Akurat

Dampak Penutupan Selat Hormuz Akan Dibahas dalam Jakarta Geopolitical Forum 2025

Paskalis Rubedanto | 23 Juni 2025, 22:41 WIB
Dampak Penutupan Selat Hormuz Akan Dibahas dalam Jakarta Geopolitical Forum 2025

AKURAT.CO Isu penutupan Selat Hormuz oleh Iran akan menjadi salah satu topik penting yang dibahas dalam Jakarta Geopolitical Forum (JGF) IX Tahun 2025. 

Forum ini dinilai relevan untuk merespons berbagai dinamika geopolitik global terkini, termasuk eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran stabilitas jalur perdagangan energi dunia.

"Ini pertanyaan yang juga saya kira sangat relevan, akan menjadi bahan pembahasan dan diskusi di dalam forum JGF ini," ujar Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI, Ace Hasan Syadzily, dalam konferensi pers pembukaan JGF 2025 di Jakarta, Senin (23/6/2025).

Baca Juga: Penutupan Selat Hormuz Bisa Guncang Rupiah dan Neraca Dagang

Ace menjelaskan, Selat Hormuz merupakan jalur logistik strategis global, khususnya dalam distribusi energi. Sekitar 30 persen dari total perdagangan minyak dunia melewati selat tersebut setiap harinya. 

Menurutnya, ketegangan di kawasan itu berdampak tidak hanya secara geopolitik, tetapi juga terhadap pasokan energi yang diterima negara-negara seperti Indonesia.

"Dan sejauh mana Indonesia selama ini juga mendapatkan pasokan perdagangan energi atau minyak tersebut, tentu nanti akan dibahas di dalam JGF besok," tambahnya.

Jakarta Geopolitical Forum merupakan forum tahunan yang digagas oleh Lemhannas RI sejak 2017 dan menghadirkan para pemikir, diplomat, akademisi, dan tokoh strategis dari berbagai negara untuk membahas isu-isu geopolitik dan geoekonomi global. 

Tahun 2025, JGF mengusung tema 'Navigating Global Tensions: Diplomacy, Security, and Energy in the Multipolar Era', yang mencerminkan fokus pada ketegangan dunia multipolar dan ancaman terhadap sistem perdagangan global, termasuk melalui jalur laut strategis seperti Selat Hormuz.

Forum yang akan digelar selama dua hari itu juga akan menghadirkan pembicara dari Asia Barat, Eropa, dan lembaga-lembaga multilateral, serta menyoroti peran Indonesia dalam menjaga stabilitas regional dan energi global.

Ketika parlemen Iran baru-baru ini mengancam akan menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan militer AS dan sikap diam komunitas internasional, pasar minyak global langsung bereaksi.

Baca Juga: Iran Ancam Tutup Selat Hormuz, DPR RI Minta Pemerintah Gerak Cepat Siapkan Alternatif

Penutupan selat ini, jika benar-benar terjadi, akan berdampak besar pada lonjakan harga energi, gangguan suplai global, serta meningkatkan ketegangan militer antara Iran dan Amerika Serikat. 

Bagi Indonesia, meskipun sebagian besar minyak impor berasal dari kawasan Asia Tenggara dan Australia, instabilitas di Selat Hormuz tetap akan berdampak melalui kenaikan harga minyak dunia dan tekanan terhadap APBN.

Ace Hasan menegaskan, JGF 2025 menjadi momen penting untuk mengkaji secara lebih dalam respons Indonesia terhadap perkembangan terbaru ini, sekaligus memperkuat posisi negara dalam arsitektur geopolitik dan keamanan energi global.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.