Akurat

6 Happy Ending Konflik Internal Elite PBNU: Struktur Kepengurusan Kambali Seperti Semula

Fajar Rizky Ramadhan | 31 Desember 2025, 07:22 WIB
6 Happy Ending Konflik Internal Elite PBNU: Struktur Kepengurusan Kambali Seperti Semula

AKURAT.CO Konflik internal yang sempat menguji soliditas Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akhirnya mencapai babak akhir yang menenangkan. Setelah melalui rangkaian dialog panjang dan musyawarah para kiai sepuh, dinamika yang sempat memanas kini berujung pada islah.

Proses ini tidak hanya menyudahi polemik, tetapi juga menghadirkan sejumlah “happy ending” yang menegaskan kembalinya NU pada khittah persatuan dan kebersamaan.

Pertemuan penting yang digelar di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, pada Kamis, 25 Desember 2025, menjadi titik balik meredanya ketegangan. Dari forum inilah lahir sejumlah kesepakatan strategis yang menandai berakhirnya konflik elite PBNU.

Pertama, Rais Aam dan Ketua Umum PBNU sepakat menggelar Muktamar bersama. Kesepakatan antara Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf menjadi sinyal paling kuat bahwa konflik telah menemukan jalan tengah.

Juru Bicara Ponpes Lirboyo, KH Oing Abdul Muid Shohib atau Gus Muid, menegaskan bahwa muktamar dipilih sebagai solusi paling maslahat untuk menyudahi polemik berkepanjangan.

Menurutnya, keputusan ini merupakan ikhtiar menjaga marwah jam’iyyah serta mengembalikan NU pada semangat persatuan. Seluruh teknis pelaksanaan, mulai dari waktu hingga kepanitiaan, akan dibahas secara musyawarah agar tidak memunculkan gesekan baru di kemudian hari.

Baca Juga: Muktamar NU ke-35 Digelar di Ponpes Lirboyo Kediri, Apa Benar?

Kedua, pertemuan islah merupakan buah dari jalan panjang dialog para kiai. Kesepakatan di Lirboyo bukanlah keputusan instan, melainkan muara dari serangkaian musyawarah yang telah berlangsung di berbagai pesantren, seperti Ponpes Al-Falah Ploso Kediri dan Ponpes Tebuireng Jombang.

Seluruh proses tersebut dilandasi keprihatinan bersama agar Nahdlatul Ulama tetap utuh, sejuk, dan mampu menjalankan peran keummatan sebagaimana cita-cita para pendirinya.

Ketiga, struktur PBNU kembali seperti semula. Salah satu hasil paling konkret dari islah adalah kembalinya struktur kepengurusan PBNU ke formasi awal sebelum konflik terjadi. Hal ini ditegaskan kembali dalam pertemuan silaturahim di Pondok Pesantren Miftachussunnah, Surabaya, pada Minggu, 28 Desember 2025.

Ketua Umum PBNU Gus Yahya menyampaikan bahwa secara lahir dan batin, seluruh pengurus telah mengukuhkan kebersamaan. Tidak ada lagi sekat perbedaan, dan seluruh agenda organisasi kembali dijalankan secara kolektif.

Keempat, suasana PBNU kembali kekeluargaan. Nuansa tegang yang sebelumnya terasa kini berganti dengan kehangatan. Pertemuan-pertemuan pasca-islah diwarnai dengan selawat bersama dan silaturahim, bukan lagi perdebatan.

Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan bahwa hadirnya Rais Aam dan Ketua Umum secara berdampingan merupakan simbol kuat bahwa NU tetap satu. Ia menyebut, keguyuban yang terbangun menjadi modal penting untuk melanjutkan agenda-agenda besar organisasi.

Kelima, islah membatalkan seluruh keputusan kontroversial sebelumnya. Kesepakatan damai ini sekaligus membatalkan seluruh keputusan yang sempat memicu polemik, termasuk wacana penunjukan pejabat ketua umum dan pergantian sekretaris jenderal.

Gus Muid menjelaskan bahwa meski diskusi di Lirboyo sempat berlangsung dinamis, kematangan para ulama membuat seluruh pihak akhirnya sumeleh dan menerima arahan Mustasyar PBNU demi tercapainya mufakat bersama.

Baca Juga: Gus Yahya Resmikan 69 SPPG di Batang, Rais Aam PBNU Tak Diajak?

Keenam, Lirboyo siap menjadi tuan rumah Muktamar NU ke-35. Salah satu happy ending lainnya adalah kesiapan Pondok Pesantren Lirboyo untuk menjadi lokasi penyelenggaraan Muktamar NU ke-35 jika dipercaya.

Meski waktu dan tempat masih akan dibahas lebih lanjut, pernyataan kesiapan ini menunjukkan dukungan penuh dari kalangan pesantren terhadap agenda besar PBNU ke depan.

Berakhirnya konflik internal elite PBNU ini menjadi pelajaran penting bahwa musyawarah, kesabaran, dan kearifan para ulama tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga keutuhan jam’iyyah.

Islah bukan sekadar menyudahi perbedaan, tetapi juga membuka lembaran baru bagi NU untuk melangkah lebih solid, tenang, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.