Stabilitas Sosial Politik Ujian bagi Sektor Pariwisata Indonesia

AKURAT.CO Gelombang unjuk rasa di berbagai kota besar Indonesia bukan hanya menjadi sorotan domestik, berbagai media internasional menyorotinya secara serentak.
Pakar strategi pariwisata nasional yang juga Founder Yayasan Inovasi Pariwisata Indonesia, Taufan Rahmadi, menjelaskan, dalam era informasi yang begitu cepat, citra Indonesia di mata publik dunia dalam sekejap bisa bertransformasi dari destinasi yang semarak budaya dan ramah wisatawan menjadi negara yang dipandang penuh risiko instabilitas.
Menurutnya, persepsi keamanan akan langsung terpengaruh. Label destinasi yang tidak aman mudah melekat, terutama bagi kota-kota yang disebut dalam pemberitaan internasional.
Baca Juga: Sinergi Pemprov dan Pemkab, OKU Selatan Menuju Kawasan Pariwisata Strategis
Persepsi inilah yang paling sulit dipulihkan karena menyangkut kepercayaan wisatawan, baik individu maupun kelompok.
Karenanya, imbauan semacam ini kerap memicu penurunan kunjungan wisatawan mancanegara secara signifikan.
"Munculnya travel advisory dari sejumlah negara. Biasanya, status yang diberikan minimal berupa exercise increased caution bagi warganya yang hendak berkunjung," kata Taufan, kepada wartawan, Minggu (31/8/2025).
Baca Juga: Saatnya Pariwisata Jadi Penopang Utama Pembangunan dan Stabilitas Sosial
Taufan juga menekankan ancaman terbesar ada pada sektor MICE (Meetings, Incentives, Conferences, Exhibitions). Sedangkan saat ini, Indonesia sedang berusaha menjadi tuan rumah berbagai event internasional.
"Namun persepsi instabilitas politik dan keamanan dapat membuat para penyelenggara global menunda, bahkan memindahkan lokasi acara mereka ke negara lain yang dianggap lebih stabil," ujarnya.
Selain itu, investasi pariwisata ikut terdampak seperti hotel, resort hingga taman rekreasi adalah sektor yang sangat sensitif terhadap isu stabilitas.
Baca Juga: Taiwan Travel Fair 2025 Dimulai, Generasi Muda Indonesia Jadi Target Utama Pariwisata Taiwan
Maka dengan adanya gejolak sosial politik di Indonesia, disinyalir investor tentu akan bersikap lebih hati-hati dalam mengambil keputusan ekspansi.
"Jika situasi ini tidak segera direspon dengan langkah pemulihan citra yang tegas, Indonesia berpotensi mengalami efek domino jangka menengah. Thailand pada 2010 atau Hong Kong pada 2019 adalah contoh nyata di mana kunjungan turis turun hingga 20-40 persen hanya dalam kurun waktu kurang dari setahun," jelasnya.
Menurut Taufan, saat ini bukan sekadar manajemen krisis di level politik, namun juga langkah strategis untuk menjaga citra Indonesia sebagai destinasi wisata dunia.
Baca Juga: Sinergi Pariwisata Terjalin, PIK Tourism Board Ikut Warnai Baduy Travel Mart III
Pemerintah perlu tampil dengan clear statement dan Fast Action yang menegaskan keberpihakan pada keadilan, penegakan hukum yang transparan serta jaminan keamanan bagi publik dan wisatawan.
Diplomasi pariwisata juga perlu digerakkan, bukan hanya lewat promosi destinasi tetapi melalui komunikasi yang menyejukkan di ranah internasional.
"Pemangku kepentingan pariwisata, mulai dari pelaku industri hingga asosiasi, harus bersatu mengirim pesan positif bahwa Indonesia tetap ramah, terbuka, dan aman untuk dikunjungi," ucapnya.
Baca Juga: Kunci Sektor Pariwisata Indonesia Bisa Bersaing di Kancah Global
Taufan menegaskan bahwa pariwisata adalah sektor yang paling cepat menerima dampak dari persepsi ketidakstabilan, namun juga yang paling cepat bangkit ketika citra positif berhasil dipulihkan.
"Situasi ini hendaknya menjadi momentum bagi pemerintah untuk merespons dengan bijak, memastikan bahwa krisis yang terjadi tidak berlarut-larut menjadi krisis kepercayaan internasional," ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 7Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 8Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini







