AHY Sayangkan Kebijakan AS Batasi Penerimaan Pelajar di Harvard, Banyak Harapan yang Kandas

AKURAT.CO Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menanggapi kebijakan Pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk membatasi penerimaan pelajar internasion ke Harvard University.
Ketua Umum Partai Demokrat itu menyayangkan dampak dari kebijakan tersebut terhadap generasi muda, khususnya putra-putri terbaik bangsa yang telah berjuang keras mendapatkan tempat di kampus-kampus ternama dunia.
"Ya, itu memang mengagetkan, mengejutkan, dan juga sangat disayangkan. Kalau ada mahasiswa generasi muda yang kemudian turut menjadi korban atas sesuatu yang tidak dalam kontrolnya," ujarnya kepada wartawan, saat ditemui di Kantor DPP Partai Demokrat, Jakarta, Rabu (4/6/2025).
Baca Juga: Drama Harvard vs Trump: Siapa yang Lindungi Mahasiswa Internasional?
Menurutnya, banyak pelajar Indonesia yang sejak kecil bercita-cita masuk perguruan tinggi top dunia seperti Harvard. Namun, karena kebijakan politis tertentu, harapan mereka bisa kandas meski telah lulus seleksi ketat.
"Ternyata ada kebijakan-kebijakan yang kemudian membuat mereka tidak bisa menggapai cita-citanya. Dan bukan hanya itu, bukan orang per orang, tetapi bisa dipastikan mereka-mereka tersebut adalah putra-putri terbaik bangsa juga," kata dia.
Dirinya telah mengikuti perkembangan isu ini dan mengapresiasi langkah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) yang tengah mencari solusi alternatif.
"Saya bertemu juga dengan Kementerian Diktekristi, saya tahu bahwa mereka sedang berusaha juga untuk bisa mencari jalan yang lain," ungkapnya.
Sebagai mantan perwira dan tokoh muda politik, AHY juga menyatakan telah menjalin komunikasi dengan sejumlah duta besar negara sahabat untuk membuka peluang kolaborasi baru di bidang pendidikan. Dia menilai, saat satu pintu tertutup, Indonesia harus sigap membuka pintu lainnya di berbagai belahan dunia.
"Justru mungkin ketika ada kebijakan seperti itu di Amerika Serikat, ada peluang di tempat lainnya. Baik itu di kawasan kita sendiri di Asia, kawasan Pasifik seperti Australia, Eropa, Kanada, dan sebagainya. Jadi artinya, tidak harus hanya satu tujuan. Ketika ada masalah di situ, kita harus membuka peluang-peluang kerja sama yang baru," ujarnya.
AHY menegaskan, Partai Demokrat akan mendukung penuh upaya pemerintah dan masyarakat dalam memperluas akses pendidikan global bagi generasi muda Indonesia. "Kita tidak boleh berhenti dengan masalah. Kita harus mencari opportunity yang lainnya," tutupnya.
Kebijakan pembatasan penerimaan mahasiswa internasional di Harvard University, sebelumnya kembali menjadi sorotan setelah muncul laporan bahwa sejumlah pelajar asing, termasuk dari Indonesia, mengalami kesulitan akses atau pembatalan beasiswa.
Baca Juga: Isu Antisemitisme Harvard Jadi Alat Tekanan Politik Pemerintahan Trump
Isu ini mencuat setelah adanya wacana revisi atau pengetatan kebijakan visa pelajar oleh pemerintahan Presiden AS Donald Trump yang kini kembali aktif dalam dunia politik menjelang Pilpres AS 2024.
Kebijakan serupa pernah diterapkan Trump pada masa jabatannya antara 2017–2021, di mana visa pelajar asing, terutama dari negara-negara berkembang, diperketat dengan dalih kepentingan nasional dan keamanan dalam negeri.
Salah satu kampus yang terdampak kala itu adalah Harvard University, yang banyak menampung pelajar internasional dari berbagai negara, termasuk Indonesia. Langkah ini menuai kritik dari berbagai pihak karena dinilai diskriminatif dan merugikan dunia pendidikan global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









