Akurat

Kasus Bunuh Diri Ibu dan Anak di Bandung, DPR Dorong Penguatan Layanan Kesehatan Mental

Ahada Ramadhana | 9 September 2025, 20:29 WIB
Kasus Bunuh Diri Ibu dan Anak di Bandung, DPR Dorong Penguatan Layanan Kesehatan Mental

AKURAT.CO Kabid Pembinaan Masyarakat Rentan dan Disabilitas DPP PKS sekaligus Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, menyampaikan keprihatinannya atas kasus ibu bunuh diri setelah racuni dua anaknya akibat terlilit utang di Bandung, Jawa Barat.

Menurutnya, kasus ini menunjukan gentingnya ketahanan keluarga masyarakat di Indonesia, dan lemahnya sistem perlindungan jiwa dan sosial negara dalam mengantisipasi keadaan darurat pertolongan.

"Peristiwa tragis ini sangat memilukan sekaligus alarm bagi kita semua. Ada jeritan keputusasaan yang tidak terbaca oleh keluarga, lingkungan dan  negara," kata Netty, Selasa (9/9/2025).

Baca Juga: ​Rahasia Cara Jaga Kesehatan Mental, Simak Hal Ini agar Tetap Tenang dan Bahagia​

Dia menekankan, pemerintah harus memperkuat akses layanan kesehatan mental hingga ke tingkat desa dan kelurahan. Kasus ini menunjukkan pentingnya ketersediaan konseling krisis dan pendampingan psikososial yang mudah dijangkau masyarakat, terutama keluarga rentan.

Sebab menurutnya, kesehatan mental harus ditempatkan setara pentingnya dengan kesehatan fisik. "Ibu-ibu yang mengalami tekanan ekonomi, rumah tangga, atau masalah pribadi butuh ruang aman untuk bercerita dan mendapatkan pertolongan profesional," ujarnya.

Selain layanan kesehatan, dia juga mendesak penguatan jaring pengaman sosial dan bantuan ekonomi produktif bagi keluarga miskin. Dia menilai, tekanan finansial kerap menjadi pemicu depresi dan keputusasaan.

"Negara harus hadir, bukan hanya setelah tragedi terjadi. Bantuan ekonomi, pemberdayaan perempuan, hingga pendampingan keluarga rentan adalah bagian integral dari strategi pencegahan," ungkapnya.

Baca Juga: Solidkan Fraksi di DPR, Bahlil Dorong Golkar Fokus pada Kepentingan Publik

Dia juga mengingatkan pentingnya kepekaan sosial di tingkat masyarakat. Dia menilai, tanda-tanda stres berat sering muncul sebelum terjadi tragedi, tetapi kerap tidak direspons dengan tepat oleh lingkungan.

"Kita semua harus belajar lebih peka. Jangan menunggu putus asa berujung pada hilangnya nyawa. Peran keluarga, tetangga, tokoh masyarakat, dan tokoh agama sangat penting sebagai lini pertama pencegahan," katanya.

Dia menegaskan, agar tragedi ini menjadi momentum memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam melindungi perempuan dan anak. 

"Kita tidak boleh membiarkan satu pun ibu merasa bahwa jalan satu-satunya adalah mengakhiri hidupnya bersama anak-anaknya. Setiap nyawa berharga dan harus dilindungi," tegasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.