Indonesia Ambil Peran Sentral dalam Perang Melawan Resistensi Antimikroba

AKURAT.CO Resistensi Antimikroba (AMR) merupakan ancaman nyata yang tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga mengancam stabilitas ekonomi dunia.
Untuk itu, Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, menegaskan bahwa Indonesia kini memegang peran penting sebagai pemimpin kawasan dalam upaya global melawan AMR.
"Masalah antimikroba adalah komitmen besar saya. Pada 2019, tercatat 1,27 juta kematian di dunia akibat AMR," kata Dante, dikutip, Sabtu (13/9/2025).
Baca Juga: Kemenkes dan GHS Bagikan Pembelajaran VaxSocial, Ubah Percakapan Online Jadi Perlindungan Kesehatan
Menurut data Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) di Indonesia pada tahun 2021, terdapat 36.500 kematian yang dapat diatribusikan pada AMR dan 147.000 kematian yang terkait dengan AMR.
Kematian yang 'dapat diatribusikan', diartikan sebagai kematian yang sebenarnya bisa dicegah apabila bakteri penyebab infeksi tidak resisten terhadap obat. Sementara itu, kematian yang 'terkait' merujuk pada kematian yang tidak akan terjadi jika infeksinya dapat dicegah sepenuhnya.
Pemerintah bersama WHO dan ASEAN berkomitmen memperkuat layanan kesehatan primer, meningkatkan akses terhadap obat yang efektif, serta memperluas kemitraan lintas sektor.
"AMR juga membawa dampak ekonomi yang sangat besar, diperkirakan mencapai 3,4 triliun dolar pada 2030," jelasnya.
Da menekankan, Indonesia bukan hanya sebagai negara terdampak, tetapi juga sebagai penggerak solusi global. Dengan dukungan WHO, ASEAN, dan jejaring internasional ReAct, kolaborasi diharapkan mampu memperlambat laju resistensi antimikroba serta melindungi generasi mendatang dari ancaman kesehatan global.
Sebagai informasi, ReAct merupakan jaringan independen internasional pertama yang mengangkat kompleksitas resistensi antibiotik serta faktor-faktor pemicunya.
Baca Juga: Kemenkes Buka Suara Soal Kasus Raya: Cacingan Masih Jadi Ancaman Nyata
"Sejak awal, ReAct berperan sebagai katalis global yang mendorong keterlibatan berbagai organisasi, individu, dan pemangku kepentingan dalam menghadapi isu ini," tegasnya.
Sementara itu, Direktur ReAct Asia Pacific, Dr. S.S. Lal, menegaskan bahwa Indonesia telah menunjukkan kepemimpinan kuat di kawasan. Namun, dia mengingatkan bahwa penggunaan antibiotik yang tidak tepat masih menjadi persoalan serius.
"Indonesia telah menjadi pemimpin dalam perjuangan melawan AMR. Saya percaya masih ada dokter yang meresepkan antibiotik tidak tepat. Konferensi ini menjadi wadah penting untuk memperkuat aksi bersama," ucapnya.
Hal senada disampaikan Direktur ReAct Eropa, Anna Sjöblom, mengatakan dibutuhkan kolaborasi lintas sektor di kawasan ini.
"Saya menilai komitmen Indonesia memberi inspirasi bagi dunia. Saya melihat betapa pentingnya kolaborasi lintas sektor dan pengalaman Indonesia dalam mencegah resistensi antimikroba bisa menjadi contoh baik bagi dunia," ucapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









