Akurat

Survei Enter Nusantara Ungkap Rp305 Triliun Mengalir Deras ke Industri Batu Bara

Mukodah | 1 November 2025, 07:06 WIB
Survei Enter Nusantara Ungkap Rp305 Triliun Mengalir Deras ke Industri Batu Bara

AKURAT.CO Ironi pendanaan di sektor energi Indonesia kian disorot. Enter Nusantara meluncurkan riset sederhana yang mengungkap kesadaran tinggi nasabah muda terhadap dukungan finansial bank domestik kepada industri batu bara.

Laporan tersebut mendesak institusi keuangan untuk segera menghentikan alokasi dana yang dinilai menghambat komitmen iklim nasional.

Dalam peluncuran hasil survei di Ruang Belajar Alex Tilaar, Enter Nusantara, Jakarta, pada Senin (27/10/2025) mengungkapkan bahwa bank-bank domestik sejak 2016 hingga 2022 telah menyalurkan pinjaman masif senilai sekitar USD19,5 miliar -setara lebih dari Rp305 triliun (kurs estimasi)- ke sektor energi fosil.

Angka ini kontras ekstrem dengan alokasi ke proyek energi terbarukan yang hanya berkisar USD1,7 miliar atau setara dengan sekitar Rp28,286 triliun.

Baca Juga: Mantan Dirut Pertamina: TBBM PT OTM Diperlukan untuk Cadangan Energi Nasional

Hasil riset Enter Nusantara lakukan terhadap nasabah muda dengan rentang usia 17-35 tahun di Jabodetabek menunjukkan indikasi kuat bahwa ternyata generasi ini siap mengambil tindakan.

"Dari hasil survey membuktikan bahwa generasi muda telah memberikan mandat perubahan, bahwa transparansi adalah trigger aktivisme. Laporan ini krusial untuk merumuskan strategi advokasi terukur guna mendesak bank, termasuk Danantara, agar memprioritaskan transparansi dan transisi ke energi terbarukan demi memenuhi komitmen iklim Indonesia," jelas Project Lead #BersihkanBankmu, Ramadhan.

Dilema Produksi dan Ketergantungan Fosil

Laporan ini juga menyoroti dilema produksi batu bara nasional. Di saat Indonesia berada di garis depan krisis iklim, lebih dari 88 persen sumber listrik masih bertumpu pada bahan bakar fosil, di mana 60 persennya berasal dari batu bara.

Ironisnya, pada tahun 2024, produksi batu bara Indonesia mencapai rekor tertinggi, menembus 836 juta ton, meningkat hampir 8 persen dari tahun sebelumnya.

Baca Juga: Pemerintah Percepat Implementasi Biodiesel B50 untuk Kemandirian Energi Nasional

Proyeksi kebutuhan batu bara untuk pembangkit listrik bahkan diperkirakan terus meningkat dari 90 juta ton saat ini menjadi 150-160 juta ton pada tahun 2028-2030.

Danantara dan Tekanan Transisi Energi

Riset sederhana yang dilakukan oleh Enter Nusantara secara spesifik menganalisis peran Danantara, sebagai pengelola investasi strategis BUMN, yang memegang kendali atas bank-bank penyandang dana batu bara terbesar di Indonesia.

Hasil tersebut menjadi dasar bagi Enter Nusantara dan mitra CSO untuk meningkatkan tekanan publik demi mendorong perubahan kebijakan investasi yang lebih berkelanjutan.

Sesi diskusi panel yang melibatkan Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Enter Nusantara dan Energy Shift Institute menyoroti bahwa akuntabilitas lembaga keuangan, khususnya Danantara dan bank domestik, sangat krusial dalam menentukan arah masa depan energi Indonesia.

Baca Juga: Legalisasi Tambang Rakyat Jadi Tonggak Kemandirian Energi yang Inklusif dan Berkeadilan

Para pakar menekankan bahwa bank harus bertanggung jawab dan segera mengarahkan investasi mereka ke energi bersih.

"Sebagai masyarakat kita harus menuntut pemerintah begitu juga perbankan untuk lebih terbuka mengenai transparansi uang kita. Karena ketika kita mempunyai informasi yang sempurna, kita bisa memutuskan sesuatu dengan lebih baik," ujar Researcher CELIOS, Rani Septyarini.

"Jika Indonesia serius ingin menarik investasi hijau, maka OJK, BKF, dan kementerian harus mulai menjawab pertanyaan apakah taksonomi yang sekarang mendorong atau memperlemah sinyal transisi energi terhadap pasar? Taksonomi yang tidak kredibel justru dapat membuat investor iklim dan hijau ragu untuk berinvestasi di Indonesia. Indonesia harus melihat kedepan dan memberikan batasan tegas untuk PLTU batu bara tidak disertakan dalam kategori hijau maupun transisi. Ini adalah langkah yang sangat penting untuk meyakinkan investor hijau bahwa Indonesia serius dalam melakukan transisi hijau," Senior Analyst Energy Shift Institute, Nabila Gunawan, memaparkan.

"Kita enggak mau masa depan tempat kita hidup harus semakin rusak akibat uang kita digunakan buat mendanai industri kotor batu bara. Bank di Indonesia harus transparan soal ke mana dana publik mereka mengalir. Kita semua, anak muda berhak tahu, uang mereka digunakan untuk apa. Karena uang kita mewakili tindakan kita," jelas Program Manager Enter Nusantara, Nabila Putri, dalam keterangannya, Sabtu (1/11/2025).

Baca Juga: Survei ARCI: Kepuasan Warga Jatim terhadap Kebijakan Energi Prabowo–Gibran Tembus 75,5 Persen

Nabila Putri menambahkan, hasil riset sederhana ini diharapkan dapat menjadi katalisator, mendorong bank-bank domestik dan Danantara untuk segera menghentikan pendanaan batu bara dan mempercepat agenda transisi energi yang adil dan berkelanjutan di Indonesia.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK