Lifting Gas di Bawah Target, Bahlil Pastikan Indonesia Tak Impor LNG

AKURAT.CO Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat lifting gas bumi pada 2025 mencapai 951,8 ribu barel setara minyak per hari (mboepd) atau tidak sesuai target yang sudah ditetapkan sebesar 1.005 ribu mboepd.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menyampaikan meski lifting tak sesuai target, sepanjang tahun 2025 Indonesia tidak melakukan impor gas bumi, meskipun pada awal tahun sempat muncul wacana impor sekitar 40 kargo liquefied natural gas (LNG).
Bahlil mengatakan capaian tersebut merupakan hasil kerja keras Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas), Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas), serta seluruh tim Kementerian ESDM dalam menjaga keseimbangan pasokan dan kebutuhan gas nasional.
“Saya bersyukur kinerja dari SKK, dari Dirjen Migas, dari tim kita, bahwa sekalipun di awal tahun terjadi dinamika yang tinggi untuk ada keinginan impor kurang lebih sekitar 40 kargo LNG di awal tahun, tapi berkat kerja keras kita semua, di tahun 2025 tidak ada kita melakukan impor gas,” kata Bahlil dalam konferensi pers capaian kinerja Kementerian ESDM 2025, Kamis (8/1/2026).
Baca Juga: Lifting Migas Dibidik 610 Ribu Barel, ESDM Siapkan Strategi Baru
Bahlil menegaskan seluruh kebutuhan gas nasional tahun 2025 dipenuhi dari produksi dalam negeri. Dari total produksi tersebut, sebagian dimanfaatkan untuk konsumsi domestik dan sisanya diekspor.
Menurut Bahlil, pengelolaan gas bumi berbeda dengan minyak karena karakteristik gas yang tidak dapat disimpan dalam waktu lama. Oleh sebab itu, keseimbangan antara pasokan dan permintaan gas harus dijaga secara ketat.
“Karena kalau gas ini harus antara supply and demandnya harus sama. Karena dia storage-nya tidak sebesar yang seperti di minyak, kita gak bisa tahan terlalu lama,” ujarnya.
Lebih lanjut, Bahlil memaparkan bahwa dari total produksi gas nasional, sebanyak 69% dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik, sementara 31% diekspor. Dari porsi domestik tersebut, sekitar 37% digunakan untuk mendukung program hilirisasi industri.
“Nah ini gas dari total produksi kita, 31% kita ekspor, 69% untuk konsumsi domestik, dari 69% itu adalah hilirisasinya 37%. Ini kira-kira teman-teman pemanfaatan gas bumi,” tutur Bahlil.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









