DPR: Reformasi Kebijakan Penyiaran Nasional Itu Keniscayaan

AKURAT.CO Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Ahmad Heryawan, menyoroti berbagai persoalan strategis yang menghambat kemajuan sektor penyiaran Indonesia.
Ia menegaskan, lemahnya pengawasan kepemilikan media, ketimpangan perizinan Lembaga Penyiaran Swasta (LPS), serta belum optimalnya peran Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menjadi tantangan utama yang perlu segera dibenahi.
"Selain itu, potensi terhambatnya digitalisasi penyiaran juga perlu diantisipasi dengan kebijakan afirmatif dan percepatan pembangunan infrastruktur," ujar Heryawan dalam rapat di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (5/5/2025).
Menurutnya, penyiaran bukan sekadar soal teknis siaran, melainkan menyangkut identitas nasional, kedaulatan informasi, dan literasi publik. Karena itu, ia menyerukan perlunya reformasi menyeluruh terhadap sistem penyiaran nasional.
"Kita mendorong adanya audit dan perombakan kebijakan penyiaran agar lebih adil, transparan, serta sesuai dengan amanat Undang-Undang Penyiaran," tegasnya.
Heryawan menjelaskan, Panitia Kerja (Panja) Penyiaran DPR mencatat sejumlah masalah krusial, di antaranya distribusi izin siaran yang timpang antar daerah, indikasi konglomerasi media yang mengancam keragaman isi siaran, serta minimnya dukungan bagi Lembaga Penyiaran Publik dan Lembaga Penyiaran Komunitas.
Baca Juga: Menko PMK: Perbaikan Gizi adalah Kunci Daya Saing Bangsa
Lebih jauh, ia menyoroti pentingnya perlindungan terhadap anak-anak dan kelompok rentan dari konten siaran yang tidak layak, serta kebutuhan mendesak untuk memperbarui regulasi agar mampu merespons perkembangan konvergensi media digital.
"Ruang siaran harus diisi oleh konten yang mencerahkan, memperkuat persatuan nasional, dan tidak hanya dikuasai kepentingan pasar," ungkapnya.
Heryawan menegaskan, reformasi penyiaran adalah keniscayaan.
Komisi I DPR siap menggandeng semua pemangku kepentingan—mulai dari komunitas penyiaran, akademisi, hingga masyarakat sipil—untuk merumuskan rekomendasi kebijakan strategis demi mewujudkan keadilan sosial dan menjaga kedaulatan informasi bangsa.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 3Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 44 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 5Viking Sebut Terduga Pembunuh ARK Bukan Pendukung Persija, Terindikasi Kelompok Suporter Klub Lain
- 6Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 7Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 8Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai








