Saatnya Pariwisata Jadi Penopang Utama Pembangunan dan Stabilitas Sosial

AKURAT.CO Data Kementerian Pariwisata tahun 2024 mencatat, sektor pariwisata menyerap 25,01 juta pekerja atau tumbuh 2,5 persen dibanding tahun sebelumnya.
Jumlah ini jauh melampaui penyerapan tenaga kerja di industri pengolahan (19,6 juta) maupun konstruksi (9,47 juta), bahkan setara dengan gabungan keduanya.
Dewan Pakar GSN Bidang Pariwisata, Taufan Rahmadi, menilai, tantangan ke depan bukan sekadar memastikan pertumbuhan, tetapi juga menjamin lapangan kerja yang berkualitas dan berkelanjutan.
“Pariwisata tidak boleh hanya menciptakan pekerjaan musiman. Kita butuh lapangan kerja yang berkualitas, stabil, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya, Minggu (24/8/2025).
Menurut Taufan, kunci penguatan pariwisata ke depan mencakup peningkatan SDM melalui vokasi, sertifikasi, dan digitalisasi layanan; insentif fiskal bagi usaha padat karya dan ramah lingkungan; serta pengembangan desa wisata sebagai pusat inklusi tenaga kerja lokal.
Baca Juga: RUU Haji dan Umrah Segera Disahkan, DPR Pastikan Paripurna 26 Agustus
Ia menekankan pentingnya kebijakan lintas sektor agar pariwisata menjadi katalis bagi pertanian, UMKM, hingga industri kreatif.
"Jika strategi ini konsisten dijalankan, pariwisata bisa menjawab kerentanan struktural sektor tenaga kerja yang selama ini bergantung pada pertanian tradisional dan manufaktur yang melambat,” tegasnya.
Pariwisata, kata Taufan, merupakan sektor inklusif yang membuka peluang lebih besar bagi pekerja muda, perempuan, dan pelaku UMKM.
Efek bergandanya juga menjalar ke berbagai sektor: pertanian mendapat pasar dari kuliner wisata, industri kreatif tumbuh lewat kerajinan dan seni pertunjukan, hingga transportasi hidup berkat mobilitas wisatawan.
“Sekarang saatnya pariwisata ditempatkan bukan sekadar sektor pendukung devisa, tetapi pilar utama penyerapan tenaga kerja dan pembangunan inklusif. Jika pemerintah berani menempatkan pariwisata sebagai lokomotif bersama industri pengolahan dan perdagangan, target pertumbuhan 8 persen bukan lagi utopia. Pariwisata bisa jadi booster pertumbuhan sekaligus penyangga stabilitas sosial,” pungkasnya.
Baca Juga: Demo 25 Agustus 2025: Seruan Aksi Besar di DPR RI, Benarkah Akan Terjadi?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Moto3 Malaysia: Angkat Topi, Hiroshi Aoyama Terpukau dengan Penampilan Veda Ega Pratama di Sepang
- 2Prediksi Skor Shakhtar vs Sporting CP 4 November 2026: Sama-Sama Incar Kebangkitan
- 3Putusan MA Soal Suket Gibran, Margarito Kamis Ungkap Dampaknya terhadap Jabatan Wapres
- 4Transfer Bank Kena Pajak Digital Mulai 9 November 2026? Ini Faktanya
- 5Prediksi Skor LASK Linz vs Slovan Bratislava 4 November 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 6Prediksi Pertandingan Galatasaray vs Stuttgart 4 November 2026: Skor, Starting XI, dan Jadwal
- 7Prediksi Skor Atletico Madrid vs Bayern Munchen 4 November 2026: Los Rojiblancos Diunggulkan
- 8Kisi-Kisi dan Contoh Soal Matematika Wajib TKA SMA 2026 Lengkap dengan Kunci Jawaban
- 9Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar
- 10Prabowo Tunjuk Letjen Ariyo Windutomo Jadi Pelaksana Tugas Kepala Staf Kepresidenan Menggantikan Listyo Sigit









