siswa akan terbiasa mengonsumsi sayur, lauk, buah, dan susu, sehingga jumlah makanan yang terbuang juga dapat dikurangi,” tegas Nanik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kecelakaan Maut di Afrika Selatan, 21 Orang Tewas dalam Tabrakan Tiga Kendaraan
- 2Terpukau Atmosfer Persija vs Persib di SUGBK, John Herdman: Belum Pernah Saya Rasakan
- 3Apa Itu Gempa Megathrust? Ini Wilayah Indonesia yang Berpotensi Terdampak
- 4Tokoh Partai Reformasi Britania Raya Balas Trump soal Irlandia Bersatu: Jangan Campuri Politik Inggris!
- 5Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 6Suahasil Nazara Jadi Menkeu Baru, Ini Sosok dan Perjalanan Kariernya
- 7ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 8Ismed Sofyan Puji Shin Tae-yong Usai Persija Kalahkan Persib, Putuskan Kebuntuan 3 Tahun
- 9Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 10Fahd A Rafiq Bersama Tujuh Tersangka OTT Summarecon Digiring ke Mobil Tahanan KPK








