Akurat

Indonesia–Arab Saudi Perkuat Kemitraan Pariwisata Berbasis Diplomasi Spiritual dan Transformasi Digital

Herry Supriyatna | 14 November 2025, 18:00 WIB
Indonesia–Arab Saudi Perkuat Kemitraan Pariwisata Berbasis Diplomasi Spiritual dan Transformasi Digital

AKURAT.CO Hubungan pariwisata Indonesia dan Arab Saudi memasuki fase baru yang semakin strategis.

Kesamaan nilai sebagai negara berpenduduk mayoritas Muslim, mobilitas jamaah Umrah yang terus meningkat, serta transformasi besar-besaran sektor pariwisata Saudi, menjadi fondasi kuat terbentuknya kolaborasi dua arah yang lebih modern, inklusif, dan bernilai tinggi.

Mantan Penasihat Khusus Sekretaris Jenderal UNWTO, Anita Mendiratta, menilai bahwa penguatan pariwisata Indonesia–Arab Saudi tidak hanya bertumpu pada ekonomi, tetapi juga pada apa yang ia sebut sebagai diplomasi spiritual.

Menurut Anita, kesamaan identitas budaya dan nilai keagamaan memberi posisi unik bagi kedua negara untuk membangun kerja sama pariwisata, investasi, hingga pertukaran budaya.

“Sebagai masyarakat Muslim, Indonesia dan Arab Saudi memiliki dasar hubungan yang tidak hanya bersifat finansial, tetapi juga spiritual. Ini menjadi landasan penting untuk kemitraan yang lebih bermakna,” kata Anita, dalam keterangannya, Jumat (14/11/2025).

Dengan lebih dari 240 ribu jamaah Indonesia melakukan perjalanan Umrah setiap tahun, interaksi masyarakat kedua negara berkembang cepat. Mobilitas ini tidak hanya menciptakan pengalaman ibadah, tetapi juga membuka “jalur wisata dua arah”.

Wisatawan Indonesia kini semakin akrab dengan destinasi di Saudi, sementara ketertarikan warga Saudi terhadap budaya dan alam Nusantara turut meningkat.

Baca Juga: Diiringi Upacara Kenegaraan, Prabowo Sambut Raja Abdullah II di Istana Negara

Arab Saudi menjadi salah satu negara dengan pemulihan pariwisata tercepat di dunia. Menurut UNWTO, kedatangan wisatawan internasional ke Saudi mencapai 102% di atas tingkat 2019,—tertinggi secara global.

Anita menegaskan, yang membuat Saudi menonjol bukan sekadar peningkatan jumlah turis, melainkan fokus pada kualitas dampak.

“Yang dilihat bukan hanya berapa banyak yang datang, tetapi nilai ekonomi, persebaran kunjungan, tingkat kunjungan ulang, dan keberlanjutan sepanjang tahun. Saudi menjadi studi kasus global mengenai bagaimana destinasi harus berkembang, bukan hanya bertambah angka,” jelasnya.

Mega-proyek seperti AlUla, Diriyah, The Red Sea Project, hingga Qiddiya menjadi percontohan bagaimana Saudi membangun pariwisata modern tanpa meninggalkan masyarakat lokal.

Anita mencontohkan AlUla, yang dihuni 60–70 ribu penduduk.

“Kekuatan AlUla bukan hanya pada fisiknya, tetapi pada masyarakat yang dilibatkan sejak awal. Pengembangan dilakukan melalui dialog dan kolaborasi dengan komunitas,” katanya.

Pendekatan ini, menurutnya, relevan bagi Indonesia yang juga memiliki banyak destinasi kaya budaya.

MoU pariwisata terbaru Indonesia–Saudi menetapkan investasi sebagai agenda prioritas. Anita melihat peluang paling menarik berada pada sektor yang memiliki nilai unik secara kultural dan spiritual.

“Ekowisata penting, tetapi Indonesia memiliki kekhasan dalam wisata spiritual dan budaya. Di sinilah Indonesia dapat menjadi mitra sejati bagi Saudi, tidak hanya lewat investasi finansial, tetapi juga nilai,” ujarnya.

Transformasi digital dipandang sebagai penghubung utama yang akan memperkuat hubungan pariwisata kedua negara.

Baca Juga: Pria Bersenjata Tewas Ditembak Polisi Usai Ancam Lakukan Penembakan di Rumah Sakit New York

Teknologi memungkinkan calon jamaah dan wisatawan Indonesia merasakan pengalaman awal destinasi Saudi bahkan sebelum berangkat.

“Digitalisasi membuat perjalanan menjadi lebih mudah, aman, dan personal. Masyarakat Indonesia bisa mendapatkan informasi lengkap secara daring dan merasa nyaman ketika tiba di Arab Saudi,” kata Anita.

Di sisi lain, digitalisasi juga akan mendorong pertukaran budaya dan pariwisata yang lebih intensif di masa depan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.