Diserang Isu Anti-Islam Bertahun-tahun, Begini Cara Dedi Mulyadi Menjawabnya

AKURAT.CO Tuduhan “anti-Islam” telah membayangi perjalanan politik Dedi Mulyadi sejak ia menjabat sebagai Bupati Purwakarta.
Kebijakan yang dianggap lebih menonjolkan budaya Sunda dan sejumlah langkah kontroversial membuat isu ini terus melekat bahkan setelah ia menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat.
Isu itu kembali mencuat ketika Dedi meresmikan perubahan nama Rumah Sakit Al-Ihsan di Baleendah, Bandung, menjadi RSUD Welas Asih.
Bagi sebagian pihak, perubahan tersebut dianggap sebagai bentuk penghapusan identitas Islami. Namun, Dedi punya penjelasan yang berbeda.
“Al-Ihsan artinya kebaikan, sedangkan Welas Asih dalam bahasa Arab berarti ar-Rahman ar-Rahim. Dua-duanya indah dan spiritual,” kata Dedi Mulyadi.
Baca Juga: Apa itu Film Animasi Merah Putih One For All? Disebut Kontroversi!
Menurutnya, pergantian nama dilakukan untuk mengangkat kearifan lokal budaya Sunda, sekaligus membuat citra rumah sakit terasa lebih dekat dengan masyarakat. Namun langkah itu justru menimbulkan gelombang kritik baru.
Selain soal nama rumah sakit, tuduhan anti-Islam juga dikaitkan dengan kebijakannya yang memangkas alokasi dana hibah. Kritik ini tak jarang dibumbui pertanyaan mengenai komitmen keislaman Dedi. Ia memilih merespons dengan cara yang tidak langsung, melainkan lewat pembahasan arah kebijakan anggaran.
“Kalau mau menilai keislaman saya, jangan dilihat dari tradisi spiritual saya. Lihat APBD yang saya susun. Kalau 80 persen untuk membangun jalan, sekolah, dan memberikan layanan kesehatan rakyat, itu justru melaksanakan nilai yang diajarkan Nabi Muhammad SAW,” tegasnya.
Dedi menambahkan, penyaluran dana hibah yang tak tepat sasaran justru mencederai nilai agama. Bagi dia, penggunaan anggaran harus berpihak pada rakyat secara nyata, bukan untuk kepentingan kelompok tertentu.
Kepada publik, Dedi menegaskan bahwa menjaga budaya Sunda tidak bertentangan dengan Islam. Sebaliknya, menurutnya, keduanya bisa berjalan beriringan. Ia mengaku pernah menjelaskan keyakinan pribadinya langsung kepada Ketua MUI saat masih menjadi Bupati Purwakarta.
Baca Juga: Cara Cek dan Besaran Bansos PKH serta BPNT Tahap 3 Tahun 2025
“Kalau yang saya lakukan hanya memberikan uang hibah untuk organisasi politik saya, maka saya berdosa. Di Provinsi pun saya memberlakukan itu,” pungkasnya.
Isu anti-Islam mungkin tak akan hilang begitu saja dari sosok Dedi Mulyadi. Namun, lewat kebijakan dan pernyataannya, ia tampaknya memilih menjawabnya bukan dengan pembelaan verbal semata, melainkan lewat catatan anggaran dan arah pembangunan yang ia anggap mencerminkan nilai-nilai yang ia yakini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 3UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 4Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 5Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 6KPK Tegaskan Tak Sita atau Terima Pengembalian Rp40 Juta dari PCNU Terkait Muktamar NU
- 7Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 8Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 9Auditor BPK Ungkap Enam Penyimpangan Yaqut Cholil Qoumas dalam Penetapan Kuota Haji Tambahan
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Summarecon









