Program Makan Bergizi Gratis Butuh Perbaikan Tata Kelola dan Fokus ke Daerah Terpencil

AKURAT.CO Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sudah berjalan selama empat bulan terus menuai sorotan publik.
Sejumlah kontroversi muncul, mulai dari kasus dugaan keracunan siswa setelah menyantap menu MBG hingga persoalan pembayaran dapur yang belum terselesaikan.
Direktur Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan, menilai, program ini perlu segera dibenahi melalui perbaikan bertahap dan penguatan tata kelola.
Ia menekankan pentingnya peningkatan kualitas program dan pengawasan ketat di semua lini, termasuk penerapan sistem pembayaran digital untuk mitra.
"Pemilihan mitra harus selektif, yang memang mampu mengelola sendiri tanpa menyerahkan lagi ke pihak ketiga," ujarnya.
Baca Juga: Kades Kohod Bebas Usai Penahanan Ditangguhkan, DPR Sayangkan Lemahnya Penegakan Hukum
Iwan menilai, kebutuhan bahan baku dalam program MBG, seperti beras, telur, dan daging ayam, sangat besar dan berkelanjutan.
Kondisi ini seharusnya menjadi peluang emas untuk memberdayakan UMKM lokal, petani, dan peternak.
"Sebisa mungkin mitra MBG diwajibkan membeli langsung dari produk petani dan peternak lokal. Ini akan mendorong perputaran ekonomi yang sehat di tingkat bawah," jelasnya.
Menjalankan program MBG membutuhkan dana yang tidak sedikit. Tahun ini, pemerintah memperkirakan kebutuhan anggaran mencapai Rp71 triliun.
Untuk itu, Iwan menyarankan agar pemerintah mencari skema pendanaan alternatif, termasuk membuka kerja sama dengan lembaga internasional seperti UNICEF, WFP, FAO, lembaga donor, atau NGO internasional di bidang pangan dan pendidikan.
"Pemerintah bisa mengupayakan bantuan keuangan atau teknis lewat kerja sama bilateral dan multilateral dengan berbagai negara atau organisasi internasional," tambahnya.
Baca Juga: Kementan Bangga Program YESS Jadi Inspirasi Negara Lain di Forum SSTC
Lebih lanjut, Iwan menegaskan bahwa program MBG harus menerapkan skala prioritas penerima manfaat.
Daerah-daerah yang masuk kategori sangat membutuhkan, seperti wilayah terpencil, terluar, dan daerah dengan pendapatan per kapita rendah, harus menjadi fokus utama.
"Bukan malah dimulai dari perkotaan. Banyak anak-anak di pedesaan yang bahkan ke sekolah tanpa sarapan. Mereka yang paling membutuhkan MBG ini," tegas Iwan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Soal Kabar Jokowi-Megawati Bakal Bertemu, Said Abdullah: Kartunya Mati, Jangan Dihidupkan Lagi
- 2Amanda Rigby Umur Berapa? Ini Profil, Pendidikan dan Kariernya
- 3ACL Two: FC Seoul Siapkan Pemain SMA Lawan Persib Bandung, Anggap Remeh?
- 4Sidang Korupsi Kuota Haji Ungkap Marwan Dasopang Mendorong Kuota Tambahan Tidak Seluruhnya untuk Jemaah Reguler
- 5Persija Terpaksa Jamu Java United di Bali, Terancam Pengurangan Poin Jika 4 Kali Musafir
- 6Prediksi Skor Sunderland vs AZ Alkmaar 17 September 2026: The Black Cats Bisa Tahan Tim Belanda?
- 7Prediksi Skor Juventus vs NEC Nijmegen 18 September 2026: Siapa yang Akan Menang?
- 8Kenapa Thailand Ingin Berantas Ikan Nila Hitam? Ini 5 Alasannya
- 9Prabowo Pimpin Sidang DEN di Istana, Instruksikan Persiapan E50 untuk Perkuat Kemandirian Energi
- 10Terungkap di Sidang Korupsi Kuota Haji: Anak Buah Bos Maktour Setor USD10 Ribu ke Pejabat Kemenag









