Pesantren Jadi Gerbang Lembaga Pendidikan, Juga Penjaga Moral Bangsa

AKURAT.CO Penting dalam menjaga martabat pondok pesantren di tengah derasnya arus modernitas.
Wakil Ketua Komisi X DPR, Lalu Hadrian Irfani, mengatakan, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan tetapi juga benteng moral dan sumber nilai-nilai yang telah membentuk karakter bangsa sejak masa perjuangan kemerdekaan.
"Pesantren adalah tempat di mana nilai-nilai ke-Indonesia-an, gotong royong, hormat kepada guru dan ketulusan hati hidup terus. Dari pesantren inilah lahir para ulama, pejuang dan negarawan yang menjaga negeri ini," ujarnya, dalam keterangannya, Jumat (17/10/2025).
Berkaitan dengan pemberitaan Trans7 yang dinilai menyudutkan ponpes dan memicu reaksi publik, Lalu Hadrian berpendapat bahwa itu menjadi pengingat bagi bangsa Indonesia untuk kembali belajar adab dari pesantren dan para kiai.
Baca Juga: Komisi X DPR Dorong Pendidikan Karakter di Pesantren Masuk Kurikulum Nasional
"Mungkin Allah SWT sedang menegur kita semua melalui layar kaca, agar bangsa ini kembali belajar adab dari pesantren," katanya.
Anggota Komisi X DPR, Habib Syarief Muhammad, menyatakan pesantren tidak hanya mendidik santri dalam ilmu agama tetapi juga membentuk karakter.
Seperti halnya penghormatan kepada guru, hidup sederhana dan ketulusan dalam mengabdi adalah nilai yang tidak dapat diukur dengan standar rasional semata.
"Cium tangan itu bukan simbol feodalisme tapi wujud takzim dan hormat," katanya.
Baca Juga: DPR Desak Kemenag Segera Realisasikan Direktorat Jenderal Pesantren
Syarief menuturkan pesan gurunya di Pesantren Krapyak, Yogyakarta, yang melarang santri menentukan tarif ceramah.
Selain itu, sebagian besar pesantren di Indonesia berdiri secara mandiri tanpa sokongan besar dari pemerintah.
"Mungkin hanya 20 persen yang mendapat bantuan negara. Selebihnya murni dari kekayaan pribadi kiai atau warisan keluarga. Guru saya bilang, begitu kamu menentukan nominal amplop, saat itu juga ilmu menghilang. Itu bentuk pendidikan akhlak yang tidak ditemukan di lembaga lain," jelasnya.
Menyoroti polemik tayangan Trans7, Syarief menyebut tim produksi seharusnya melakukan riset mendalam sebelum menayangkan konten yang sensitif.
Baca Juga: DPR Tolak Toleransi terhadap Kekerasan Seksual di Lembaga Pendidikan, Termasuk Pesantren
Menurutnya, banyak pesantren dan alumni yang bisa menjadi sumber valid untuk menjelaskan kehidupan pesantren yang sebenarnya.
"Kalau mereka bertanya pada dua atau tiga alumni saja, pasti akan tahu bahwa gambaran dalam tayangan itu tidak benar. Saya tidak menolak tayangan itu, tapi sayang sekali, tidak berhasil memotret pesantren secara utuh," ujarnya.
Syarief juga meminta media massa untuk lebih berhati-hati dalam menayangkan konten tentang pesantren.
Ia menyebut sudah banyak penelitian akademik yang bisa dijadikan rujukan, termasuk karya Almarhum Gus Dur dan beberapa studi dari peneliti luar negeri.
Baca Juga: Imbas Polemik Pesantren Lirboyo, DPR Minta Komdigi dan KPI Evaluasi Izin Siar Trans7
"Kalau ingin memahami pesantren, datanglah langsung ke kiai, lihat bagaimana mereka hidup dan membimbing santri. Pesantren adalah benteng moral bangsa," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









