Akurat

Bullying Masih Marak di Sekolah, Ini Peran Guru dalam Mencegah dan Menanganinya

Herry Supriyatna | 8 Januari 2026, 20:27 WIB
Bullying Masih Marak di Sekolah, Ini Peran Guru dalam Mencegah dan Menanganinya

AKURAT.CO Kasus bullying atau perundungan masih kerap terjadi di lingkungan sekolah, mulai dari jenjang dasar hingga menengah atas.

Meski sering dianggap sebagai candaan antarsiswa, perundungan dapat menimbulkan dampak serius bagi korban, baik secara psikologis maupun akademik.

Korban bullying kerap mengalami rasa takut, cemas, malu, hingga kehilangan kepercayaan diri.

Dalam banyak kasus, kondisi tersebut berdampak pada menurunnya prestasi belajar karena siswa merasa tidak aman dan tidak nyaman berada di sekolah.

Padahal, sekolah seharusnya menjadi ruang aman bagi peserta didik untuk belajar dan berkembang. Ketika perundungan terjadi, suasana belajar berubah menjadi tidak kondusif.

Dalam situasi ini, guru memegang peran kunci sebagai pendidik sekaligus pengawas untuk mencegah dan menangani bullying secara tepat.

Namun, tidak sedikit guru yang masih ragu untuk bertindak karena khawatir salah langkah atau memperkeruh keadaan.

Padahal, sikap diam justru berpotensi memperpanjang dan memperburuk dampak perundungan.

Baca Juga: Lifting Gas di Bawah Target, Bahlil Pastikan Indonesia Tak Impor LNG

Langkah yang Perlu Dilakukan Guru

1. Menghentikan Bullying Secara Tegas dan Cepat

Guru harus segera menghentikan tindakan bullying begitu mengetahuinya. Tindakan tegas perlu dilakukan tanpa mempermalukan pelaku di depan umum.

Fokus utama adalah menghentikan perundungan dan melindungi korban dari dampak lanjutan.

2. Mendengarkan Kedua Pihak secara Objektif

Setelah situasi terkendali, guru perlu mendengarkan keterangan korban dan pelaku secara terpisah.

Pendekatan ini penting untuk memahami latar belakang kejadian secara menyeluruh dan menghindari penilaian sepihak.

3. Melibatkan Pihak Sekolah dan Orang Tua

Kasus bullying tidak seharusnya ditangani sendiri oleh guru. Pelaporan kepada pihak sekolah, seperti kepala sekolah atau konselor, perlu dilakukan.

Orang tua juga harus dilibatkan agar pendampingan terhadap korban dan pembinaan terhadap pelaku berjalan optimal.

4. Memberikan Dukungan Psikologis kepada Korban

Korban perundungan membutuhkan rasa aman dan dukungan emosional.

Guru dapat memberikan perhatian khusus, motivasi positif, serta memastikan korban tidak terisolasi di lingkungan sekolah.

Jika diperlukan, korban dapat dirujuk untuk mendapatkan pendampingan konseling profesional.

5. Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Empatik

Pencegahan bullying harus dilakukan secara berkelanjutan.

Baca Juga: Waspada Kredit Macet! Ini 7 Strategi Penting Agar Arus Kas Usaha Kecil Tetap Aman

Guru berperan membangun budaya kelas yang menghargai perbedaan, menumbuhkan empati, serta mendorong interaksi yang sehat antarsiswa melalui diskusi dan kegiatan edukatif.

Guru memiliki peran strategis dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan inklusif.

Penanganan bullying yang cepat, bijak, dan empatik tidak hanya melindungi korban, tetapi juga mendidik pelaku agar memahami dampak dari tindakannya.

Sekolah yang bebas dari bullying menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi yang berkarakter, berempati, dan saling menghargai.

Laporan: Bunga Adinda/magang

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.