Tetap Jalan Selama Ramadan, Paket Makanan MBG Dibawa Pulang oleh Siswa

AKURAT.CO Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, memastikan bahwa program makan bergizi gratis (MBG) tetap berjalan selama bulan Ramadan, dengan sejumlah penyesuaian dalam mekanisme pendistribusian makanan.
Dia menjelaskan, paket makanan MBG akan diberikan kepada anak-anak untuk dibawa pulang, sehingga dapat dikonsumsi saat berbuka bagi yang berpuasa.
"Jadi kalau sekolah masuk, maka program makan bergizi tetap dilaksanakan, tetapi mekanismenya berbeda seperti hari biasa di mana kita akan berikan makan bergizi itu untuk dibawa pulang. Jadi untuk yang puasa bisa dimakan saat buka, untuk yang tidak puasa bisa dimakan sembunyi di sekolah atau di rumah," ucap Dadan di Istana Merdeka, Jakarta, ditulis Selasa (25/2/2025).
Baca Juga: Program Makan Bergizi Gratis Kini Berjalan di 38 Provinsi, Layani 2 Juta Penerima Manfaat
Jenis makanan selama Ramadan juga akan disesuaikan agar lebih tahan lama seperti susu, telur rebus, kurma, kue kering, dan buah.
Dadan menyebut, pihaknya akan tetap memperhatikan komposisi gizi makanan yang mencakup protein, karbohidrat, dan serat.
"Mungkin juga sesekali ada bubur kacang hijau atau kolak. Yang jelas sumber komposisi gizinya tetap, di mana di situ ada protein, ada karbohidrat, dan ada serat," ucapnya.
Nantinya, makanan yang diberikan akan dikemas dengan bahan ramah lingkungan yang harus ditukarkan oleh anak-anak setiap harinya. Hal ini sekaligus memberikan edukasi kepada anak-anak, untuk disiplin dan mengurangi adanya sampah.
Baca Juga: Program Makan Bergizi Gratis untuk Ibu Hamil, Menyusui dan Balita Diyakini Dapat Mencegah Stunting
"Jadi ada uji coba di Sukabumi, di mana anak-anak diberi makanan yang dibawa dengan kantong ke rumah, kemudian besoknya kantongnya harus dibawa kembali, ditukar dengan kantongnya isi, sehingga tidak menimbulkan sampah, dan melatih juga anak-anak supaya disiplin bahwa kantong itu bisa ditukar setiap hari," jelasnya.
Program ini akan berlangsung hingga menjelang Idul Fitri l, dengan evaluasi rutin untuk memastikan efektivitasnya. Evaluasi akan dilakukan, setelah satu minggu berjalan guna menentukan mekanisme yang tepat untuk pendistribusian makanan bagi seluruh anak Indonesia.
"Memang ada usulan kalau yang di daerah non-muslim tetap masak seperti biasa, tapi kan tetap ada yang puasa ya, jadi kita akan samakan. Nanti kita akan evaluasi setelah berjalan satu minggu apakah di daerah yang non-muslim sama seperti yang pada umumnya, atau diberikan treatmentbkhusus," ungkapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









