78 Siswa di Cianjur Keracunan Makanan MBG, BGN Soroti Pemakaian Wadah Plastik

AKURAT.CO Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengungkapkan kekhawatirannya terkait penggunaan wadah makanan berbahan plastik dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hal ini ia temukan saat melakukan inspeksi ke wilayah Cianjur, pasca-insiden yang melibatkan 78 siswa dari MAN 1 dan SMP PGRI 1 Cianjur, yang mengalami gejala keracunan seperti mual, muntah, dan diare setelah mengonsumsi makanan MBG.
Dia menyoroti, bahwa sebagian besar food tray yang digunakan di sekolah-sekolah tersebut masih terbuat dari plastik. Dia pun mendesak, agar penggunaan wadah makanan tersebut segera dihentikan dan diganti dengan bahan yang lebih aman.
Baca Juga: Ekonom: Program MBG Bentuk Redistribusi Ekonomi yang Produktif
"Setengah dari food tray masih menggunakan bahan plastik, ini harus segera diganti," ujar Dadan saat ditemui di Asrama Haji, Jakarta Timur, pada Kamis (24/4/2025).
Dia menduga kuat, bahwa penggunaan wadah plastik tersebut berkontribusi terhadap munculnya gejala keracunan yang dialami para siswa.
"Dari dua sekolah yang siswanya terdampak, food tray-nya sama-sama berbahan plastik. Maka dari itu kami minta untuk segera dilakukan penggantian," jelasnya.
Selain menyoroti bahan food tray, Dadan juga menekankan pentingnya perbaikan pada prosedur standar operasional (SOP), khususnya dalam alur keluar-masuk barang di dapur atau gudang penyedia makanan.
Dia meminta, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cianjur untuk menerapkan sistem alur yang terpisah antara barang masuk dan barang keluar demi menjamin kebersihan dan keamanan makanan.
Namun hingga saat ini, penyebab pasti keracunan massal di Cianjur belum dapat dipastikan. Hal ini disebabkan karena sisa makanan yang diduga menjadi sumber kontaminasi telah dibersihkan oleh pihak sekolah sebelum sempat diuji laboratorium.
Baca Juga: Sertifikasi Bahan Pangan Jamin Keamanan Program MBG
"Ini yang disayangkan. Kami tidak bisa ambil sampel karena sisa makanannya sudah dibuang," ungkapnya.
Menanggapi situasi ini, BGN menambahkan satu lagi poin penting dalam SOP baru mereka. Kini, sekolah-sekolah tidak diperkenankan membersihkan atau membuang sisa makanan secara mandiri.
Semua sisa makanan wajib dikirim ke SPPG, untuk diperiksa apabila terjadi kejadian luar biasa seperti keracunan.
Sebelumnya, program MBG tengah menjadi sorotan publik setelah beberapa insiden serupa terjadi di berbagai wilayah. Dalam beberapa pekan terakhir sejak program ini diluncurkan, telah terjadi sedikitnya tujuh kasus dugaan keracunan yang dikaitkan dengan program tersebut.
Menanggapi hal ini, Anggota Komisi IX DPR RI, Nurhadi, menyampaikan keprihatinannya. Dia menilai, bahwa berulangnya kasus keracunan menandakan ada masalah mendasar dalam pelaksanaan MBG.
"Ini sangat memprihatinkan. Padahal, tujuan utama program ini sangat mulia, yakni untuk memperbaiki gizi anak-anak sekolah dan mencegah stunting," ujar Nurhadi, Rabu (23/4/2025).
Baca Juga: DPR Soroti Pentingnya Pengolahan MBG dari Hulu ke Hilir Tanpa Celah
Sementara itu, anggota Komisi IX lainnya, Netty Prasetiyani, turut menyoroti persoalan yang mencuat dalam pengadaan dan distribusi MBG, termasuk dugaan penggelapan dana di wilayah Kalibata, Jakarta.
Dia mendesak, agar seluruh proses pengelolaan, mulai dari pengadaan bahan makanan, pengolahan, hingga distribusi, harus dilakukan secara menyeluruh dan transparan.
"Investigasi menyeluruh harus dilakukan agar kasus keracunan dan masalah lain bisa dicegah sejak dari hulu," tegas Netty melalui pernyataan tertulisnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









