Aliran Dana PBNU ke AS Terkuak, Nama Gus Yahya dan Charles Taylor Jadi Sorotan

AKURAT.CO Aliran dana Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ke Amerika Serikat terkuak dan memicu sorotan publik. Nama Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) serta penasihat khususnya, Charles Holland Taylor, ikut terseret dalam polemik yang kini menghangat di internal organisasi.
Isu ini mencuat setelah beredar dokumen audit internal PBNU yang menyinggung dugaan tata kelola keuangan bermasalah. Dokumen tersebut juga memuat indikasi transaksi keuangan lintas negara yang dinilai tidak lazim, di tengah tudingan dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) senilai Rp100 miliar yang dikaitkan dengan terpidana korupsi Mardani H. Maming.
Belakangan, sejumlah pihak membantah bahwa dokumen audit tersebut telah final. Namun, temuan baru kembali mengemuka, khususnya terkait transfer dana PBNU ke luar negeri.
Baca Juga: Menag Nasaruddin Umar Nilai PBNU Tidak Berkonflik, Hanya Sedang Panen Pembengkakan Kualitas
Berdasarkan informasi yang dihimpun, PBNU tercatat melakukan tiga kali transfer dana ke Amerika Serikat dengan nilai masing-masing sebesar USD 84.333. Total dana yang telah dikirim mencapai USD 252.999 atau sekitar Rp4,15 miliar. Transaksi tersebut berlangsung pada 2 Januari 2025, 25 Maret 2025, dan 19 Agustus 2025.
Dana itu dikirim ke dua organisasi berbeda, yakni Home of Divine Grace dan LibForAll Foundation. Meski berbeda nama, kedua organisasi tersebut tercatat menggunakan alamat yang sama, yaitu 1959 Peace Haven Rd, #357 Winston-Salem, North Carolina, Amerika Serikat.
Seluruh transaksi dicatat dengan kode tujuan “2570-Penelitian dan Pengembangan” dan dikirim dari rekening Bank Mandiri PBNU. Selain dana yang telah ditransfer, terdapat pula rencana anggaran yang diajukan Center for Shared Civilizational Values (CSCV) untuk membiayai empat konsultan Akademi Kepemimpinan Nasional NU (AKN NU) periode 1 September 2024 hingga 31 Agustus 2026.
CSCV sendiri sejak 2022 ditunjuk PBNU sebagai wahana utama keterlibatan internasional NU sekaligus Sekretariat Tetap Forum Agama G20 (R20).
Sejumlah media telah melakukan konfirmasi kepada pihak PBNU belum membuahkan hasil. Ketum PBNU Gus Yahya, Sekjen PBNU Amin Said Husni, serta Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang sebelumnya menjabat Sekjen PBNU, tidak memberikan tanggapan. Syuriyah PBNU juga enggan berkomentar. “Mohon maaf ya,” ujar Katib Syuriyah PBNU Sarmidi Husna singkat melalui pesan tertulis, Selasa, 23 Desember 2025.
Dalam pusaran polemik ini, Gus Yahya tak berdiri sendiri. Penasihat khusus urusan internasional PBNU, Charles Holland Taylor, turut dicopot oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Ahyar. Pencopotan tersebut diumumkan melalui Surat Edaran Nomor 4780/PB.23/A.II.10.71/99/11/2025 dan dikaitkan dengan isu sensitif yang berkembang di internal organisasi.
Charles Taylor dikenal sebagai pendiri dan CEO LibForAll Foundation, serta salah satu pendiri Center for Shared Civilizational Values (CSCV). Ia juga tercatat mendirikan sejumlah organisasi internasional bersama tokoh-tokoh NU, termasuk almarhum Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Secara terpisah, Gus Yahya memberikan klarifikasi terbuka melalui surat resmi bernomor 4928/PB.23/A.II.07.08/99/12/2025 tertanggal 21 Desember 2025. Ia membantah keras tudingan penyalahgunaan dana Rp100 miliar.
“Telah beredar tuduhan bahwa saya menggunakan dana sebesar 100 miliar rupiah yang masuk ke rekening PBNU untuk kepentingan pribadi dan untuk menyuap KPK. Tuduhan ini tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya,” tulis Gus Yahya.
Ia menegaskan bahwa pengelolaan program PBNU, termasuk AKN NU dan kerja sama internasional melalui CSCV, dilakukan dalam kerangka mandat kelembagaan. Terkait dana yang dikaitkan dengan Mardani H. Maming, Gus Yahya menyatakan sebagian merupakan sumbangan operasional, sementara sisanya telah diperintahkan untuk dikembalikan.
“Penanganan ini dilakukan dengan prosedur yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya, seraya menegaskan tidak ada unsur TPPU dan tidak ada keterlibatan aktif PBNU dalam perkara hukum tersebut.
Baca Juga: Gus Yahya Siap Islah, Tunggu Jawaban Rais Aam PBNU 3x24 Jam
Gus Yahya juga menyinggung polemik AKN NU yang ikut disorot publik. Ia mengakui adanya kekhilafan dalam proses seleksi narasumber dan menyatakan program tersebut dihentikan sementara sebagai bentuk tanggung jawab atas arahan Rais Aam.
Di tengah konflik internal yang kian terbuka, Gus Yahya tetap menyerukan jalan islah. Ia menegaskan siap menahan diri dan tunduk pada proses musyawarah demi menjaga keutuhan organisasi.
“Saya tunduk dan siap menahan diri demi kesatuan, keutuhan, dan kemajuan Nahdlatul Ulama,” tulisnya.
Polemik aliran dana ini menambah daftar dinamika internal PBNU yang belakangan mencuat ke ruang publik, sekaligus memantik perdebatan luas soal transparansi, tata kelola keuangan, dan arah keterlibatan internasional organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










